Pelajaran hidup bisa ditemukan di mana saja: di pesantren, di sekolah, di masjid, di pasar, di persimpangan lampu merah, di perantauan, dan juga di kampung halaman. Di tempat kelahiran saya, Cililin-Genteng, sebuah kampung kecil di Jawa Barat, saya mendapat banyak pelajaran hidup dari seorang perempuan.

Namanya Iyoh Rukiyah. Kehidupannya diliputi oleh kesederhanaan, kesabaran, kebaikan, juga kedermawanan-meski ia tidak punya banyak harta.

Kadang ia dipanggil Nyi Iyoh, kadang juga teteh atau teh Iyoh. Anak-anak atau orang dewasa yang pernah diajari ngaji al-Qur’an dan pelajaran agama olehnya, biasa memanggilnya dengan ema.

Nyi Iyoh seorang janda. Ia ditinggal mati suaminya di usia muda dan harus menjalani sisa hidup bersama tujuh anaknya. Sampai sekarang ia tetap pada keputusannya: tidak mau menikah lagi.

Saat suaminya masih hidup, keluargannya tergolong mapan. Sebagian ruang rumahnya dipakai untuk tempat bagi penduduk sekitar kampung itu belajar ngaji al-Qur’an kepadanya.

Namun ketika suaminya meninggal, keluarga itu jatuh miskin karena hampir semua hartanya dikuasai mertuanya, khususnya ibu dari suaminya. Ia pun disingkirkan dari rumahnya sendiri dan harus tinggal bersama ibunya. Sementara sebagian anak-anaknya diasuh oleh saudaranya.

Bertahun-tahun ia tinggal di rumah ibunya, hingga suatu saat ia mendapati mertuanya semakin menua. Ia sempat memutuskan untuk tinggal bersama dan membantu mertuanya itu. Namun bukan sambutan baik yang didapat ketika ia datang. Mertuanya malah mengusir Nyi Iyoh untuk kedua kalinya.

Lamat-lamat ia menyadari bahwa tubuh mertuanya mulai ringkih. Pikun menyerangnya. Salat atau belum salat, ia tidak ingat lagi. Sampai-sampai ia lupa di mana ia harus buang air. Tak jarang, pakainnya dikuyupi air kencing.

Dalam situasi itu, mertuanya tinggal sebatang kara, tak terurus dan tak diurusi oleh saudara dan kerabatnya. Situasi sulit itu membuat Nyi Iyoh terpanggil untuk merawat mertuanya. Ia tidak peduli pada fakta bahwa mertuanya itu telah mengusirnya dua kali. Kendati dulu pernah terbesit di benaknya untuk kabur dan enggan merawat mertuanya karena pengusiran yang dialaminya.

Sampai kini, mertuanya yang sudah berusia lebih dari satu abad itu dirawat oleh Nyi Iyoh: dicucikan pakaiannya, dimandikan hingga bersih, diberi makan tepat waktu, diingatkan untuk salat, dan dipantau terus kesehatannya.

***

Anda bisa saja mempertanyakan niat Nyi Iyoh berbuat demikian. Tapi saya lebih memilih untuk tidak berburung sangka.

Kepercayaan masyarakat kepadanya, kedermawannya, ketabahannya, kesantunannya, hingga kebaikannya mendidik anak-anak di kampung membantah semua logika saya untuk menerka-nerka maksud buruk pada bantuan Nyi Iyoh ke mertuanya yang telah menyakitinya.

Yang jelas, kisah ini menunjukkan kekuatan seorang manusia untuk memaklumi kesalahan orang lain: memaafkan,dan mematikan dendam dalam hatinya.

Nyi Iyoh menyadari bahwa setiap manusia bisa berbuat salah, termasuk dirinya juga. Karena itu baginya pintu maaf harus selalu terbuka.

Tentu saja ini bukan persoalan gampang. Tak jarang kita menemukan manusia yang tak kuasa mengendalikan amarahnya. Sedikit saja disenggol, kemarahannya memuncak, dan sekilat membalasnya.

Bukankah kita sering mendengar tragedi pembunuhan karena pelakunya dendam pada korbannya, meski perkara yang dipersoalkan terbilang sangat sepele? Apa yang dilakukan Nyi Iyoh adalah wujud keagungan hidup dan pelaksanan ajaran Islam.

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar (QS An Nahl [16]: 126).

Nyi Iyoh mengajarkan kepada kita untuk menahan diri dan memaafkan. Lebih dari itu, ia menunjukkan kemuliaan akhlak: mencintai yang menyakiti.

Setelah disakiti, perempuan itu memaafkan. Tak hanya itu, ia malah memutuskan untuk merawat mertuanya sepenuh hati.

Ia tidak membalas mertuanya dengan balasan setimpal apalagi lebih. Ia juga tidak menitipkan mertuanya ke panti jompo, tindakan yang sekarang menjadi gejala sebagai manusia modern.

Di sisi lain, barangkali Nyi Iyoh tahu bahwa memelihara dendam justru membuat luka semakin dalam dan sakit semakin perih. Memelihara dendam itu menyiksa.

Pemelihara dendam bisa saja merasa tak enak makan, tak nyenyak tidur, bahkan tak nyaman hidup. Karena ia merasa dibebani oleh pikiran akan kesalahan orang lain kepadanya dan bagaimana cara ia membalasnya.

Karena itu, tindakan perempuan itu patut dicontoh: melepas amarah, mematikan dendam, dan menggantinya dengan kemurahan hati dan kasih sayang.

Tentu saja mencintai orang yang menyakiti kita juga tidak mudah, bahkan lebih sulit dari sekadar meredam dendam dan melepas maaf.

Namun mencintai orang yang menyakiti kita tidak mustahil. Hanya saja kita perlu membiasakannya. Dan semoga Nyi Iyoh tetap diberi karunia, nikmat, ketabahan, dan kebahagiaan hidup. Dan semoga kita bisa menghikmati kisah hidupnya itu. Wallahua’lam.

Author: Ihab Habudin

ABOUT THE AUTHOR

Ihab Habudin

Jamaah tidak tetap Masjid Jendral Sudirman.


COMMENTS