foto @kumparan
Redaksi MJS

Kesultanan Buton terletak di sebalah tenggara Sulawesi. Agama Islam masuk ke Buton pada abad ke-16 setelah raja yang ke-6, Timbang Timbangan atau Halu Oleo, memeluk Islam. Setelah Halu Oleo masuk Islam, ia dilantik menjadi sultan oleh Syekh Abdul Wahid pada 1538 M. Pelantikan ini merupakan awal pengislaman Kerajaan Buton. Selain bergelar sultan, Halu Oelo dijuluki ulu al-amr (penguasa) dan qaim ad-din (penegak agama). Buton memiliki posisi strategis dalam jalur pelayaran dari Jawa dan Makassar menuju ke Kepulauan Maluku, yang pada masa itu terkenal sebagai pusat produksi rempah-rempah.

Tokoh terkenal yang membawa Islam ke Buton adalah Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sualiman al-Patani. Ketika ia singgah di Pulau Batu Atas, dekat Pulau Buton, untuk kembali ke Johor bersama istrinya, ia bertemu dengan Imam Pasai yang mengajaknya ke Kerajaan Buton. Melalui dakwahnya di sana, ia berhasil mengislamkan Raja Buton ke-6 dan diikuti oleh rakyatnya. Samapi sekarang masyarakat masih menghormati syekh tersebut.

Undang-undang Kesultanan Buton didasarkan pada ajaran Islam yang tertuang dalam kitab Martabat Tujuh. Kitab ini disusun Sultan La Elangi pada permulaan abad ke-17. Ajaran Martabat Tujuh lalu diterapkan pula dalam undang-undang berikutnya, yakni kitab Sarana Wolio yang disusun Sultan Muhammad Idrus (1824 M-1851 M). Kesultanan Buton merupakan mata rantai penyebaran Islam dan tasawuf yang saat itu berkembang pesat di Nusantara, karena ajaran Martabat Tujuh juga sudah dikenal di Kerajaan Aceh sekitar seabad sebelumnya.

Sumber: Eksiklopedi Islam untuk Pelajar, 2 Bud-Idr (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002), hlm. 10.

Author: Redaksi MJS

ABOUT THE AUTHOR

Redaksi MJS

Menuju Masjid Membudayakan Sujud


COMMENTS