Pada bulan Agustus dalam gelaran Ngaji Filsafat yang diampu oleh Pak Fahruddin Faiz, dibahas empat tokoh muda yang dianggap memiliki peran penting dan signifikan dalam perkembangan Indonesia modern. Keempat tokoh muda ini berasal dari latar belakang yang berbeda dan meninggal di umur yang masih muda pula. Soe Hok Gie, seorang aktivis yang sering turun ke jalan atau seorang demonstran. Ahmad Wahib, seorang intelektual kampus yang suka berdiskusi dan bertanya. KH. Ahmad Wahid Hasyim, seorang kiai tradisional dan politikus, dan Chairil Anwar, seorang penyair dan sastrawan.

Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Chairil Anwar, adalah nama yang tentunya sudah tak asing lagi, akan tetapi nama Wahid Hasyim juga sudah tak asing lagi di telinga kita, khususnya di kalangan NU dan pondok pesantren tradisional. Beliau adalah salah satu tokoh muda dan pendiri Negara Republik Inodnesia. Namanya tercatat sebagai anggota BPUPKI dan PPKI yang memiliki peran penting dalam merumuskan Pancasila dan UUD 1945, dan tercatat sebagai pahlawan nasional.

Nama lengkapnya adalah Abdul Wahid Hasyim, lahir di Jombang pada Jumat Legi, 5 Rabiulawal 1333 H atau 1 Juni 1914. Beliau putra pertama dari pasangan K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyyah NU dan Nyai Nafiqah. Ayahanda K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada awal namanya Muhammad Asy’ari, meniru nama kakeknya, karena sering sakit namanya diganti dengan Abdul Wahid, diambil dari nama seorang kakek moyangnya.

Dalam suatu riwayat, ibunya, Nyai Nafiqah bernazar di waktu mengandung Wahid Hasyim. Bahwa jika anaknya terlahir selamat, akan dibawa menemui Syeikhona Cholil Bangkalan. Nazarnya ini oleh Nyai Nafiqah ditepati, dan membawa Wahid Hasyim kecil yang ketika itu masih berumur tiga bulan ditemani Mbah Abu ke Bangkalan.

Perjalanan dari Jombang menuju Bangkalan ditempuh penuh dengan rintangan, dan sesampainya di kediaman Syeikhona Cholil, justru Nyai Nafiqah tak diperboleh masuk ke rumah, namun juga tak boleh pergi. Walaupun pada waktu itu hujan lebat mengguyur, namun ibundanya tak bergeser sama sekali dari tempatnya. Di waktu hujan semakin lebat itu, ia manaruh Wahid Hasyim kecil di beranda rumah Syeikhona Cholil.

Namun sayangnya, sang pemilik rumah tak memperbolehkan bayi itu ditaruh di beranda rumahnya, dan harus dibawa kembali ke halaman rumah di tengah guyuran hujan lebat. Nyai Naqfiqah pada waktu itu tak membantah dan mengambil kembali bayinya sambil membaca, “Lailaha Illa anta, ya hayyu ya qayyum.”

Kejadian yang dialami Nyai Nafiqah dan Wahid Hasyim kecil di kediaman Syeikhona Cholil ini oleh masyarakat NU dipercaya sebagai tanda bahwa kelak ia akan menjadi orang besar. Dan sekaligus pertanda bahwa tengah hujan lebat pula Wahid Hasyim wafat pada 19 April 1953.

Kejadian itu terjadi setelah mengalami kecelakaan mobil pada 19 April 1953 yang hendak menghadiri pertemuan partai NU se-Karesidenan Priangaan bersama Abdurrahman Wahid dan seorang supir bernama Argo Sucipto sekertaris PBNU pada itu. Wahid Hasyim dimakamkan di komplek pemakaman keluarga di Pondok Pesantren Tebuireng bersebelahan dengan makam Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari.

Perjalanan intelektual Wahid Hasyim dimulai sejak masa dini, terhitung sejak umur 13 tahun, ia sudah berkelana ke berbagai pondok pesantren, di antaranya Pesantren Siwalan Panji dan Pesantren Lirboyo. Kemudian, ia pergi ke Mekkah sambil memperdalam berbagai ilmu agama selama kurang lebih dua tahun.

Setelah pulang dari Mekkah, Wahid Hasyim banyak melakukan sejumlah pembaruan dan perubahan di Pondok Pesantren Tebuireng. Ia memperkenalkan pengajaran ilmu-ilmu di luar ilmu agama. Serta mendirikan Madrasah Nizdamiyah yang mengajarkan 79 persen ilmu agama dan 30 persen ilmu umum. Dalam pelajaran bahasa, Wahid Hasyim tak hanya mengajarkan bahasa Arab, melainkan juga bahasa Inggris dan Belanda.

Di samping itu, ia juga mendirikan perpustakaan atau taman baca dan berlangganan majalah-majalah Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan sebagainnya. Apa yang dilakukan Wahid Hasyim ini tentu hal baru di lingkungan pesantren, dan bahkan bisa dikatakan hal yang pertama di Indonesia.

Tak hanya di dunia pendidikan, Wahid Hasyim juga sangat menonjol diberbagai organisasi kemasyarakatan. Di NU ia menjadi ketua Ma’arif (1938) dan menjadi wakil ketua di MIAI yang beranggotakan organisasi-organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, PSII, Perti, al-Irsyad, dan lain-lain.

Selain itu, Wahid Hasyim juga sangat menonjol di dunia politik, hal ini terbukti dengan terpilih menjadi anggota tim sembilan PPKII (Penitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Serta pernah menjabat sebagai menteri agama selama tiga periode, yaitu dalam Kabinet Hatta (1949-1950), Kabinet Natsir (1950-1951), dan Kabinet Sukiman (1951-1952).

Selama di dunia politik, gagasan-gagasan besar Wahid Hasyim menimbulkan perdebatan-perdebatan konstitusional menghasilkan Piagam Jakarta dan mengusulkan pasal-pasal fundamentalis seperti “Indonesia harus negara Islam’, “Presiden Indonesia harus beragama Islam”, dan “Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Namun, Wahid Hasyim pulalah merubah gagasan-gagasan tersebut menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa". Ia sependapat dengan kaum nasionalis bahwa Indonesia haruslah negara nasional.

Mengenai pandangannya ini, ia tuangkan dalam karyanya berjudul Agama dalam Indonesia Merderka, Wahid Hasyim mengatakan, “Demi kepentingan kesatuan ini, yang sangat kamu perlukan secara mendesak dan dalam usaha untuk membangun negara Indonesia kita, di dalam pikiran kami pertanyaan yang terpenting bukanlah ‘di mana akhirnya tempat Islam (di dalam negara itu)’ akan tetapi pertanyaan yang penting ialah, ‘dengan jalan manakah akan kami jamin tempat agama (kami) di dalam Indonesia merdeka?’. Karena itu sekali lagi saya ulangi, yang sangat kita perlukan saat ini adalah persatuan bangsa yang tidak terpecahkan”.

Gagasan-gagasan besar lainnya dari Wahid Hasyim yang hingga kini masih bisa kita nikmati adalah memasukkan materi pendidikan agama ke sekolah-sekolah umum dan memasukan materi umum ke pesantren-pesantren. Ia juga mendirikan Perguruan Tinggi Agama bernama STI (Sekolah Islam Tinggi) bersama KH. Mas Mansur, KHR. Fathurrahman Kafrawi, KH. Farid Ma’ruf, Dr. Ahmad Ramali, dan lain-lainnya. Dari STI berubah menjadi UII (Universitas Islam Indonesia), dari UII menjadi PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri), dan dari PTAIN menjadi IAIN hingga berubah lagi menjadi UIN saat ini.

Bagi penulis, Kiai Wahid Hasyim tak hanya bisa dikatakan sekadar kiai “tradisionalis”, akan tetapi juga kiai “modernis”, bahkan kiai “fundamentalis” dalam banyak hal. Misalnya, “tradisionalis” memegang teguh nilai-nilai pesantren ketika di jajah Belanda, dan “modernis” ketika melakukan usaha-usaha memodernisasi pesantren bahkan mendirikan pendidikan Perguruan Tinggi Islam, “konstitusionalis” dalam rangka menjadi hukum Islam sebagai pemberi jiwa pada undang-undang dasar Indonesia. Bahkan dikatakan “fundamentalis” ketika menentang kebijakan-kebijakan penjajahan Belanda, sehingga ia dinobatkan sebagai pahlawan kemederkaan sejajar dengan kaum nasionalis seperti Soekarno dan lainnya. Gitu.

Author: Syahuri Arsyi

ABOUT THE AUTHOR

Syahuri Arsyi

Mahasiswa dan Penikmat Ngaji Filsafat Virtual


COMMENTS