Tanpa sengaja saya menemukan catatan lawas. Sebuah geguritan tentang ibu. Mungkin kalau saya masih aktif menggunakan Facebook, geguritan itu akan saya unggah lagi. Entah memang untuk mengenang hari ibu, atau hanya untuk gagah-gagahan.

BIYUNG

Biyung,

Tresna kang kaparing

Mboten saged kapitung

Tresna kang kaparing

Mboten saged kawales

Biyung,

Kathah lepat ingkang pidamel

Ananging jembar segara pangapunten

Ingkang kaparing

Biyung,

Bektos ingkang kula sembahaken

Mboten saged anggentos

Sedaya tresna

Biyung,

Tanpa piwales

Tanpa tampi

Tanpa pangarep luwih

Kajaba

Kasaenan ingkang putra

Saya payah dalam penerjemahan. Beginilah kira-kira maksudnya:

Ibu/cinta yang kau berikan/tidak bisa dihitung/cinta yang kau berikan/tidak bisa terbalas/ibu/banyak salah yang telah kulakukan/tapi selalu ada beribu maaf yang kau berikan/ibu/bakti yang kupersembahkan/tidak bisa mengganti segala cinta/ibu/tanpa balasan/tanpa pemberian/tanpa berharap lebih/kecuali kebaikan dari putramu.

Minggu, 22 Desember kemarin media sosial dipenuhi dengan unggahan tentang hari ibu. Banyak cerita dari yang sendu sampai yang lucu dalam menanggapi hari istimewa tersebut. Saya tidak akan membahas perdebatan tentang hari ibu atau hari kebangkitan perempuan. Saya ingin bercerita tentang ibu, wabil khusus ibu saya.

Bulan Desember ini ibu saya pensiun dari mengajar sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak di desa saya. Profesi yang beliau geluti selama 45 tahun. Ibu saya menanggapi dengan gembira saja. Beliau ingin menikmati masa tua. Dolan-dolan momong cucu.

Yang galau malah saya. Saya tinggal di kota yang berbeda dengan Bue, begitu saya memanggil beliau. Meninggalkan beliau sendirian di rumah. Memang sempat enam bulan saya mencoba menemani beliau pasca meninggalnya bapak. Tapi setelah itu saya kembali lagi ke kota di mana saya menempuh pendidikan tinggi sampai sekarang. Ternyata hidup di desa belum bisa membuat saya kerasan. Tapi sekarang mau tidak mau saya berpikir lagi. Sampai kapan saya meninggalkan ibu saya sendiri?

Memang kadang ego saya muncul. Kenapa harus saya yang mendapat kewajiban menemani ibu? Kadang saya juga ingin menentukan kebahagiaan saya sendiri. Punya rumah sendiri, tinggal bersama keluarga saya nanti. Kalau kakak kandung saya bisa kenapa saya tidak? Kenapa saya tidak boleh? Kenapa kewajiban birrul walidain seperti hanya ditimpakan ke saya? Tidak lebih dari sekali saya mendapat komentar bahwa saya adalah seorang anak yang tega karena meninggalkan ibu saya sendirian. Tentu saja ketika sedang labil, hal itu membuat saya sedih. Ibu saya sendiri selalu bilang mendukung anak-anaknya termasuk ketika saya meninggalkan beliau sendirian. Di sisi lain saya senang tapi di sisi lain kadang juga terbesit pertanyaan, apakah itu cara Bue menyembunyikan kesepian?

Saya sampai saat ini masih payah sebagai anak. Masih banyak merepotkan Bue. Belum lama ini saya mengalami sakit yang sungguh belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sakit yang tidak bisa dengan mudah saya ceritakan ke sembarang orang. Di waktu itu jugalah Bue yang punya firasat tidak enak. Saya sudah menyembunyikan apa yang terjadi karena tidak mau membuat Bue khawatir. Tapi akhirnya saya tidak tahan juga. Saya menumpahkan semuanya ke Bue.

Saya ingin menangis ketika ingat bagaimana Bue ketika saya sakit. Tabungan yang tidak sedikit yang seharusnya bisa menemani masa tuanya harus direlakan demi membeli obat untuk saya. Belum biaya mondar-mandir. Saat itu memang saya sedang tidak ada tabungan sama sekali. Sungguh trenyuh hati ini ketika mendengar Bue selalu ndremimil membaca doa kapan pun beliau ingat. Tidak hanya dalam salat saja. Memang keadaan saya benar-benar kalut. Seperti tidak punya masa depan. Untuk hal ini mental saya masih kalah dengan Bue. Bue begitu tegar. Bue tetap pergi ke sekolah untuk mengajar, mengurus sawah, menjaga keseimbangan keluarga. Dan saya hanya bisa tidur-tiduran.

Saya benar-benar seperti kehilangan pelita hidup saya. Gelap gulita. Di saat itu ibu seperti orang yang selalu meniup bara di tungku, memberi kayu terbaik dan sekam agar api dalam tungku tidak benar-benar mati. Bue benar-benar menjaga tungku itu agar tetap hidup, tidak sekedar obong-obong blarak, membakar daun kelapa tua yang cepat hilang apinya dan tidak bisa untuk mematangkan masakan di atas tungku. Ibu selalu menjaga tungku itu apa pun yang terjadi.

Bue, tidak ada ucapan selamat hari ibu dari anakmu. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia hanya bisa berdoa pada Gusti Allah untuk menjagamu. Semoga kita bisa menikmati masakan dari tungku yang kau jaga apinya.

Author: Impian Nopitasari

ABOUT THE AUTHOR

Impian Nopitasari

Pehobi sepeda dan pecandu kereta. Berjaga di Buletin Sastra Pawon Solo. Menulis fiksi dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Kumpulan cerita cekaknya, Kembang Pasren terbit September 2017 oleh penerbit Garudhawaca, Yogyakarta. Saat ini sedang mempersiapkan buku keduanya, kumpulan wacan bocah, cerita anak berbahasa Jawa.


COMMENTS