Setahun lebih ia mondar-mandir dan tidur di rumah. Cimol, kucing betina yang lebih mirip panda dengan bulu putih di sekujur tubuh serta hitam di bagian ekor dan sebagian muka. Berawal dari sedikit makanan, ia menjadi terbiasa berkunjung. Lama-kelamaan, ia mulai menginap. Hingga suatu sore ia membawa serta dua anaknya. Ya, mereka yang oleh manusia ditahbiskan masuk dalam trah “kucing kampung” itu bermigrasi ke belakang rumah.

Satu anaknya diadopsi seorang pemusik. Lirik lagu-lagunya dikenal bermuatan kehidupan dan keluarga. Ia juga memiliki stok kepedulian terhadap kucing, yang karena itu membuatku tenang ketika Si Cilok berada dalam pengasuhannya. Sementara satu anak lainnya, tetap bersama Cimol. Kupanggil ia Cireng karena bulu-bulunya yang blonteng oranye-hitam-putih.

Seperti halnya manusia, kucing pun bisa saling menularkan penyakit. Saat menginjak usia sekitar 4 bulan, Cireng mendapat scabies dari simboknya. Tungau kecil yang hidup di dalam kulit itu menimbulkan rasa gatal berlebihan hingga membuat tubuh lecet-lecet. Meskipun beberapa bagian melepuh, baik Cimol maupun Cireng, tetap menggaruk lukanya tanpa merintih. Sesekali saja terdengar suara dari mulut Cimol.

Fenomena aneh, pikirku. Mengingat aku sebagai manusia yang sering mengeluh hanya karena hal sepele. Agak takjub menyaksikan mereka bertahan dalam sikap banyak tak bersuara saat terluka. Satu yang kupahami, mereka terus berusaha menghilangkan rasa gatalnya dengan menggaruk, meski mungkin rasanya perih. Barangkali, karena hanya itulah yang mereka pahami secara naluriah. Mereka juga tidak bertindak di luar batas pengetahuannya —sikap yang membuatku membandingkan huruf-huruf yang pernah kususun secara serampangan tanpa mempertimbangkan pengetahuan yang kupunyai.

Tak tega, aku membawanya ke Puskeswan. Setelah diinjeksi, lambat laun Cimol dan Cireng sembuh. Kehidupan keduanya kembali normal. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Cimol bahkan bunting lagi dan melahirkan empat anak. Setiap waktu menyusui tiba, Cireng terlihat selalu mengalah. Ia membiarkan simbok menyusui adik-adiknya dengan tenang dan menunggui di sebelah. Pada malam hari, Cireng juga membiarkan Cimol memeluk adik-adiknya. Ia sendiri tidur di luar kardus, masih di dekat mereka.

Pernah pada suatu dini hari usai hujan deras, sepulang kerja aku mendapati Cimol tak berhenti mengeong. Ia juga berlarian. Cireng mengikutinya. Butuh beberapa menit untukku memahami apa yang terjadi. Rupanya Cimol sedang mencari bantuan. Keempat anaknya tersangkut di pipa pembuangan air di atap. Sepertinya ia sengaja menyembunyikan bayi-bayinya, mungkin dengan pertimbangan keamanan.

Berkali-kali Cimol terjatuh dari atap dan coba kukatakan agar tidak naik dari sisi itu. Khawatir, di bawahnya ada banyak paku tajam. Hampir setengah jam aku hanya bisa berdiri dan mencoba merayu Cimol, tanpa tahu harus berbuat apa. Ia terus mengeong, sesekali menatapku seperti meminta tolong dengan mata berkaca.

Melihatnya terengah hingga lidah menjulur, membuatku memaksa Cimol berhenti berlarian. Kucegat dan kuminta ia meneguk air sembari kubilang agar tenang karena aku akan mengatasinya —sebuah pernyataan yang kemudian kupahami sebagai bentuk kesombonganku. Sambil menunggunya minum, aku memikirkan cara untuk mengambil bayi-bayinya.

Di tengah rasa capek dan kantuk, hanya terlintas dua cara di kepala. Aku akan memanjat ke atap. Masalahnya, konstruksi bangunan dan benda-benda di sekitarku tak mendukungku melakukannya. Tebersit keinginan meminjam tangga, tetapi siapa pula yang masih terjaga pada tengah malam yang dingin begitu? Atau, akan kumintai tolong tetangga untuk menurunkan mereka. Namun, sudah tak ada tanda-tanda suara orang.

Saking sibuknya dengan pikiran sendiri, aku melewatkan Cimol dan Cireng yang sudah kembali berlarian. Saat menyadarinya, mereka sudah berada di lintasan yang berbeda. Cimol terlihat mencoba jalur baru, memutar dari belakang rumah untuk memanjat menuju pipa air. Aku mengikutinya dari bawah.

Walupun tidak bisa menyaksikan, aku merasa Cimol menemui kesulitan di atap. Terdengar gemeretak seperti ia tengah melewati celah sempit atau semacamnya. Bebunyian serupa gesekan keras suatu benda dengan seng membuatku berharap agar ia tidak terluka.

Seperempat jam berlalu. Induk berhati baja itu membawa turun satu per satu anaknya dengan selamat. Seperti yang kubilang, aku segera menyadari bahwa aku baru saja bersikap sombong. Jemawa, merasa paling tahu dan lebih mampu untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Melihat mereka kembali berkumpul, spontan membuatku berpikir, jangan-jangan keridaan dan pertolongan Tuhan ada dalam setiap naluri dan doa setiap makhluk yang menjadi ibu —bukan hanya manusia. Untuk sesaat, aku lupa bahwa Cimol adalah ibu.

Hari-hari selanjutnya, Cimol masih sering membawa anak-anaknya ke atap —mungkin juga bagian dari naluri keibuan. Namun, sepertinya ia belajar dari kesalahan sehingga tak ada lagi drama anak-anak masuk ke saluran pipa. Walaupun begitu, hujan lebat yang turun hampir sepanjang waktu membuat mereka terserang jamur kulit. Atap melembap. Berhari-hari Cimol tak membawa mereka turun.

Satu per satu bayinya mati. Sisa seekor dengan tubuh kurus dan jamur di sekujur badan. Kata dokter, karena umurnya masih di bawah 3 bulan, ia tak boleh menerima injeksi obat. Dikhawatirkan berefek keras terhadap organ dalamnya. Maka ia hanya disuntik vitamin. Nasihat dokter, cukup dirutinkan mengolesi minyak zaitun. Setelah beberapa waktu berjuang melewati hari dengan terapi tersebut, satu-satunya bayi yang tersisa itu ikut mati. Tinggal Cireng, anak yang bertahan.

Pada minggu lalu, akhirnya Cireng pun turut menyusul adik-adiknya. Dalam kondisi bunting, ia tergeletak di samping jendela kamar. Aku sempat menghentikan langkah saat menggotong tubuh kakunya. Merasa ada yang mengintip dari balik jendela. Cimol. Ia menatap jasad di tanganku. Aku merasakan ia berduka.

Sepanjang kugali kubur, Cimol menunggui. Sesekali mengeong dan berputar-putar. Setelah kuazani jasad anaknya, ia semakin keras mengeong. Beberapa kali ia mengendus. Aku berandai-andai mungkin ia sedang memintanya bangun atau justru mengucapkan selamat pulang. Begitu aku mulai menguruk, kaki depan Cimol tiba-tiba turut mencungkil tanah seperti ingin ikut mengubur. Kubiarkan ia. Sesekali kubilang kalau anaknya sudah di tempat terbaik dan agar ia menjaga kesehatan untuk jabang bayi yang sepertinya juga tengah berdetak di perutnya.

Sepanjang hari, beberapa kali aku melihat sosok indukan itu berdiri dan mondar-mandir di kuburan Cireng sambil mengeong. Kadang terdengar begitu lemah seperti menyiratkan kesedihan. Kadang juga terdengar sebagai suara panggilan khas yang biasa ia lantunkan untuk memanggil-manggil Cireng ketika waktu makan sudah tiba, tetapi si anak tak kunjung hadir menyantap makanannya.

Sekali lagi, keluarga berbulu yang sering dianggap orang sebagai pengganggu aktivitas makan itu membawaku pada pemahaman bahwa setiap yang bernyawa memiliki perasaan dan setiap perasaan yang hidup di dalam jiwa menyiratkan kasih-sayang; wadah tirakat bermula.

Ketika setiap indera semakin akrab dengan (berita) kehilangan,

Semesta seperti sedang mengingatkan untuk kembali (ber-)pulang ke rumah d-i-r-i,

Innalillahi wainnailaihi raji’un

Author: Ainia Prihantini

ABOUT THE AUTHOR

Ainia Prihantini

Penyuka Sastra dan Penikmat Perjalanan


COMMENTS