Mari kita menyepakati terlebih dahulu bahwa tidak ada label logoterapi Islam. Dimensi keislaman tidak pernah melahirkan konstruksi keilmuan logoterapi. Namun, konstruksi keislaman yang membabak konsep yang “mirip” logoterapi, barang tentu pasti ada. Sebut saja salah satunya keilmuan tasawuf.

Walaupun begitu, kita bisa membedakan bahwa logoterapi tidak sama dengan tasawuf. Keduanya berdiri atas landasan filosofis-sistematis dan paradigma yang berbeda, latar belakang berbeda, hingga tujuannya pun berbeda. Namun, keduanya memiliki implikasi pragmatis yang sama. Sekali lagi, implikasi pragmatis.

Logoterapi bertujuan untuk menjadi pedoman, pengembangan, dan pembimbing bagi individu yang memiliki kecenderungan kurang sehat mentalnya, bahkan penyembuhan bagi penyintas gangguan mental. Begitu pun dengan tasawuf yang juga melakukan fungsi-fungsi tersebut, namun dengan cara yang jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh logoterapi.

Rasionalisasi Tasawuf

Secara sederhana, tasawuf adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, melalui tirakat dan riyadloh. Di dalam dimensi keislaman, terutama tasawuf, kita mempunyai aksioma bahwa semua kejadian yang kita alami adalah atas kehendak Allah.

Salah satu penawaran yang disuguhkan oleh tasawuf untuk menjadi pedoman, bimbingan, dan pengembangan bagi individu adalah berpikir mengenai hal positif di tengah kejengahan rumpun negatif. Namun sebenarnya, siapa yang memberi label positif-negatif ini? Perspektif kita sebagai manusia sungguh terbatas dan diingatkan oleh ayat 216 dari surah Al-Baqarah, Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Oleh karena itu, pada tiap ketidakenakan, tidak suka, tidak diinginkan, dan seluruh konotasi negatif pada tiap situasi, bukanlah sebab situasi tersebut memang buruk, tapi sebab keterbatasan kita yang tak mampu melihat sisi baiknya.

Pernahkah kamu merasa malas salat? Barangkali, iya. Kita akui saja kalau perasaan tersebut pernah kita alami. Namun, pernahkah kita tahu ketika kita melewatkan salat sekali waktu, artinya kita juga berhenti belajar disiplin, berhenti bertanggung jawab, serta tidak menggerakkan badan? Yang pertama dan kedua akan berguna secara psikologis ketika kita berelasi dengan manusia (bekerja; bersosialisasi di masyarakat) dan yang ketiga akan berguna secara fisiologis karena menyehatkan tubuh. Yang demikian itu hanyalah salah tiga di antara banyak contohnya.

Tasawuf seolah tidak memberikan penjelasan mengenai “alasan” mengapa peribadatan harus dilakukan oleh penganutnya, karena tujuannya memang berfungsi sebagai kepatuhan seorang hamba kepada Tuhan sebagai sebuah keimanan, bukan sebagai metode terapi. Namun, kita juga tidak menutup mata kalau tiap aktivitas peribadatan dalam dimensi keislaman mengandung implikasi pragmatis untuk kesehatan jiwa-raga kita.

Spiritualitas dalam Logoterapi

Viktor Frankl, psikiater Austria serta korban Holocaust yang selamat, mengakui peran keberadaan dimensi spiritual sebagai salah satu yang mempengaruhi keberhasilan logoterapi. Namun, perlu digarisbawahi tebal-tebal, kalau spiritualitas yang dimaksud Frankl bukan sebagaimana yang kita kenal di dalam agama. Spiritualitas tersebut lebih tepat apabila kita pahami sebagai pengalaman hidup yang bernilai. Setiap pengalaman hidup yang kita alami dan menjadi sebuah nilai yang bisa kita ambil itulah yang disebut spiritualitas.

Hal ini seperti ketika kita membayangkan bahwa rajin salat lima waktu dan tak pernah bolong, tetapi tetap saja melakukan keburukan. Apakah dengan begitu kita bisa saja mengatakan bahwa salat tidak berguna untuk menghentikan kita dari perbuatan keji dan mungkar? Tentu saja bukan. Sebab, pada titik tersebut kita belum menganggap salat sebagai peribadatan sekaligus pengalaman yang bernilai.

Frankl meyakini terdapat nilai-nilai luhur di dalam diri manusia yang diwakilkan oleh dimensi spiritual (selain dimensi raga dan jiwa) yang berfungsi sebagai daya lenting kesadaran mengenai citra dirinya sendiri.

Rollo May dalam buku, “Manusia Mencari Dirinya” menyebut bahwa hanya manusia yang memiliki kesadaran akan citra dirinya sebagai eksistensi dan itu pula yang menjadi sebab manusia mengalami kecemasan. Satu-satunya yang bisa mengatasi kecemasan tersebut adalah kebermaknaan eksistensi atas manusia itu sendiri.

Frankl melakukan penjelasan lebih lanjut bahwa apabila tiap hasrat dan keinginan pada diri manusia menjadi tujuan eksistensi, maka bisa saja seorang individu menempuhnya dengan berbagai cara, bahkan dengan cara paling curang sekalipun. Sebab itulah, Frankl menekankan bahwa eksistensi diri manusia terletak bagaimana ia memaknai tiap pengalaman dan perjalanan hidupnya, bukan pada tujuan hidupnya.

Tasawuf Menjawab Zaman

Akhir-akhir ini kita disuguhkan berbagai isu kesehatan mental; sejak dari jenis, karakter, gejala, hingga bagaimana cara mengatasinya. Ada istilah paradoxical intention, kita mengenal dalam tasawuf sebagai tawakal. Setiap kali kita tersandung masalah, kita perlu mengambil jarak dari sumber masalah dan berhenti merespons masalah tersebut sebagai gangguan, tetapi melihatnya sebagaimana yang telah kita usahakan. Kita diminta untuk memasrahkan segalanya kepada Allah, setelah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya. Pelan-pelan kita akan menyadari bahwa masalah tersebut tidak akan berkembang menjadi lebih besar atau hingga menjadi gangguan serius. Sebab kita telah meyakini sepenuh iman bahwa ketegangan yang demikian akan menjadikan jiwa kita lebih lapang.

De-reflection atau riyadloh dalam keilmuan tasawuf, sebagai suatu cara pengalihan dari sikap atau perilaku yang tidak diinginkan ke suatu aktivitas yang positif dan transenden. Riyadloh bukan hanya berhenti pada laku menahan, tapi juga termasuk mengupayakan berkembang. Seperti belajar untuk berpikir teratur, sistematis, benar, dan tepat sasaran adalah bagian dari riyadloh. Sebab, kesemua itu merupakan bagian dari metode pengembangan diri untuk menjadi lebih bijak (mawas diri; tafakur).

Misal, kita yang mengalami gangguan was-was atau kecemasan, maka kita dapat melakukan aktivitas berpikir berupa meleburkan gangguan tersebut menjadi ketiadaan. Al-yaqiinu laa yuzaalu bis syak. Keyakinan tidak bisa diruntuhkan oleh keraguan. Ketika kita cemas mengenai suatu hal yang belum terjadi atau justru sama sekali tidak terjadi, pada dasarnya pikiran tersebut tidak bisa merobohkan keyakinan kita mengenai apa yang saat ini sedang terjadi.

Maka tasawuf sebagai salah satu bidang yang konsisten dalam membabak perilaku, sikap, dan kejiwaan seorang hamba (manusia), turut serta menjawab pergolakan dan perkembangan tersebut. Jika dalam logoterapi mengenal teknik persuasive, di dalam tasawuf kita mengenal dengan konsep “berprasangka baik” kepada Allah. Ketika kita ditakdirkan mengalami kejadian yang buruk dan perasaan putus asa, kita masih mempunyai kesempatan untuk berprasangka baik bahwa kejadian tersebut adalah yang patut kita jalani. Jika tidak sebaik apa yang kita kira, maka pengalaman buruk tetap saja akan menjadi makna atau nilai hidup yang pernah kita miliki.

Author: Kukuh S. Aji

ABOUT THE AUTHOR

Kukuh S. Aji

Pelajar Kawruh Jiwa Kramadangsa. Menulis puisi, cerpen, dan kadangkala esai.


COMMENTS