Apakah kebahagiaan itu? Apakah ketika kita sedang punya banyak uang, beristri cantik, bersuami ganteng tajir melintir? Memiliki pangkat akademis yang prestisius? Atau memiliki banyak pengikut dan dihormati banyak orang?

Untuk mengartikan sebuah kebahagiaan, setiap orang memang punya pemahaman yang tidak sama. Orang boleh saja menganggap bahwa ia bisa hidup bahagia jika memiliki kriteria seperti yang saya sebut di atas. Sebenarnya di sini saya tidak sedang mengatakan bahwa kebahagiaan menurut ukuran banyak orang tersebut salah. Sekali lagi tidak. Saya hendak mengajukan pengertian kebahagiaan dalam versi yang lain yaitu bagaimana cara melampaui keterikatan prinsip dualitas, bahagia-tidak bahagia atau dalam konteks yang lain.

Saya ingin mengambil sebuah perumpamaan. Katakanlah di bawah langit itu ada awan putih dan gelap. Anggap saja awan putih itu simbol kebenaran, kebaikan, kesuksesan, sedangkan awan gelap sebaliknya. Jika orang mampu melampaui kedudukan dua awan yang berbeda tersebut maka akan lahir kesadaran baru bahwa ia telah menjadi langit biru yang menyaksikan sekaligus memayungi dua awan yang berbeda.

Dengan bahasa yang lebih menarik, Jalaluddin Rumi dalam puisinya mengutarakan, “Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu dalam ‘suatu ruang murni’ tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.”

Mencermati puisi Jalaluddin Rumi tersebut, terangnya ia tidak sedang berparadigma ateis. Sebab ia sendiri adalah teisme yang saleh. Bahkan pencapaian pengalamannya dalam bertuhan ia ekspresikan dalam puisi-puisi yang sangat indah. Tidak mengherankan bila puisi-puisinya banyak dirujuk dan dikaji oleh kaum beragama.

Justru Jalaluddin Rumi sedang menyeru agar jiwa-jiwa manusia bisa terbebas dari segala macam belenggu sehingga mampu terbang menjulang tinggi setinggi-tingginya. ‘Aku’ dalam puisinya di atas saya kira lebih mengena untuk dimaknai bukan aku biasa, tetapi aku yang sudah melebur menjadi ‘Aku’. Untuk mencapai kedudukan ‘Aku’, ia mampu melampaui hukum dualitas baik-buruk dan benar-salah.

Dalam kajian peta kesadaran David R. Hawkins terdapat dua kata kunci yaitu dual dan non-dual. Kedua kata kunci ini menjadi landasan pemahaman dalam proses transendensi perihal level kesadaran yang dirumuskan dalam sebuah skor angka secara berjenjang. Yang tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kesadaran seseorang dari level terendah sampai yang tercerahkan.

Pengertian kedua istilah itu tentu saja mencakup banyak hal dalam kehidupan. Secara sederhananya bahwa dual berarti dua hal yang berbeda, seperti baik-buruk, benar-salah, sukses-gagal dan lainnya. Disadari atau tidak bahwa, banyak jiwa-jiwa yang terjebak dalam wilayah ini. Sebab wilayah ini memang rawan kuasa keakuan. Kalau hal-hal yang baik, benar, sukses ‘aku’ gemar mengklaim. Sementara jika yang terjadi sebaliknya, sifat keakuan biasanya mengemuka dan mencari kambing hitam, mengalamatkan kesalahan pada pihak lain. Akhirnya menuai seteru.

Kemudian non-dual dimaknai sebagai level yang sudah melampaui prinsip dualitas. Dalam bahasa tasawuf, kemampuan seseorang yang telah menduduki kesadaran prinsip non-dual sering disebut tingkatan jiwa yang sudah tercerahkan. Dalam tradisi tasawuf Islam, prinsip non-dual sering dikenal ‘aku’ yang telah nyawiji menjadi ‘Aku’. Tiada ‘aku’ selain ‘Aku’.

Untuk menjabarkan perihal ini, saya punya cerita menarik. Suatu ketika ada seorang murid sedang menghadap dan menyampaikan ungkapan terimakasih kepada guru tarekat, karena telah mendoakannya selamat dari marabahaya. Kalau orang awam saat mendapat ucapan terimakasih biasanya akan menjawab, “Sama-sama”. Ini tidak. Apa yang diucapkan oleh guru tarekat tersebut malah membuat si murid termenung. Kata guru tarekat, “Bukan aku itu tetapi guruku. Kalau seandainya guruku ditanya juga tidak akan mengaku. Begitu pula gurunya guruku dan seterusnya hingga sampai ke Rasullullah. Dan ketika Rasullullah ditanya juga tak akan mengaku. Begitu juga dengan Malaikat, tak akan mengaku. “Bukan aku itu” kata malaikat, tetapi Allah Maha Pemilik Segala.” Cerita ini tentu saja menunjukkan betapa pentingnya meletakkan sifat keakuan saat bermunajat kepada hadirat-Nya, berelasi dengan sesama, dan memposisikan diri setara dengan semesta.

Ulasan perihal non-dual ini juga mengingatkan kita pada kisah Nabi Musa saat sakit perut. Konon saat Nabi Musa dan pasukannya lari bersembunyi di sebuah lembah karena sedang dikejar-kejar oleh pasukan Fir'aun, Nabi Musa tiba-tiba sakit perut kemudian mengeluh. “Ya Allah ini aku lagi dikejar-kejar pasukan Fir'aun dan sakit perut lagi.”

“Hai Musa”, kata Allah. “Pergilah kamu ke sebuah bukit. Di sana ada dedaunan (ada yang mengatakan versi rerumputan).” Lalu Nabi Musa bergegas mendaki ke bukit. Ia mencari dan menemukannya lalu memakan dedaunan itu sehelai dua helai, kemudian sembuh.

Setelah itu Nabi Musa turun berjalan menuju ke tempat persembunyian bersama pasukannya. Tetapi di tengah jalan tiba-tiba perut Nabi Musa kambuh lagi. Nabi Musa naik lagi ke atas bukit, dimakanlah daun itu sampai habis berhelai-helai. Namun sakit perutnya tidak kunjung sembuh-sembuh. Lantas Nabi Musa protes, “Ya Allah waktu aku makan daun itu, Engkau memberi kesembuhan untukku. Namun, saat aku memakannya lagi, penyakitku justru menjadi-jadi. Mengapa?”

Kata Allah, “Sesungguhnya engkau, pada sakit yang pertama pergi ke bukit untuk memakan dedaunan karena petunjuk-Ku, karena mengingat-Ku sehingga engkau sembuh. Sedangkan baru saja engkau makan dedaunan itu dengan melupakan-Ku, melupakan nama-Ku, melupakan yang menciptakan daun itu. Tentu saja kau tidak sembuh. Apakah engkau tidak tahu bahwa dunia ini seluruhnya adalah racun yang mematikan? Dan penawarnya adalah nama-Ku?”

Poin penting yang bisa digarisbawahi dari cerita Nabi Musa ini bahwa kita kerap menirunya saat menyikapi suatu masalah. Entah itu masalah keuangan, kesehatan, pasangan hidup, hubungan sosial dan yang lainnya. Kita mengira bahwa semua masalah itu bisa selesai dengan mengandalkan kemampuan akal pikiran, atau ilmu-ilmu modern dan teknologi tercanggih. Padahal semua itu tak ubahnya seperti dedaunan yang dimakan Nabi Musa saat sakit perut. Tanpa seizin-Nya tak akan bisa mengubah apa-apa. Hal yang mesti disadari bahwa manusia hanya sebatas diberi pengetahuan dan kehendak berupaya. Sedangkan Allah yang memastikan dan menetapkannya. Waallahua’lam.

Author: Arif Rahman Hakim

ABOUT THE AUTHOR

Arif Rahman Hakim

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hobi membaca buku keislaman bercorak tasawuf


COMMENTS

  • Arif Rahman Hakim

    Semangat ya kawan