Riwayat Gerak Nyai Khairiyah bagi Kaum Perempuan

slider
24 Januari 2022
|
396

Nyai Khairiyah adalah seorang muslimah yang progresif dari Jawa Timur. Ia lahir di sebuah pondok pesantren. Meski begitu, ia memiliki cita-cita yang besar untuk memajukan perempuan, khususnya di bidang pendidikan.

Memang pada masa itu, akses pendidikan bagi perempuan cukup sulit. Hal ini disebabkan oleh adanya stigma bahwa, perempuan tidak layak mengenyam pendidikan yang tinggi seperti sekarang ini. Perempuan hanya diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menjahit, dan melayani suaminya. Oleh karena itu, Nyai Khairiyah berupaya mendobraknya dengan memberikan akses pendidikan yang seluas-luasnya bagi perempuan.  

Nama Nyai Khairiyah mungkin tidak sepopuler perempuan  lainnya seperti RA Kartini (Jepara, Jawa Tengah), Rahmah El Yunusiah (Padang Panjang, Sumatera Barat), Rohana Kuddus (Kota Gadang, Sumatera Barat), dan Rasuna Said (Maninjau, Sumatera Barat). Pasalnya pemikiran yang dimunculkan Nyai Khairiyah hanya berada di lingkungan pesantren. Maka tidak mengherankan jika banyak orang tidak mengetahui kiprahnya.

Meski begitu, pemikirannya kemudian menjadi mercusuar bagi kaum perempuan, baik di lingkungan pesantren maupun para aktivis pada umumnya. Nyai Khairiyah sendiri saya rasa patut menjadi inspirasi bagi gerak perempuan di masa kini.  

Sketsa Hidup Nyai Khairiyah 

Nyai Khairiyah lahir di Tebuireng Jombang pada 1326 H/1908 M. Ia adalah putri kedua dari 10 bersaudara yang lahir dari pasangan KH Hasyim Asy`ari dan Nyai Nafiqah. Pengasuhannya di usia belia langsung berada di bawah kedua orang tuanya. Sejak usia 5 tahun, Nyai Khairiyah kecil mempelajari Al-Quran dan kitab-kitab Salaf (karya ulama klasik) seperti fikih, tafsir, tata bahasa, dan lain-lain.  

Meski tidak mengenyam pendidikan formal, semangat belajar Nyai Khairiyah tidak pernah surut. Ketika Kiai Hasyim mengajar buku kepada murid laki-laki di rumahnya, Nyai Khairiyah selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan meski dalam ruangan bertembok. Ketika  kesulitan memahami pelajaran, ia tidak segan-segan bertanya langsung kepada ayahnya. Berkat tempaan ayah dan ibunya Nyai Khairiyah menjadi sosok yang alim dalam bidang keagamaan. Bahkan kesalehannya dikenal di kalangan santri Kiai Hasyim saat itu. 

Pada usia 13 tahun, Nyai Khairiyah mengadakan akad nikah dengan santri kesayangan Kiai Hasyim Asyari yaitu, Maksum Ali dari keluarga Pesantren Maskumambang Gresik. Meski sudah berkeluarga, semangat belajar Nyai Khairiyah tak pernah surut.

Pada tahun 1921, Kiai Maksum Ali dan Nyai Khairiyah membuka Pondok Pesantren Seblak, yang letaknya  tidak jauh dari Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Kemudian pada tahun 1933, Kiai Maksum Ali meninggal karena penyakit paru-paru. Artinya kepemimpinan pondok pesantren di Seblak diberikan kepada Nyai Khairiyah dan berlangsung sampai tahun 1938.  

Nyai Khairiyah kemudian menikah lagi dengan Kiai Muhaimin. Setelah menikah, Kiai Muhaimin dan Nyai Khairiyah pergi haji dan memutuskan untuk tinggal  di tempat suci Mekah selama 10 tahun. Ada yang bilang sampai 20 tahun. Di sini, ia melanjutkan studinya dengan  ulama Makkah termasuk Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani, seorang ulama hadits terkemuka yang lahir di Padang Sumatera Barat.  

Advokat Pendidikan Perempuan

Nyai Khairiyah adalah salah satu ulama yang telah memperjuangkan pendidikan perempuan. Selama di Makkah, kecintaannya pada pendidikan wanita tumbuh. Pasalnya keadaan masyarakat Arab saat itu sangat mengkhawatirkan. Kegiatan perempuan hanya terfokus pada sektor keluarga seperti selimut (memenuhi kewajiban perkawinan), memasak, dan mencuci pakaian.  

Meskipun Nyai Khairiyah bukan keturunan Makkah ia berbicara dengan lantang dan jelas tentang hak perempuan (Arab) untuk menikmati pendidikan seperti laki-laki. Menurutnya jika mereka terdidik, kehidupan perempuan akan lebih baik. Pada tahun 1942 ia berhasil mendirikan Madrasah Lil Banat, sekolah perempuan pertama di Makkah. Madrasah ini merupakan bukti nyata gerakan Nyai Khairiyah.  

Namun madrasah yang diprakarsai oleh Nyai Khairiyah bukannya ditolak oleh pemerintah Arab, malah sebaliknya, mulai bermunculan madrasah-madrasah lain.

Setelah Kiai Muhaimin wafat pada tahun 1956, Nyai Khairiyah kembali ke tanah air. Sepulang dari Mekah, Nyai Khairiyah kembali menjadi direktur pondok pesantren di Seblak. Di bawah kepemimpinannya, pesantren ini berkembang cukup pesat. Ia juga membuka lembaga pendidikan untuk anak perempuan.

Selain itu sistem pendidikan telah ditambahkan. Yang semula sistem non-klasik tradisional (sorogan dan bandongan), kini dilengkapi dengan sistem pendidikan kelas umum untuk memperoleh pengetahuan.

Nyai Khairiyah juga mendirikan perpustakaan  untuk memberantas buta huruf bagi siswa. Dan ini merupakan perpustakaan pertama di lingkungan pesantren. Menurut Nyai Khairiyah, membaca itu urgen. Selain mencari ilmu untuk menunaikan kewajiban, ilmu juga menjadi titik awal untuk meraih kehidupan yang lebih baik, khususnya bagi kaum perempuan. Di perpustakaan ini, Nyai Khairiyah juga mengajarkan membaca huruf latin kepada siswa dan masyarakat umum.  

Menariknya sebagai seorang ulama yang memperjuangkan hak pendidikan perempuan, ia menolak untuk mengajar kitab Uqud al-Lujjayn karya Syekh Nawawi Banten. Hal ini karena, isi buku ini membahas tentang hubungan suami istri serta hak dan kewajiban perempuan yang menurut Nyai Khairiyah, mengandung hubungan yang diskriminatif dan sarat dengan pandangan yang sering memandang rendah perempuan.

Ini adalah riwayat Nyai Khairiyah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Meski lahir di  pesantren, semangat juang Nyai Khairiyah untuk pendidikan perempuan  tidak pernah goyah. Baginya hanya melalui pendidikan seorang perempuan dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang  berguna bagi dirinya dan lingkungan sekitar. Nyai Khairiyah wafat di Rumah Sakit Jombang, tepatnya pada hari Sabtu, 2 Juli 1983 (21 Ramadhan 1404 H). Demikian


Category : keislaman

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Fadhel Fikri

Co-Founder Sophia Institute