Ismail

Judul: Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika: membincang cognitive bias dan logical fallacy | Penulis: Fahruddin Faiz | Penerbit: MJS Press, 2020 | Tebal: xxii + 200 hlm | ISBN: 978-623-91890-4-4

Faktor klasik yang menjadi problem manusia, terutama perihal logika, adalah persoalan “mengenal”. Minimnya pengenalan terhadap logika ternyata membawa implikasi yang tidak sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Paling mudah dilihat adalah adanya jejak menjauh(i) kebenaran atau sesat pikir dan cacat logika.

Contohnya, ketika berjumpa pernyataan, “Kalau engkau termasuk perempuan cantik, maka engkau akan menggunakan produk ini, sebagaimana banyak perempuan cantik lain” (hlm. 135). Dalam sampel produk tersebut, kegunaan dan manfaat suatu barang dilekatkan dan ditempelkan pada kuantitas konsumen. Padalah, benar tidaknya bukti itu tidak tergantung pada jumlah.

Kita juga jamak menerima pesan via WhatsApp. Salah satunya adalah mengenai kuota gratis-tis sebesar 200GB. Pemberitahuan seperti ini masih saja ada yang menyebarluaskan, termasuk kalangan pelajar kampus.

Di satu sisi, sumber dan link info yang bagikan itu tidak jelas. Pada sisi lain, jika dibuat perbandingan, pemerintah saja hanya mampu memberikan subsidi kuota sebesar 30GB, misalnya untuk pelajar, itu pun akses ke aplikasi dan websitenya terbatas. Jadi, dalam pesan tersebut terdapat sesat pikir. Memang ada banyak argumen yang berseliweran di tengah-tengah kehidupan kita meniscayakan berjalannya logika.

Sebagaimana argumen awal saya, sekelumit contoh tadi merupakan kurang bahkan tiadanya mengenal ihwal logika. Pada titik ini usaha kreatif yang dituangkan ke dalam buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika karya Fahruddin Faiz setidaknya mampu untuk bahan dalam membincang cognitive bias dan logical fallacy.

Pak Faiz menegaskan bahwa peranan logika, terutama dalam bermedia sosial, sangat penting. Dengan mengenal logika, variasi materi digital dalam beragam bentuk yang memuat cacat logika, kita bisa merawat kesehatan akal budi, mental, bahkan spiritual. Bila tameng logika kita tidak kuat, kemungkinan besarnya, mengutip pernyataan dalam buku, kita akan “merasa ‘sudah benar’, atau ‘masih benar’, atau ‘pasti benar’”. Padahal kenyataannya sebentuk kesalahpahaman dan kesalahan berpikir (hlm. v-viii).

Buku Pak Faiz ini lahir dari keperihatin dan keresahan kepada siapa saja atas gempuran informasi. Memang informasi yang menyerang kita begitu banyak dan sering. Bila tidak diimbangi dan diarahkan dengan “kompas” berpikir yang tepat dikhawatirkan berujung pada klaim pasti benar.

Dari keresahan atas keadaan seperti itu, Pak Faiz dengan metode “klasifikasi-seleksi-deskripsi, dan ilustrasi” dalam pennyusunan buku, mengingatkan dan memperkenalkan (lagi) logika di tengah banjirnya informasi ke hadapan sidang pembaca.

Buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika merumuskan dua bahasan logika secara ringkas, yakni cognitive bias dan logical fallacy. Dua tema logika yang diuraikan ini disajikan secara sederhana dan tidak bertele-tele. Dalam ungkapan Pak Faiz, “Sak isane sing nulis” (Sebisanya yang menulis).

Bagi yang baru belajar mengenal perbincangan logika, buku ini akan sedikit membantu. Kesederhanaan penyajian buku ini setidaknya bisa mengantar pemula mengenal logika. Bagi yang sudah pernah belajar logika, buku ini akan mengingatkan kembali logika. Dengan mode pembahasan yang sederhana tentu ada ‘amanat’ simbolik dibaliknya, yakni mampu diaktualkan dalam mengimbangi arus informasi.

Pada bagian pertama mengelaborasi cognitive bias. Cognitive bias adalah kecenderungan dalam penyimpulan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah rasionalitas. Ada 33 jenis bias yang dijelaskan. Total bias ini setidaknya mengajak kita untuk berjarak sejenak dari objek pernyataan dan informasi. Salah satu di antara contoh cognitive bias adalah action bias. Pada cognitive bias orang seringkali terperangkap pada tindakan saja tetapi mengabaikan kualitas tindakan tersebut.

Pak Faiz memberikan contoh action bias, seperti dalam pernyataan-pernyataan berikut ini yang cenderung mengarah pada kesesatan berpikir:

“Yang penting ahlinya sudah bertindak, berarti urusan beres”.

“Yang penting sudah berusaha, hasilnya bisa dimaklumi”. (hlm. 3).

Contoh seperti ini tentu banyak terjadi dalam percakapan kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia akademik apalagi dalam pemerintahan. Maka dari itu, kita harus waspada agar tidak hanya fokus dan berhenti pada tindakan saja, tetapi juga pada kualitas.

Dari 33 bias yang diuraikan dalam bagian pertama, saya menangkap ada semacam amanat utama baik tersirat maupun tersurat. Amanat penting ini adalah menjeda secara kritis. Berhenti sejenak atau tidak terburu-buru dalam menyimpulkan apalagi membenarkan argumentasi itu perlu. Namun diam sejenak saja tidaklah cukup jika nihil dari sikap kritis.

Sementara itu, bagian kedua membincangkan logical fallacy (cacat logika). Logical fallacy merupakan suatu argumen yang tampak benar, namun sebenarnya mengandung kesalahan dalam penalaran.

Pada bagian ini mengupas 12 kategori cacat logika yang menjadi reminder kita. Salah satu contohnya adalah kesalahan karena salah fokus. Kesalahan ini misalnya muncul dari pembenaran mode pemikiran dengan dasar-dasar kekuasaan.

Pak Faiz menunjukkan bahwa kekeliruan dalam kesalahan karena salah fokus ini bisa terjadi manakala kita berhenti pada argumen yang dilontarkan dan tidak dilihat secara kritis pengaruh kekuasaan seseorang. Contoh:

“Sebaiknya kamu setuju dengan kebijakan perusahaan yang baru kalau kamu tidak ingin kehilangan pekerjaan”.

“A itu jelek, kalau kamu tetap memilih A, rasakanlah kesengsaraan hidupmu”. (hlm. 128).

Memang tidak semua informasi yang kita terima lolos dari logical fallacy. Kembali pada logika dan memperdalamnya sedikit banyak membantu menyadarkan kita agar selalu waspada dan kritis pada setiap pernyataan maupun ungkapan yang terlontar.

Tentu masih banyak jenis kecacatan berpikir yang bisa ditemui dalam buku ini. Dengan mengetahui ragamnya, kita akan menemukan banyak sampel cacat logika dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu hal penting dicatat dalam buku ini adalah keharusan mengenal dan mempelajari logika. Urgensinya ternyata tidak hanya membantu menyaring kesalahan informasi, tetapi juga menjaga aset akal budi yang diberikan oleh Tuhan.

Mempelajari logika merupakan aktivitas dalam menjaga kewarasan di tengah banjir informasi dan keruwetan hidup. Mempelajarinya bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi cacat logika, tetapi juga karena keutamaan akal budi yang dimiliki manusia.  

Manusia adalah kreasi Tuhan yang paling unggul dibandingkan makhluk lainnya. Keistimewaan yang paling khas, yakni dibekalinya manusia dengan akal budi. Dengan aset akal budi manusia diberi mandat untuk mewakili Tuhan dalam menata dan mengelola kehidupan. Agar keunggulan akal budi tetap ada, manusia perlu mendidiknya, salah satunya dengan logika.

Pak Faiz menegaskan bahwa logika punya peranan penting dalam kehidupan. Logika berperan sebagai kunci untuk menjernihkan pikiran. Sebab dengan logika pikiran tidak hanya tertib, jernih dan dapat dipahami, tetapi juga amanat kekhalifahan dari Tuhan supaya dipergunakan dengan baik dan benar.

Lebih jauh lagi bahwa mengenali mempelajari dan memperdalam logika bisa menjadi bukti kesyukuran manusia kepada Tuhan karena sudah memberikan kemampuan berpikir yang menjadi ciri khas manusia.

Walau manusia diberi kelebihan untuk berpikir, itu bukan berarti gaib dari kelemahan. Kelemahan ini bisa berwujud pada proses, cara berpikir maupun hasil kesimpulan pikiran. Jadi, inilah alasan mengapa logika itu penting.

Saya mengakhiri tulisan ini dengan salah satu ungkapan yang padat namun maknanya dalam dari seorang yang dikenal sebagai pekulis asal Belgia, Erik Pevernagie, bahwa “Percaya itu mudah, namun berpikir itu sulit. Berpikir tentang mengapa kita percaya, itu lebih sulit lagi”.

Author: Ismail

ABOUT THE AUTHOR

Ismail

Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS