Wahyu Abdi

Disadari atau tidak, kita sebagai manusia selalu membuat banyak pilihan kemudian mengambil keputusan dalam hal apapun. Perbuatan yang remeh-temeh saja, akan mandi misalnya atau ingin pergi nongkrong bareng teman-teman di warung kopi. Sebelum menunaikannya, mesti muncul beragam pilihan yang tiba-tiba saja datang dari alam bawah sadar yang diolah oleh pikiran kita. Padahal sebelumnya, pilihan-pilihan itu tidak terbayang sama sekali.

Mulai dari enggan berangkat ke warung kopi karena mager atau karena ada pekerjaan tertentu yang urung rampung. Bisa juga, “Sayang nih kalau tidak ikut nongkrong, toh hanya sekali dalam sepekan.” Pilihan-pilihan ini pada akhirnya memicu kalkulasi baik-buruk, untung-rugi, dan semacamnya dalam benak kita.

Namun bagi saya, pilihan-pilihan itu terkadang mempengaruhi otak dan jiwa untuk saling bersengketa karena beda kecenderungan pilihan. Si otak ingin pergi ngopi dengan santai, tetapi si jiwa menahannya lebih baik di kamar saja. Kendati pada akhirnya, satu diantara keduanya harus ada yang dikalahkan. Namun tetap saja, sebelum keputusan diambil, sengketa perbedaan itu tetap terjadi. Memang kadang terkesan lucu dan agak ribet.

Membicarakan sebuah keputusan, memang tidak bisa dilepaskan dengan tanggung jawab. Karena setiap ada keputusan yang diambil, maka secara otomatis, di situ ada tanggung jawab yang harus diemban. Seperti seorang pemuda yang lulus dari sekolah menengah atas biasanya disuguhkan pada dua pilihan. Pilihan mencari pengalaman kerja atau melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Jika ia mengambil pilihan pertama, maka ia punya tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dipilihnya, tanpa harus menggerutu dipenuhi rasa sesal. Jika ia mengalamatkan pilihan yang kedua, maka ia mesti bertanggungjawab terhadap segala macam halang dan rintangan selama menjalani proses memupuk ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Namun jika ia tidak memilih satu dari dua pilihan di atas, maka ia juga tetap mendapatkan porsi tanggung jawab sesuai alternatif pilihannya itu. Meski pilihan terakhir ini tidak diprediksi sebelumnya, namun tetap saja menjadi bagian dari rangkaian kemungkinan pilihan yang diambil setelah lulus sekolah menengah atas. Maka lumrah, jika segala hal yang terjadi di kehidupan ini, tidak bisa lepas dari pilihan dan keputusan yang diikuti dengan tanggung jawab.

Ada sebuah kisah yang menarik dari seorang filsuf terkenal dari Amerika Serikat. Ia juga merupakan Bapak Psikologi karena temuannya dalam disiplin ilmu tersebut. Ia akrab disapa William James.

William James merupakan anak yang terlahir dari keluarga kaya, serba berkecukupan, dan terpandang. Akan tetapi sejak kecil, ia sudah hidup nestapa karena cacat yang dimilikinya. Mulai dari penyakit mata yang membuatnya buta ketika masa kanak-kanak, penyakit perut akut, dan penyakit kejang urat di punggung yang kadang bisa membuatnya tidak bisa bergerak selama berhari-hari.

Akibat penderitaan ini, William James hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan melukis. Setiap hari ia hanya di rumah ditemani dengan kertas kosong dan sebuah lukisan di atas kertas. Karena kepiawaiannya dalam melukis, ia pun bermimpi menjadi seorang seniman ulung agar dapat menjual beberapa karyanya. Tapi sayang, tidak ada yang peduli dengan bakat melukisnya.

Menginjak dewasa, ia masih kukuh dengan pilihannya menjadi pelukis, meski tanpa ada jalan lapang, apalagi jaminan kesuksesan. Berbeda dari beberapa saudaranya yang lain, yang bisa sukses dengan bakat dan bidang yang digeluti sejak usia belia.

Melihat keadaan James yang seperti itu, ayahnya meminta dirinya untuk melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran, di Universitas Harvard. Tentu saja ayahnya berharap, agar putranya yang satu ini memiliki masa depan cerah seperti saudara-saudaranya. Karena pada saat itu William James tidak memiliki pilihan lain, ia pun menuruti pilihan ayahnya.

Ternyata bagi William James menghabiskan hari di bangku studi merupakan aktivitas yang cukup menjemukan. Semakin hari, ia semakin merasa depresi. Ia merasa menjadi orang yang paling bodoh dan gila karena menipu dirinya sendiri. Akhirnya ia berniat melarikan diri dari jeratan realita semu yang dihadapinya dengan dalih mengambil cuti sementara dari waktu studinya.

Setelah itu ia pun melakukan ekspedisi ke Hutan Amazon bersama rombongannya. Namun nasibnya kurang mujur, karena di hari pertama ia melakukan ekspedisi, penyakit lamanya kambuh sehingga ia tertinggal dari rombongan. Melalui berbagai usaha untuk bertahan hidup di hutan seorang diri, akhirnya ia bisa bangkit dan kembali ke kampung halamannya. Belakangan ekspedisi yang gagal itu terdengar sampai ke telinga ayahnya.

Suatu hari, William James ini kembali membuka buku catatan yang pernah ia tulis tempo dulu. Ia mengingat semua kesalahan hidup yang pernah dibuatnya. Dari situ terbesit olehnya sebuah keinginan bahwa, ia akan melakukan segala hal yang disukai, dan juga mencoba mencintai hal-hal yang tidak pernah disukai. Sampai-sampai ia mematri janji untuk dirinya sendiri, jika ia tidak mampu dan gagal melakukan pilihan yang sudah ia tentukan sendiri, maka siap-siap saja, ia akan mengucapkan selamat tinggal untuk dunia dan tidak akan pernah muncul lagi.

Berbekal dengan janji yang didorong dengan keyakinan kuat itu, William James menentukan arah langkah baru dalam hidupnya. Ia dengan berani mencoba hal-hal baru, agar sekat yang terlihat mustahil dan membatasi dirinya menjadi kemungkinan-kemungkinan yang dapat diwujudkan. Dan pada akhirnya, berbagai upayanya itu menuai hasil dengan pengakuan dari masyarakat dunia, bahwa ia merupakan Bapak Psikologi Amerika Serikat sekaligus sebagai salah satu tokoh filsuf terkenal dengan pemikiran pragmatisnya.

Cerita itu mengilhami saya dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidup. Bahwa setiap pilihan mengandung risiko, memang benar adanya. Namun risiko itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti, apalagi dihindari. Justru karena adanya risiko, pilihan yang telah diambil menuntut tanggung jawab yang serius ketika menunaikannya. Minimal hal itu diindikasikan dengan merampungkan pilihan sejak awal sampai akhir. Perkara hasil, tergantung restu dari-Nya dan dukungan semesta.

Author: Wahyu Abdi

ABOUT THE AUTHOR

Wahyu Abdi

Penunggu kamar tengah merangkap marbot di MJS


COMMENTS