Memahami Sains Islam dan Barat

slider
14 November 2022
|
231

Kata Islam pada sains menyematkan pada hakikatnya berkarakter islami. Sebagaimana Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern (1994) mengatakan, “Apa pun asal-usul material bagi sains, bentuknya selalu islami dan berhubungan secara erat dengan prinsip-prinsip wahyu Islam dan semangat Al-Qur’an.

Al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan, namun lebih daripada itu merupakan kumpulan yang menyimpan permata kearifan. Al-Qur’an bukan buku ilmiah, namun dapat digunakan untuk menjelaskan semua fenomena ilmiah yang terjadi di alam.

Allah memberikan petunjuk melalui diturunkannya Al-Qur’an yang mencakup kajian ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Salah satunya sains, yang dalam Islam dikonstruksi sebagai pengetahuan yang selalu disatukan dengan yang sakral, yaitu Tuhan. Sains Islam memegang teguh prinsip Al-Qur’an bahwa Tuhan lah pencipta yang mutlak dan satu-satunya pemberi keberadaan bagi alam semesta.

Saintis muslim selalu menyadari bahwa manusia mengetahui segala sesuatu itu berkat karunia Ilahi, yaitu diberikannya fakultas intelegensia sebagai refleksi kecerdasan Ilahi pada tataran pikiran manusia.

Produktivitas Saintis Muslim

Para ilmuwan muslim tidak diragukan lagi dalam melahirkan karya-karyanya, tidak hanya mengembangkan ilmu-ilmu Agama, namun juga ilmu-ilmu umum. Keadaan tersebut mencirikan bahwa dahulu kala para ilmuwan muslim tidak hanya menguasai satu bidang keilmuan, namun menguasai lebih dari satu disiplin ilmu bahkan semua bidang keilmuan, seperti Ibnu Sina dalam kitabnya al-Syifa’ yang memuat filsafat dan ilmu pengetahuan.

Dunia Islam memiliki ilmuwan-ilmuwan besar pada bidang yang sangat luas, seperti kimia, fisika, minerologi, botani, zoologi, anatomi, kedokteran, astronomi, geologi, geografi, metereologi dan lain sebagainya.

Pada bidang kedokteran, ada Al-Razi, Ibnu Sina, dan Ibnu Nafis. Al-Razi memiliki kitab berjudul al-Hawi, yang merupakan kitab induk kedokteran setebal 20 jilid.

Sedangkan Ibnu Sina dengan karya medisnya berjudul al-Qanun fi al-Thibb, kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa dan dijadikan buku pembelajaran selama lebih dari 500 tahun di berbagai universitas di Eropa.

Ibnu Nafis memiliki karya medis yang lebih besar (80 jilid) berjudul al-Syamil fi Shina at-Thibb.

Pada bidang astronomi dan optik, dunia Islam melahirkan ilmuwan seperti Al-Farghani, Al-Battani, Al-Biruni, Ibnu Haitsam, dan lain sebagainya. Kontribusi para astronom muslim kepada Barat terlihat pada kenyataan ide heleosentris Kopernikus yang tidak mungkin tercetus kalau bukan karena kontaknya dengan karya astronom muslim. Bahkan sebelum Kopernikus, Ibnu Syatir telah lebih dulu menemukan teori heleosentris.

Dalam bidang ilmu pengetahuan alam, ilmuwan muslim menulis tentang ilmu hewan dan tumbuhan, antropologi, geografi, geologi dan lain sebagainya, seperti Al-Jahiz, Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, Al-Quzwuni, Ikhwan al-Shafa.

Di barat, kita mengenal Charles Darwin sebagai pencetus teori evolusi, namun perlu diketahui bahwa sebelum Darwin sudah dikemukakan teori evolusi oleh Al-Jahiz, Ibnu Miskawaih, dan Ikhwan al-Shafa. Menurut teori evolusi ilmuwan muslim, alam mineral lebih dahulu ada, kemudian alam tumbuhan, lalu alam hewan, dan terakhir alam manusia.

Penjelasan di atas membuktikan bahwa keinginan untuk mengamati dan meneliti fenomena alam yang ada pada diri saintis muslim sangat mengaplikasikan semangat keilmuan yang ada dalam Al-Qur’an. Dan tidak kalah jika mau dibandingkan dengan sains Barat, dikarenakan Barat pun kenapa bisa maju seperti saat ini, tidak lain karena pengaruh dan andilnya para ilmuwan muslim.

Pengaruh dan Mempengaruhi

Kemajuan sains Barat seakan-akan tidak dapat tertandingi dikarenakan Barat memisahkan dirinya dengan agama yang mengakibatkan sains Barat memiliki prinsip bebas nilai, dan membuat Barat semakin berkuasa dikarenakan negara dan masyarakatnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan sains justru dijadikan alat untuk menumbuhkan kolonialisasi dan dijadikan bisnis industri. Negara-negara berkembang, termasuk negara-negara muslim merasa dirinya tergantung pada bantuan dari negara-negara modern terhadap setiap hal dari kehidupan mereka, seperti bantuan ekonomi, teknologi dan lain sebagainya.

Keunggulan negara modern ini membuat negara-negara muslim tergiur dan tertarik untuk mencoba mengikuti apa yang telah dilakukan Barat, terutama majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa kaum muslim sendiri dapat memandang agamanya secara lebih utuh, yakni bahwa Islam sebagai kekuatan peradaban yang sudah terbukti dapat mendorong pemeluknya untuk dapat menjadi perambah jalan bagi penciptaan masa depan kemanusiaan yang progresif.

Secara historis, sains adalah sumbangan terbesar peradaban Islam pada dunia modern dan juga memancarkan kemilau aslinya pada kehidupan Eropa.

Oleh karena itu, umat muslim tidak boleh merasa pesimis di hadapan Barat, para ilmuwan muslim telah diakui pengaruhnya pada Barat sebagaimana Herbert A. Davies menyatakan:

“Mereka (orang-orang muslim) mendirikan universitas-universitas besar yang selama beberapa abad melebihi yang dipunyai oleh orang Eropa Kristen. Universitas-universitas di Baghdad, Kairo, Kordoba, khususnya amat termasyhur, Universitas Kairo memiliki mahasiswa sebanyak 12.000 orang, perpustakaan-perpustakaan besar dibangun, beberapa di antaranya berisi ratusan ribu jilid buku yang semuanya terdaftar dan tersusun rapi. Banyak orang Kristen yang belajar di Universitas Kordoba, kemudian membawa ilmu dan kebudayaan ke negeri-negeri asal mereka. Pengaruh Universitas Spanyol (Islam) atas universitas-universitas Paris, Oxford, dan universitas-universitas yang mereka bangun di Italia tentunya besar”.

“Sekiranya orang Arab bersifat ganas seperti orang Mongol dalam menghancurkan api ilmu pengetahuan… renaisans di Eropa mungkin akan terlambat lebih dari serratus tahun”, kata Alfred Guillaume (1888-1965).

Orang Islamlah yang menyebabkan orang-orang Eropa mempunyai peradaban. Merekalah yang menjadi guru orang Eropa selama enam ratus tahun”, kata Gustave Lebon (1841-1931).

Banyak dari saintis muslim yang merupakan penemu dan perintis di berbagai bidang sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Roger Bacon yang dianggap sebagai penemu metode eksperimen, pun mempelajari dan dipengaruhi oleh sains Islam. Al-Khawarizmi sebagai perintis aljabar, tanpanya semua matematika dan aritmetika modern tak terbayangkan keberadaannya. Dan masih banyak temuan dan karya saintis muslim yang mempunyai pengaruh pada peradaban Barat.

Hikmah yang dapat diambil dari penetrasi sains Islam ialah merespons positif ajaran Islam melalui wahyu Tuhan untuk terus berinovasi (ijtihad) dengan mendayagunakan akal dalam menyelidiki fenomena alam semesta dan memahami hukum alam (sunah Allah) sebagai ayat-ayat kauniyah demi meraih kemajuan kehidupan umat manusia.

Sumber Pengetahuan Sains Islam dan Sains Barat

Sumber pengetahuan menjadi salah satu pembahasan dalam epistemologi. Masing-masing peradaban memiliki sumber pengetahuan tersendiri. Dalam Islam, alam semesta merupakan salah satu sumber pengetahuan, yang dimaksud dengan alam ialah alam fisik, alam ruang dan waktu, alam yang sekarang kita hidup didalamnya, dan kita mempunyai hubungan dengan alam ini dengan menggunakan berbagai indra kita.

Sumber-sumber lain menurut epistemologi Islam ialah indra, akal dan hati (intuisi). Sedangkan sumber pengetahuan dalam epistemologi Barat ialah akal dan indra.

Sisi menarik terlihat pada epistemologi Islam yang menggunakan hati (intuisi) sebagai sumber pengetahuan, sementara di Barat, pengetahuan intuisi tidaklah ilmiah dan hanya subjektivitas belaka.

Padahal, intuisi bukan hanya beroerientasi pada wahyu, tetapi juga berhubungan dengan perasaan. Intuisi mampu memahami dan mengenali secara akrab banyak hal yang tidak bisa dipahami oleh akal.

Sains yang menghasilkan teknologi, secara aksiologis penggunaan teknologi sendiri bersifat relatif, bisa digunakan untuk kemaslahatan umat manusia atau malah memperburuk kehidupan manusia.

Bila intuisi tidak dipakai dalam menciptakan teknologi, tentu akan menjadi pembunuh kehidupan manusia termasuk alam itu sendiri. Jadi, intuisi bukan hanya berurusan dengan wahyu tetapi juga berhubungan dengan kemanusiaan.

Kritik Sains Islam terhadap Sains Barat

Basis ontologis sains Barat mengakui bahwa yang ada hanya bersifat fisik dan secara epistemologi hanya bersumber akal dan indra. Segala hal yang bersifat metafisik akan ditolak.

Seperti pandangan saintis Barat, Stephen Hawking, yang mengatakan bahwa Tuhan tidak terlibat dalam penciptaan alam semesta dan membicarakan Tuhan dengan metode sains telah melampaui sains itu sendiri, karena Tuhan bukan lagi wilayah kajian sains.

Kemudian juga eksperimen yang dilakukan oleh Sam Harris, bahwa gagasan soal Tuhan adalah hasil kerja otak belaka, artinya Tuhan adalah produk pikiran manusia belaka.

Disingkirkannya Tuhan pada sains Barat berimbas pada kehidupan manusia yang jauh dari Yang Transenden. Manusia tidak lagi mengenali prinsip Ilahi, yang mereka kenali hanyalah sebatas materi fisik.

Efeknya, manusia sudah tidak lagi merasa dirinya sebagai wakil Tuhan, tetapi seolah ‘tuhan itu sendiri. Mereka merasa berkuasa atas alam, berhak melakukan apa saja berdasarkan kepentingan individunya.

Segala yang dihasilkan oleh manusia merupakan berkat usahanya sendiri melalui akal dan indra tanpa mengikutsertakan peranan Tuhan di dalamnya. Akhirnya, segala sesuatu yang dihasilkan melalui sains Barat cenderung bersifat antroposentris.

Sementara basis ontologis sains Islam mengakui yang ada bersifat fisik maupun non-fisik dan secara epistemologis segala pengetahuan dapat diperoleh melalui akal, indra, dan intuisi.

Sains Islam tetap melandaskan pengetahuannya pada kecerdasan Ilahi sebagai limpahan bagi intelegensi saintis muslim. Sehingga manusia tetap menjadi wakil-Nya yang bertugas memelihara dan menjaga keseimbangan alam.

Manusia tetap mempunyai peran dalam menerima wahyu Tuhan dengan menggunakan akalnya dan melakukan pengamatan indra terhadap alam semesta yang mengandung tanda-tanda keberadaan Tuhan. Jadi, bisa dikatakan sains Islam bercorak teoantroposentris.

Pandangan Sayyed Hossein Nasr

Zaman sekarang, digambarkan oleh Seyyed Hossein Nasr sebagai zaman yang terpisah dengan Tuhan, keterpisahan dengan yang tak terbatas, manusia seperti kehilangan orientasinya sehingga menimbulkan krisis ekologi.

Seperti dalam beberapa tahun terakhir, tindakan agresif demikian mencolok terhadap alam, seperti tumpahan minyak yang besar, pembakaran hutan tropis, pembalakan liar, dan eksploitasi terhadap alam lainnya.

Tindakan itu memicu pemanasan iklim serta penipisan lapisan ozon. Dapat dikatakan bahwa krisis lingkungan, keburukan kota, dan lain-lain semacamnya adalah akibat dari usaha manusia yang ingin melepaskan kehendaknya dari kehendak Tuhan dan untuk menyatakan kemerdekaannya dari kekuatan surgawi.

Seyyed Hossein Nasr menjelaskan salah satu penyebab utama kurang diterimanya dimensi spiritual terkait krisis ekologi adalah bercokolnya saintisme yang terus menghadirkan sains Barat bukan sebagai cara tertentu untuk memahami alam, tetapi semacam filsafat absolut dan totaliter yang mereduksi semua realitas ke ranah fisika, dan tidak mempunyai keinginan untuk menerima kemungkinan adanya pandangan dunia yang metafisik.

Kritik sains Islam terhadap sains Barat yaitu bahwa ketidakseimbangan pada basis ontologi yang hanya membatasi pada wilayah fisik berakibat pula pada basis epistemologi hanya melalui rasio maupun pengamatan indra.

Ketidakseimbangan inilah yang dapat mengakibatkan sains Barat membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia, seperti polusi, hujan asam, radiasi nuklir. Keutuhan sains baik dari segi ontologi, epistemologi, dan aksiologi itulah yang dapat membawa kebaikan pada kehidupan manusia.


Category : keilmuan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Fadhel Fikri

Co-Founder Sophia Institute