Ibu Bumi dalam bahaya!

Teriakan di atas berkumandang saat bumi (alam), yang dalam sastra disebut-sebut sebagai ibu, telah dieksploitasi sedemikian rupa oleh manusia. Dari pembangunan gedung pencakar langit tak ramah lingkungan, pengundulan hutan secara masif dan arogan, reklamasi perairan secara terang-terangan, hingga yang sangat dekat dengan lingkungan sekitar kita seperti permasalahan sampah yang terus menumpuk dan sulit dipecahkan.

Kecenderungan faktor manusia untuk mengeksploitasi alam, salah satunya adalah orientasi yang selalu menganggap diri manusia sebagai subjek dan menganggap alam sebagai objek.

Logika tersebut menempatkan manusia seolah-olah berhak dan bebas melakukan apa pun terhadap alam, tanpa mempertimbangkan efek lanjut ataupun tanpa memikirkan generasi berikutnya.

Padahal jika ingin dikaji lebih jauh lagi, alam dan manusia memiliki hubungan yang tak bisa dipisahkan. Ibarat manusia sebagai anak, sedangkan alam adalah ibu. Karena dalam setiap laku kehidupan, manusia mengantungkan dirinya kepada alam. Pun agar alam dapat bisa dimanfaatkan, manusia harus terus melestarikannya.

Usaha manusia untuk melestarikan alam di era dewasa ini kita menyebutnya dengan nama eco-literacy. Menurut fisikawan dan filsuf Fritjof Capra, eco-literacy adalah keadaan ketika manusia sudah paham dan sadar tentang pentingnya menjaga dan merawat lingkungan hidup sebagai habitatnya demi keberlangsungan hidup.

Walaupun tidak bisa terelakan, hanya sedikit manusia yang sudah memiliki kemampuan terkait ecoliteracy. Banyak manusia yang memang sudah paham dan memiliki pengetahuan untuk mengelola lingkungan, tetapi hanya sedikit yang sadar untuk mengimplementasikannya. Padahal antara paham dan sadar, keduanya harus selalu beriringan.

Nah, jika dikaitkan dengan pandemi yang sampai kini belum selesai, besar kemungkinan wabah tersebut merupakan akibat dari minimnya budaya ecoliteracy manusia.

Pun sudah seharusnya kita sebagai manusia selalu merenungi serta berkontemplasi ihwal apa saja yang telah dilakukannya kepada alam, sehingga menyebabkan manusia harus mengurangi berbagai aktivitas di kala pandemi.

Namun, terlepas dari pandemi ini, saya malah memiliki pengalaman tersendiri perihal minimnya kesadaran budaya ecoliteracy. Kebetulan beberapa bulan yang lalu, saya bersama satu teman didelegasikan ke salah satu balai desa yang ada di Kabupaten Temanggung untuk mengikuti pelatihan perihal masalah sampah.

Singkat cerita, setelah pemaparan materi cara mengelola sampah selama kurang lebih dua jam, di akhir sesi, pemateri dan para hadirin menyerukan jargon: Lihat sampah, Pilah, Ambil, Buang!. Namun ironisnya, sampah yang mereka hasilkan melalui snack acara tersebut malah dibiarkan begitu saja di meja balai desa tanpa membuangnya ke tempat sampah.

Fenomena semacam itu tidak hanya terjadi di balai desa yang ada di Kabupaten Temanggung. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak di antara orang-orang dari berbagai kalangan hanya sibuk meneorikan praktik, tanpa mempraktikan teori.

Pun kita ketahui bersama jika sampah menumpuk, efek yang ditimbulkan darinya cukup beragam. Bahkan sejak di bangku sekolah dasar, kita diberi himbauan agar membuang sampah pada tempatnya, karena  jika sampah di buang sembarangan, akan menyebabkan banjir, tanah longsor dan bencana lainnya. Namun, himbauan tersebut seolah-olah hanya masuk telinga kanan kemudian keluar di telinga kiri. Alhasil sampah begitu berserakan di berbagai tempat.

Alih-alih jika kita mengamati berita perihal menumpuknya sampah di Indonesia, berbagai daerah yang dijadikan sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA), hampir secara keseluruhan sudah mencapai batas maksimum. Bahkan, sebelum tenggang waktu yang awalnya telah diekspektasikan.

Faktor penyebab yang mendasari penumpukan sampah yang bergitu masif adalah maraknya budaya konsumtif dan ingin serba praktis yang dilakukan oleh sebagian besar dari kita. Selain itu, banyak orang yang punya kecenderungan membeli daripada memperbaiki.

Jika kita peka dan mengamati fenomena di sekeliling kita, banyak sekali kegiatan orang-orang yang cenderung menghasilkan berbagai sampah. Sebagai contoh kecil, kian masif minuman air kemasan yang digunakan sewaktu rapat atau kegiatan lainnya, dan juga pemakaian air botol kemasan yang acap kali dibeli anak kos.

Padahal pemakaian air kemasan justru relatif mahal jika dibandingkan dengan air minum yang dibuat dengan sedikit mengeluarkan tenaga, seperti menyediakan air minum di dalam gelas untuk keperluan rapat, dan penggunaan air galon untuk anak kos.

Memang ketika membicarakan sampah (khususnya non-organik), terdapat dilema yang selalu menyelimuti. Pasalnya jika sampah dibakar akan menyebabkan polusi udara, tetapi ketika dikubur dapat menimbulkan pencemaran tanah, dan saat dibiarkan begitu saja akan sulit (tidak bisa) untuk terurai.

Saya pernah berandai-andai semisal ada teknologi berupa mesin atau apa pun yang dapat memakan, niscaya sampah tidak akan lagi menjadi problematika. Ternyata pengandaian saya tersebut justru keliru.

Karena alam yang ditempati manusia merupakan semacam siklus rantai makanan, dan berbagai jenis sampah harus dimanfaatkan seoptimal mungkin guna proses keberlangsungan hidup manusia yang menyandarkan hidup pada alam. Semisal ada salah satu variabel dari siklus makanan yang hilang atau punah, besar kemungkinan akan mengakibatkan kekacauan pada keseluruhan siklus yang ada.

Sejauh ini yang dapat kita lakukan guna menjaga kelestarian alam melalui permanfaatan sampah adalah dengan bergiat mendaur ulang. Memilah dan memilih antara sampah organik, non-organik, dan juga B3 (bahan yang berbahaya dan beracun).

Sampah organik relatif mudah diolah menjadi pupuk. Sedangkan untuk non-organik bisa dijual di tempat rongsokan, walaupun tidak bisa dipungkiri penjualan sampah non-organik cenderung relatif murah, seharga Rp2000-5000/kg sehingga tidak sebanding dengan usaha mengumpulkannya.

Oleh karena itu, kita harus sekreatif mungkin mengolah sampah non-organik menjadi barang yang laku dijual. Sedangkan untuk jenis sampah B3 adalah dengan menyerahkan ke badan hukum tertentu.

Namun, yang menjadi persoalan dewasa ini adalah kemalasan kita untuk mendaur ulang ketiga jenis sampah tersebut. Oleh karenanya, diperlukan juga bantuan dari berbagai media untuk selalu mempropaganda terkait pemanfaatan sampah. Karena sangat disayangkan jika media hanya sibuk memberitakan hal-hal yang sifatnya temporer, seperti penceraian artis, aksi unjuk rasa, dan sederet berita lainnya yang sifatnya nirguna.

Pun ketika media secara masif dapat mengubah opini publik untuk mendaur ulang sampah, diiringi dengan pola sikap masyarakat, tidak menutup kemungkinan masyarakat akan terbiasa untuk selalu memanfaatkan sampah.

Author: Khoirul Atfifudin

ABOUT THE AUTHOR

Khoirul Atfifudin

Peserta Kelas Menulis Minggu menemui senja di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta jilid 5


COMMENTS