Memesrahi Al-QurÔÇÖan, Kritik Al-Ghazali, dan Semangat Filosof Muslim

slider
Rizki Eka Kurniawan
08 Oktober 2020
|
14

Tidak ada seorang hamba yang bisa menyaksikan Robbnya, kecuali melalui balik pakaian beliau (Nabi Muhammad)—Ibnu Arabi

Baru beberapa minggu yang lalu, saya tak sengaja mengikut ngaji Ihya online yang diadakan oleh Ulil Abshar Abdalla di Facebook. Kebetulan waktu itu Gus Ulil tidak sekadar mengaji Ihya Ulumuddin tetapi juga al-Munqidh min al-Dal─ül. Di tengah-tengah sesi pengajian saya malah teringat dengan salah satu teman saya yang sangat mesra dengan Al-Qur’an. Setiap kali ia menuliskan sesuatu pastilah ada satu atau dua ayat Al-Qur’an yang terlampir dalam tulisannya. Apabila ia melihat suatu kejadian, fonomena di alam semesta, pastilah ayat-ayat Al-Qur’an akan lebih dulu terbesit dalam pikirannya. Lalu ia akan mentadaburinya dan menemukan hikmah-hikmah yang ada di dalamnya.

Suatu hari saya berkunjung ke rumahnya, karena saya penasaran, kok sebegitunya bisa memesrahi Al-Qur’an, dari mana ia mempelajarinya? Dulunya ia adalah seorang kutu buku, jadi yang saya pikirkan mungkin kemampuannya bisa mesra dengan Al-Qur’an didapatkan dari salah satu buku yang ia baca.

Lantas saya langsung bertanya kepadanya, “Apa buku pertama yang kamu baca?” Ia menjawab, “Buku-buku mengenai filsafat adalah buku pertama yang saya baca di awal SMA”. Spontan saya kaget mendengar jawabannya, kok malah buku filsafat? Bukannya buku-buku agama. Ada apa dengan filsafat sebenarnya sehingga bisa membentuk seseorang yang sangat mesra dan mencintai Al-Qur’an? Bukannya dulu para filosof muslim adalah salah satu golongan yang sering kali dikritik oleh Imam al-Ghazali dalam karya tulisnya, sampai ia membuat suatu buku khusus tentang kerancauan filsafat berjudul Tahafut al-Falasifah.

Bahkan dalam autobiografinya yang ia tulis sendiri di kitab al-Munqidh min al-Dal─ül yang dikali oleh Gus Ulil, adalah sebuah kitab yang menceritakan pengembaraan Imam al-Ghazali dalam menuntut ilmu dan mencari kebenaran—di dalam kitab tersebut Imam al-Ghazali sering menyinggung para filosof muslim.

Baginya, pemikiran para filosof sering melampaui batas dan keluar jauh dari akidah Islam. Imam al-Ghazali berusaha untuk menjaga kemurnian akidah Islam dari banyaknya pemikiran yang masuk ke dalam dunia Islam terutama terhadap pengaruh tradisi helenistik Yunani yang dibawa oleh para filosof.

Tetapi saya terus bertanya-tanya tentang hal ini, sebab teman saya yang suka membaca buku filsafat ini saat diajak diskusi sering berkata, “Aku tidak akan mempercayai kebenaran ketika itu keluar dari jalan kenabian dan menyimpang dari akidah Islam”.

Saya terus berpikir sebenarnya apa yang dikritik oleh Imam al-Ghazali? Apakah filsafat? Atau pelakunya (filosof)? Sebab dalam tulisannya, Imam al-Ghazali juga berkata, “Para filosof seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina adalah wakil dari pemikiran Plato dan Aristoteles, mereka adalah orang baik yang menebarkan banyak kebaikan”.

Pernyataan tersebut menjadi sedikit paradoks ketika aku menemui ternyata di awal filsafat Islam baru mulai berkembang, salah satu tokoh filsafat Islam yang bernama Al-Farabi, seorang yang diberi gelar sebagai Mu'alim al-Tsani (guru kedua) dalam ilmu filsafat setelah Aristoteles, adalah orang yang sangat semangat dalam mengislamkan filsafat.

Al-Farabi menjadikan Al-Qur’an sebagai ideal tertinggi pada setiap penalarannya terhadap ilmu. Tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya melebihi kedudukan Al-Qur’an. Dasar filsafat Islam adalah penalaran manusia tidak bisa menandingi wahyu, Al-Qur’an adalah yang tertinggi kedudukannya.

Al-Farabi membuat filsafat kenabian hingga diteruskan oleh Ibnu Sina. Al-Farabi berpendapat bahwa hanya Nabi yang bisa berhubungan langsung dengan akal fa’al (akal aktif) atau dalam Islam lebih kita kenal dengan Malaikat Jibril. Nabi merupakan kehormatan yang disematkan oleh Allah kepada hamba-hamba pilihannya-Nya sehingga memungkinkan ia menerima kalam-kalam Tuhan berupa wahyu yang nantinya disampaikan kepada manusia.

Kata “nabi” sendiri berasal dari kata kerja (fi'il) bahasa Arab, nabba’a yanabbi’u, yang berarti memberi kabar. Di petik dari kata nabiyyun dalam bahasa Arab yang berkedudukan sebagai kata benda pelaku perbuatan (isim fa'il) yang berarti pemberi kabar.

Bila pernah membaca naskah-naskah Ibnu Sina, akan menemui di akhir atau pun tengah halaman, sesudah atau setelah Ibnu Sina membahas banyak hal tentang metafisika, kosmologi, dan ketuhanan, akan ada bab-bab khusus yang membahas tentang nubuwah Nabi. Bahkan dalam salah satu pernyataannya Ibnu Sina berkata, “Tidak ada filosof yang memiliki kedudukan lebih tinggi ketimbang Nabi Muhammad”.

Ibnu Sina berpendapat bahwa Nabi adalah jiwa yang memiliki kedudukan tertinggi dan diberi anugerah oleh Allah berupa mukjizat yang bertujuan untuk mengajak manusia untuk saling mengasihi, meninggalkan kemusyirikkan, dan memberi kabar akan adanya Tuhan.

Para filosof muslim sebenarnya adalah orang-orang yang sangat mencintai Kanjeng Nabi Saw, ia memuliakannya dan menempatkannya pada kedudukan paling tinggi, pantas kalau teman saya yang mempelajari filsafat Islam sangat cinta dan bisa memesrahi Al-Qur’an.

Lalu siapa yang dikritik oleh Imam al-Ghazali? Jika para filosof itu sangat mencintai dan menjunjung tinggi Nabi Muhammad, pastilah ia tidak menyimpang dari akidah Islam? Jadi, tidak semua filosof adalah orang yang berada dalam jalan kebenaran, ada juga beberapa mereka yang tersesat dan hanya belajar untuk kepentingan-kepentingannya sendiri.

Seperti Ar-Razi yang tidak percaya pada kenabian, baginya nalar manusia sudah cukup untuk membimbing manusia pada kebaikan, dengan penalaran manusia sudah bisa memilah mana baik dan buruk di kehidupan. Tetapi perlu digarisbawahi, bawasanya benar memang jika penalaran manusia sudah bisa membuat manusia membedakan mana baik dan buruk sehingga bisa membimbing manusia ke jalan kebaikan, namun penalaran manusia terbatas pada panca indra. Pengetahuan yang ada dalam nalar sebatas dengan sesuatu yang tertangkap oleh mata, tercium oleh hidung, terdengar oleh telingan, terasa oleh kulit dan lidah yang akhirnya diproyeksikan ke dalam akal.

Sementara pengetahuan akan Tuhan tidak bisa dicapai menggunakan nalar, sebab nalar memiliki batasan dan Tuhan tidak terbatas, sehingga akal tidak bisa menjangkaunya. Karena itu mengapa manusia membutuhkan seorang Nabi sebagai penghubung untuk manusia mengenal Tuhan.

Ibnu Sina menyebutkan bahwa Nabi memiliki keistimewaan berupa al-hadas. Dalam pengertian filosofis al-hadas adalah pancaran Ilahi yang diperoleh para nabi dan rasul sehingga mereka dapat berhubungan langsung dengan Allah tanpa melalui usaha manusia itu sendiri. Banyak orang berpikir bahwa dirinya bisa sampai kepada Tuhan tanpa memalui jalan kenabian, padahal tidak ada satu pun yang bisa sampai kepada-Nya kecuali mengikuti jalan Nabi.

Dari sini bisa kita tarik kesimpulan, bawasanya bukan filsafat yang kritik oleh Imam al-Ghazali, tetapi beberapa filosof yang menyimpang dari akidah Islam.

Imam al-Ghazali tidak menolak ilmu filsafat karena ia sendiri juga sering menggunakan logika paripatetik untuk menulis beberapa kitabnya. Hanya saja ilmu jika tidak didasari keimanan bisa menyesatkan. Hal ini membutikan bahwa antara agama dan filsafat tidak bertentangan, keduanya bisa berjalan beriringan selagi tidak bertentangan dengan akidah Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Farabi dan Ibnu Sina, keduanya adalah dua tokoh yang telah berhasil dalam menyelaraskan agama dengan filsafat.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Rizki Eka Kurniawan

Pelajar akhiran yang menggiati dunia sastra, mencoba terjun dalam dunia tulis menulis, kebiasaanya membaca buku, bukan siapa-siapa hanya manusia biasa