Kabarnya, bagi banyak orang tua, prestasi anak adalah sebuah kebanggaan dan pencapaian yang rasanya jauh melebihi kebanggaan dan prestasi yang mereka raih sendiri.

Prestasi yang diraih anak adalah pencapaian yang lebih membanggakan, karena pencapaian itu dimaknai sebagai ukuran keberhasilan orang tua yang sukses membentuk anaknya menjadi sosok berprestasi. Prestasi anak adalah penanda bagi kegemilangan masa depan.

Namun saat kecil dulu, aku mengalami situasi yang berbeda. Dulu, zaman masih sekolah, beberapa kali aku juga pernah mendapat prestasi ‘kecil-kecilan’, seperti rangking satu dan juara cerdas-cermat saat SD, juara pidato saat Tsanawiyah, juga juara membuat slogan kesehatan waktu Aliyah.

Merespon raihan prestasi tersebut, meskipun memang hanya prestasi kecil saja, aku tidak merasakan tanggapan orang tuaku yang berbinar bangga dan gembira atau melonjak kegirangan. Menurut tanggapanku saat itu, capaian-capaian yang kuraih itu bagi mereka tampaknya biasa saja.

Masih jelas kuingat satu kalimat yang selalu saja diucapkan Bapak setiap kali aku menyampaikan bahwa aku juara ini atau meraih prestasi itu. Dengan intonasi datar dan santai, khas Jawa Timur, beliau akan berkata, “Terus lapo?”. Kalau di-translate dengan gaya Jogja mungkin kalimat itu menjadi “Terus ngopo?”, atau dalam bahasa Betawinya “Terus ngapain?”, dan dalam bahasa Indonesia menjadi, “Terus mau apa?” atau “Lantas mau apa?”.

Kalau ibuku, biasanya akan menanggapi dulu, “Iya, Le, Alhamdulillah”. Kemudian aku bertanya, “Alhamdulillah tok bu?”. Lalu ibu juga menjawab singkat, “Lha iyo to Le, terus lapo?”.

Podo ae Buk karo Bapak…” (Sama saja Bu dengan Bapak…).

Saat itu, betapa aku jengkel luar biasa. Padahal anak tetangga yang sekadar rangking satu di kelasnya saja begitu dirayakan oleh orang tuanya, sampai membawa tumpeng ke sekolah untuk dimakan bersama guru dan teman-temannya, sebagai ungkapan rasa syukur. 

Frasa “Terus lapo?” itu selalu saja membayang-bayangi capaian-capaianku sejak masa-masa sekolah, bahkan hingga saat ini. Saat suatu ketika mudik belum lama ini, dengan bangga kuceritakan bahwa di Jogja banyak teman yang mau berendah-hati mendengarkan kajian yang aku sampaikan. Kalimat sakti itu pun keluar kembali, “Terus lapo?”.

Di dunia pendidikan modern ada asumsi bahwa penghargaan dan pengakuan terhadap capaian yang diraih oleh anak akan secara positif membantunya berkembang dengan percaya diri.

Namun filosofi semacam ini tampaknya berbeda dengan prinsip yang dipegangi oleh Bapak, atau bisa juga dibaca jenis penghargaan yang diberikan oleh Bapak berbeda dengan orang lain. Bapak tampaknya memiliki filosofi dan pendekatan sendiri menghadapi raihan prestasi anak-anaknya.

Bapak menanggapi kesuksesan dan capaian anak-anaknya secara biasa saja, tanpa lonjakan kegembiraan dan tidak terang-terangan melontarkan pujian dan kebanggaan. Tentu saja filosofi dan pendekatan semacam ini memerlukan pembacaan situasi dan pemahaman pribadi-pribadi yang terlibat dengan tepat, sehingga harus ditambah catatan: “Syarat dan ketentuan berlaku”.

Balakangan aku paham, kalau dulu di setiap prestasi dan capaian yang aku raih Bapak menampakkan ekspresi kegirangan yang berlebihan, mungkin aku akan merasa bahwa versi diriku saat itulah yang terbaik dan bisa membahagiakan orang tua.

Rasa menemukan versi diri yang terbaik tersebut tentunya sedikit banyak akan menghalangiku untuk berkembang lebih baik lagi. Bisa jadi, karena aku sudah merasa puas dengan versi diri dan capaian saat itu, aku akan menganggap bahwa hanya dengan cara seperti itulah nantinya aku akan sukses menghadapi dan menjalani hidup. Padahal, betapa beragam dan luasnya kenyataan dan kemungkinan dalam hidup ini.

Tanggapan datar “Trus lapo” itu secara tak sadar membuatku selalu penasaran dan tertantang, sampai di titik prestasi apa atau jenis keberhasilan mana yang nantinya akan membuat orang tua lega dan merasa bahwa aku ‘sudah’ memenuhi harapan mereka. Rasa semacam ini bisa menjadi pendorong yang sangat kuat untuk tidak berhenti setelah mencapai prestasi tertentu, namun terus menggali dan mencari kemungkinan prestasi hidup yang lain yang bisa dicapai, dalam berbagai bidang.

Perlahan aku juga mulai bisa mengerti, kalau dulu Bapak menyambut semua prestasi dan juara yang kuraih dengan pujian-pujian yang membuat terlena, mungkin tertanam dalam kesadaranku bahwa kesuksesan hidup ini sama dengan kemenangan dan keunggulan atas yang lain. Tidak mustahil pada akhirnya terbentuk cara pandang ‘menang-kalah’, ‘pemenang-pecundang’, atau ‘superior-inferior’ dalam diriku untuk mengelola kehidupan. Akhirnya, hidup di mataku akan menjelma menjadi ‘medan perang’ dimana orang lain tidak lebih adalah musuh, saingan, atau tantangan untuk ditaklukkan demi kemenangan dan keunggulanku. Lalu lenyaplah kesadaran ‘saling dan sesama’, yaitu ‘sesama manusia’, ‘saling berbagi’, ‘saling mendukung’ dan ‘saling bekerja sama’.

Tanggapan “Terus lapo?” yang sering diucapkan Bapak, lama-lama melahirkan sebentuk visi dalam diri ini bahwa capaian dan prestasi yang kita raih dalam hidup ini hakikatnya tidak melulu bernilai nikmat dan anugerah, namun implisit dibaliknya ada amanat dan tanggung jawab.

Kalau kita sudah berprestasi, “Terus lapo?”, lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau juara satu, kira-kira amanah dan tanggung jawab apa yang kita pikul? Mau mbagusi dan sekadar memamerkan prestasi itu kepada orang lain saja? Mau menjadikannya modal untuk meraih keuntungan atau kemenangan dalam skala yang lebih besar? Ataukah mau menjadikannya bekal untuk menebar kemanfaatan kepada orang lain? Jadi, prestasi yang kita raih hakikatnya baru koma, belum titik.

Pertanyaan “Terus lapo?” kepada capaian dan prestasi yang kita raih dalam hidup juga akan menjadi rem untuk mengontrol dan mengekang kegembiraan dan kepuasan berlebihan yang pada akhirnya justru akan kontraproduktif.

Ledakan perasaan saat sukses tampaknya lebih mudah membuat seseorang terlena dan lebih sering membuat seseorang kehilangan kewaspadaan hidup. Pertanyaan “Terus lapo?” ini akan menjadi ‘penepuk punggung’ yang menyadarkan kita bahwa perjuangan belum berakhir, kehidupan belum selesai dan masih banyak hal lain perlu dikerjakan. Persis seperti petunjuk Al-Qur’an, “Faidza faraghta fansab” (Maka apabila engkau telah sesesai dari satu urusan, kerjakanlah urusan yang lainnya dengan sungguh-sungguh), jangan berhenti di capaian dan keberhasilanmu saat ini, segera bersiap untuk serius menjangkau capaian selanjutnya.

Pada puncaknya, tanggapan “Terus lapo?” akan dapat menggiring pada kesadaran akan hadirnya Allah sebagai yang sejatinya menakdir prestasi. Pernyataan “Terus lapo?” ini seakan mencegat kita untuk tidak berbangga ria, menepuk dada, merasa prestasi yang diraih adalah murni hasil upaya sendiri.

Kalau dilanjutkan, kata “Terus lapo?” atau “Terus mau apa?” ini dengan intonasi yang tepat akan menjelma menjadi “Terus mau apa? Mau pamer? Mau membanggakan diri? Mau menegaskan keunggulan atas yang lain? Mau diakui? Emangnya prestasi yang diraih itu hasil usahamu belaka?”.

Dalam kesempatan yang berbeda, dengan logika yang sederhana Bapak pernah berkata, “Orang yang selalu menang dan sukses itu biasanya emosi dan ketangguhan mentalnya kurang teruji untuk menghadapi kekalahan dan kegagalan”.

Aku menafsirkan kalimat Bapak itu sebagai kekhawatiran orang tua kalau anaknya kurang tangguh menghadapi kerasnya kehidupan. Mungkin beliau ingin anak kesayangannya tidak hanya siap menerima prestasi dan kesuksesan, namun juga mampu bertahan menghadapi kesulitan, kekalahan, dan kegagalan.

Kalimat Bapak ini mengingatkanku kepada cerita Daniel Goleman—penulis Emotional Intellegence yang sangat terkenal itutentang seorang siswa cerdas dan berprestasi bernama Jason. Ia bersekolah di Coral Spring High School, Florida. Dalam setiap mata pelajaran yang diikuti, Jason selalu memperoleh nilai A. Cita-citanya adalah masuk ke kampus bergengsi, Harvard University.

Sampai suatu ketika, David Pologruto, guru fisikanya, memberikan nilai B. Jason tidak siap dan tidak terima terhadap nilai dari gurunya ini. Ia menganggap nilai tersebut menghalangi keinginannya masuk Harvard dan merusak kesempurnaan prestasinya. Akhirnya Jason menusukkan pisau dapur ke perut gurunya itu.

Akhirnya, pada satu kesempatan khusus secara serius aku bertanya kepada Bapakku. “Pak, mengapa sejak dulu setiap saya cerita sudah meraih ini-itu, tanggapan Bapak selalu saja ‘Terus lapo?’ Maksud-e apa to Pak?”.

Dengan gaya beliau yang santai seperti biasa, Bapak menjawab, “Bapak itu cuma kuatir dan takut kalau kamu minta imbalan macem-macem Le. Bapak kan ndak banyak duit. Jadi kalau dilanjutkan, ‘Terus lapo?’ Mau nagih syukuran? Hadiah? Traktiran? Ngajak jalan-jalan? Untungnya terus kamu diam, jadi Bapak lega”.

Oalaah

Author: Fahruddin Faiz

ABOUT THE AUTHOR

Fahruddin Faiz

Pengampu Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS