Menjadi Petani

slider
12 September 2022
|
563

Sejak saya kecil, tiap masa tanam di sawah, kami mesti disibukkan dengan kerjaan yang lebih banyak dari biasanya. Itu karena, bapak saya merupakan petani yang agak risih bila melihat anaknya tidur rebahan saat waktu luang. Mulai dari membawa sarapan pagi, memacul tanah, menguluri benih tanaman, sampai nanti setelahnya memberi pupuk dan membersihkan hama.

Hanya saja pada masa-masa selanjutnya, saat saya dan kakak menginjak dewasa yang disibukkan dengan aktivitas masing-masing, bapak memilih untuk mempekerjakan tetangga dekat. Mereka menunaikan kerja yang sama, dari satu masa tanam ke masa tanam berikutnya.

Tepat dua tahun yang lalu, bapak tidak hadir di sawah. Aktivitasnya itu mesti dihentikan lantaran asam lambungnya naik. Setiap hari tubuhnya dihabiskan dengan berjalan dari dan ke dapur, kamar mandi, serta kamar tidur. Satu-satunya pengalih perhatian dari rasa sakitnya itu hanya televisi dengan tontonan wayang. Tapi naas, wayang tidak pernah ada saat televisi dinyalakan di waktu siang.

Di situ raut wajah emak tampak kepayahan. Ia tiap hari mesti bolak-balik dari rumah ke sawah. Emak menggantikan peran bapak di sawah sekaligus menjadi ibu bagi kami di rumah sepulang sekolah.

Di masa kini barangkali emak sudah dimasukkan sebagai pejuang perempuan yang tidak teridentifikasi. Alhasil kata emak, “Ya wis le, egak panen.” Bagi emak, tidak panen itu sama dengan tidak untung ketika padi terjual.

Kalkulasi mudahnya bagi petani seperti bapak dan emak, tidak panen berarti biaya produksi yang dikeluarkan saat masa tanam jauh lebih besar dibanding harga jualnya.

Saya lantas nyeletuk yang oleh bapak memang tidak akan pernah dimufakati. Dengan mempertimbangkan kesibukan saya dan kakak, mengingat lagi emak yang usianya semakin menanjak, ditambah dengan bapak yang kerap capek sampai jatuh sakit, saya kira saran saya yang paling masuk akal.

Kira-kira begini, “Mak, pak, sawahnya disewain aja ke tetangga lain yang siap mengurusi. Kita ngambil sedikit saja. Kalau garap sawahnya sedikit, tenaga yang dibutuhkan untuk mengurusi sawah tidak terlalu banyak”.

Di desa saya memang lazim sewa-menyewa semacam itu. Ketika si pemilik tidak sanggup mengurusi, tetapi juga enggan untuk menjual, maka sistim sewa dipilih sebagai langkah yang aman.

Memang kesepakatan sewa sawah ini berbeda-beda. Setahu saya, ada yang menyewa dengan membayar di muka untuk beberapa tahun pengerjaan. Sistim sewa semacam ini barangkali umum ditemukan di sembarang tempat. Tetapi ada juga yang melakukan sistim sewa dengan memberi bagian dari hasil panen. Meskipun untuk sewa yang satu ini sudah jarang ditemui. Tetapi di desa saya beberapa masih ada yang memufakatinya karena, si penyewa tidak memiliki modal untuk membayar di muka.

Benar ternyata, bapak menolak saran saya mentah-mentah. Jawaban yang memang bisa diduga jauh sebelum saran itu saya utarakan. Tentu saja karena bapak sejak usia belianya sudah dikenalkan dengan sawah. Padi, jagung, kedelai, rumput liar, sungai yang mengalir, sampai hewan-hewan yang tumbuh berkembang di sawah sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Maka sulit bagi bapak untuk berjarak dengan sawah.

Karena itu, tangan bapak cukup terasah lincah untuk mengelola sawah. Memang ada banyak cara yang diturunkan kepada saya dan kakak dalam urusan mengelola sawah. Saya kecil pernah diajari untuk ndaut, semacam cara untuk mengambil padi yang sudah siap ditanam. Mulai dari cara duduk, tangan mana yang mesti jadi penahan dan pencabut. Kemudian membuat lubang untuk ditanami jagung dengan sebilah kayu, memanen, sampai bagaimana caranya supaya tanaman tidak dikerubungi banyak hama. Bapak mengajarkan semua.

Dadi wong iku kudu prigel”, kata bapak. Bapak mengajarkan itu bukan untuk mengkader anak-anaknya menjadi petani. Tetapi memberi pengalaman bahwa manusia itu mesti ubet, kalau istilahnya orang Jawa. Karena prigel selaras dengan kepemilikan keterampilan. Dan bapak hanya terampil bertani, maka bapak mengajarkan anak-anaknya cara bertani yang benar sesuai pengetahuannya. Maka menjadi petani dengan pergi ke sawah, oleh bapak didapuk sebagai definisi menjadi manusia yang terampil.

Belakangan setelah bapak sembuh dari asam lambungnya, kalimat bapak itu berkembang lebih jauh lagi. Saya tahu dari kesehariannya yang lebih banyak dihabiskan di sawah dengan mencari rumput pakan ternak, memupuk tanaman, sampai hanya sekadar duduk lantas ngobrol dengan sesama petani di gubuk tengah sawah.

Ya, petani tidak hanya sekadar kerja, tetapi juga hobinya bapak. Memang terdengar aneh dan lucu bagi pria yang usianya sudah setengah abad lebih, masih membicara-nunaikan hobinya. Namun di sisi inilah kita kerap luput lantas mengabaikannya begitu saja.

Sebagai anak, saya kerap merencanakan supaya bapak dan emak menyudahi kesibukkannya menjadi petani. Di usia senjanya, saya mengupayakan bagaimana agar mereka memperoleh tempat tinggal yang nyaman, bagaimana supaya mereka terpenuhi kesehatannya dengan makanan yang bergizi, dikunjungi oleh anak dan cucunya secara intens, bersantai menonton hiburan yang dikehendaki, dan hal-hal yang saya duga memberi kesenangan dan ketentraman bagi mereka. Saya luput tidak menyadari bahwa ada sisi-sisi kesenangan personal yang dibutuhkan oleh bapak, tak peduli berapa banyak usia yang telah dilaluinya.

Saya mengamati memang ada banyak orang di desa yang seusia bapak, yang masih rajin pergi ke sawah. Mereka berangkat membersamai anak-anak pergi ke sekolah. Entah apa yang ditunaikan ketika di sawah, sekalipun hanya duduk bersantai, mereka tetap pergi ke sawah.

Kumandang azan Zuhur jadi tanpa untuk pulang sebentar sekadar untuk terlelap sejenak, makan siang, dan menunaikan sembahyang sebagai muslim yang taat. Setelahnya pergi ke sawah sampai azan untuk sembahyang Asar saling bersaut-sautan dari langgar dan masjid. Aktivitas semacam ini rutin ditunaikan, kecuali memang ada halangan tertentu yang memungkinkan untuk tidak berangkat ke sawah.

Karena itulah, saya rasa memang lebih baik membebaskan bapak untuk menyalurkan hobi pekerjaan kesenangannya menjadi petani. Bila dimestikan menganggapnya sebagai bekerja, tidak jadi masalah. Bukan dalam rangka mengabaikannya atau sebaliknya, menyuruhnya untuk bekerja di sawah. Melainkan supaya bapak tetap merasa sumringah, ayem, dan tentrem.


Category : kebudayaan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa merangkap menjadi marbot di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta