Redaksi MJS

Muhyi-al-Din Abu Muhammad bin Abu Saleh 'Abd al-Qadir al-Gilani (lahir pada 470 H/1078 M di Amol, Iran dan meninggal pada 561 H/1166 M) adalah seorang ulama yang sangat dihormati. Syekh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang wali dalam dunia tarekat dan sufisme.

Ngaji Filsafat: Syaikh Abdul Qodir Al Jailani – Ibadah Lahir Ibadah Batin (dalam Sirr Al Asrar) | Ngaji Filsafat 153 edisi Religius Service (Ibadah) | Bersama Dr. Fahruddin Faiz | Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta | 03 Mei 2017.

 

Macam-macam ilmu

  • Ilmu Lahir (Syari’ah)_Perintah, Larangan dan Semua Jenis Hukum
  • Ilmu Batin (Batin Syari’ah)_Ilmu Tariqah
  • Ilmu Batin (Batin Tariqah)_Ilmu Ma’rifah
  • Ilmu Batin (Batin segala yang batin/batin al-bawatin)_Ilmu Hakikat

Dari syariat menuju hakikat

  • Pada tingkat awal seseorang memerlukan pengetahuan syariat, melalui pendidikan yang mengenalkan dalil-dalil tentang Dzat Allah yang menyata di dalam alam sifat-sifat dan nama-nama.
  • Apabila bidang ini telah sempurna dilanjutkan pendidikan kerohanian tentang rahasia-rahasia, di mana seseorang itu masuk ke dalam bidang makrifat yang murni untuk mengetahui yang sebenarnya (hakikat).
  • “Perbuatan yang baik mestilah dilakukan dengan cara yang benar”.
  • “Berhati-hatilah di dalam beramal agar amalan itu dilakukan bukan untuk dipertontonkan atau diperdengarkan kepada orang lain. Semuanya mestilah dilakukan semata-mata kerana Allah, demi mencari keredaan-Nya”.

Menetapi tafakur

  • Nilai sesuatu amalan itu tersembunyi di dalam hakikatnya. Untuk menemukannya diperlukan tafakur.
  • Barang siapa merenungi sesuatu perkara dan mencari penyebabnya ia akan mendapati segala sesuatu mempunyai bagian-bagian dan menjadi penyebab bagi hal-hal yang lain. Tafakur begini bernilai satu tahun ibadah.
  • Barang siapa merenungi pengabdiannya/ibadahnya, lalu mencari sebab dan alasannya, dan ia dapat menemukannya, tafakur ini bernilai lebih dari tujuh puluh tahun ibadah.
  • Barang siapa merenungi hikmah kebijaksanaan Ilahi dengan segala kesungguhannya untuk mengenal Allah Yang Maha Tinggi, tafakur ini bernilai lebih dari seribu tahun ibadah karena inilah ilmu pengetahuan yang sebenarnya.

Meraih cinta Ilahi

  • Agar cinta Ilahi dapat menempati hatimu, pertama-tama kau harus menyucikan dirimu dari hawa nafsu.
  • Perangilah lebih dahulu nafsu hewanimu (rakus, tidur berlebihan, lalai/malas) dan sifat hewan buas (amarah, keras, suka menyakiti, kejam), lalu jauhkan dirimu dari kebiasaan jahat (angkuh, sombong, iri, dendam, tamak, dan semua penyakit lahir maupun batin).
  • Setelah itu kau akan memiliki kesadaran meskipun tidak sepenuhnya bersih dari dosa. Kau akan memiliki rasa bersalah.
  • Namun, perasaan itu tidak cukup. Kau harus melewati tangga itu menuju maqam penyingkapan hakikat. Setelah itu, kau akan berhenti melakukan maksiat untuk hanya melakukan kebaikan.

Mewujudkan tasawuf

  • Huruf pertama, “t”, adalah singkatan dari tawbah, tobat.
  • Huruf kedua adalah “s”, dari kata shafa, suci, tenteram dan bahagia. Ketenteraman datang dari hati yang bebas dari kecemasan. Kecemasan disebabkan oleh kesenangan kepada dunia.
  • Huruf ketiga adalah “w”, singkatan dari wilayah, yakni tingkatan kewalian para pencinta dan kekasih Allah (tidak ada ketakutan dan kesedihan, sepenuhnya mencintai dan terhubung dengan Allah).
  • Huruf keempat, “f”, merupakan singkatan dari kata Fana, penidadaan diri. Diri yang batil dan keakuan luruh musnah ketika sifat-sifat Ilahi memasuki jiwa. Keakuan digantikan oleh keesaan.

Menyingkap kegelapan, menemukan cahaya

  • Ibadah sejati hanya dapat dilakukan jika tabir yang menutupi hati telah diangkat sehingga cahaya Ilahi dapat meneranginya. Hanya setelah itulah jiwa akan melihat melalui pelita ruhani.
  • Hati menjadi gelap terhijab disebabkan oleh kelalaian, yang membuat seseorang lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajiban, tujuan, dan ikrar mereka dengan Allah. Sebab utama kelalaian adalah kejahilan terhadap hakikat (kebenaran) ajaran Tuhan.
  • Untuk bebas dari kegelapan ini perlu menyucikan cermin hati. Penyucian ini dilakukan dengan mendapatkan pengetahuan, dengan beramal menurut pengetahuan itu, dengan usaha dan keberanian, melawan ego diri.

Godaan para pejalan

  • Alam materi ini adalah godaan bagi orang berilmu. Alam malakut adalah godaan bagi kaum bijak, dan alam sifat-sifat Ilahi adalah godaan bagi ahli hakikat.
  • Siapa saja yang merasa puas pada salah satunya, ia tertolak dari karunia Allah yang akan membuatnya lebih dekat kepada-Nya.
  • Jika seseorang terperdaya oleh semua godaan ini, ia akan berhenti, tak bisa meneruskan langkah, dan tak kuasa bergerak ke tempat yang lebih tinggi lagi. Meskipun bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ia takkan pernah bisa mencapainya. Ia terhalang; ia hanya memiliki sebelah sayap.

Jangan berlindung dibalik ‘takdir’

  • Seseorang tidak boleh berlindung pada rahasia takdir untuk meninggalkan amal saleh. Seperti alasan, “Kalaupun aku di zaman azali sudah ditakdirkan menderita maka tidaklah ada manfaatnya beramal saleh. Dan, jika aku memang ditakdirkan bahagia maka tidaklah membahayakan bagiku untuk melakukan amal buruk”.
  • Seperti Iblis, ketika ia mengelak untuk tidak menghormati Adam, ia berkelit pada hakikat takdir. (Ketika ia ditanya mengapa engkau tidak menghormati Adam. Ia menjawab, “Ini kan takdir-Mu Ya Allah?”). Dengan begitu ia kufur dan diusir dari surga. Sebaliknya, Nabi Adam as selalu menimpakan kesalahan pada dirinya, maka mereka bahagia dan diberi rahmat (tidak mempermasalahkan takdir Allah SWT).

Syahadat

  • La ilaha illallah
  • Allah
  • Hu
  • Haqq
  • Hayy
  • Qayyum
  • Qahhar
  • Fattah
  • Wahhab
  • Wahid
  • Ahad
  • Shamad

Semua nama ini harus dilafalkan bukan hanya oleh lisan, melainkan juga oleh hati. Hanya setelah itulah mata hati akan melihat cahaya hakikat.

Dua jenis penyucian:

  • Pertama, penyucian zahir, ditentukan oleh peraturan agama dan dilakukan dengan membasuh tubuh badan dengan air yang bersih.
  • Kedua, penyucian batin, dilakukan dengan menyadari kekotoran di dalam diri, menyadari dosanya dan bertaubat dengan ikhlas. Penyucian batin memerlukan perjalanan kerohanian dan dibimbing oleh guru kerohanian.

Zakat

  • Zakat, ‘sedekah yang indah’ adalah perbuatan yang baik. Sebagian dari rezeki yang kita terima, baik kebendaan dan kerohanian, belanjakanlah kerana Allah, kepada Allah.
  • Walaupun balasan berlipat dijanjikan, jangan melakukannya karena balasan tersebut. Jangan meminta dan mengharapkan faedah keduniaan bagi perbuatan baik kamu. Lakukanlah karena Allah semata.
  • Faedah lain daripada sedekah ialah kesan penyuciannya. Ia menyucikan harta dan diri seseorang. Jika diri dibersihkan daripada sifat-sifat ego maka tujuan sedekah atau zakat batin (kerohanian) tercapai.
  • Segala sesuatu yang diberikan sebagai zakat akan melalui tangan Allah sebelum sampai kepada orang miskin. Karena itu, tujuan zakat tidak semata-mata untuk membantu kaum fakir, karena Allah Maha Memenuhi semua kebutuhan, termasuk kebutuhan kaum fakir. Tujuan sejati zakat adalah agar niat orang yang berzakat diterima oleh Allah.
  • Mukmin sejati: pasti dermawan. Mereka tak pernah mementingkan diri sendiri; tidak pernah mengharapkan pujian maupun ketenaran, apalagi sebutan sebagai orang yang baik; bahkan mereka tidak mengharapkan pahala di akhirat bagi kesalehan dan ketaatan mereka. Mereka menjadi sangat dermawan karena mereka sama sekali tidak membutuhkan dan tidak memiliki apa-apa lagi.

Puasa

  • Selain puasa lahir, ada puasa batin. Puasa batin adalah menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Sedikit saja niat buruk hinggap di hatimu, puasamu rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, puasa batin dijaani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat. Itulah puasa sejati.
  • Puasa paling baik adalah puasa hakikat, yaitu mencegah hati dari menyembah selain Allah. Caranya adalah dengan membutakan mata hati dari segala yang ada, sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah. Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk manusia, dan Dia menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri.
  • Puasa ruhani batal jika cinta kepada selain Allah, meski sebesar atom memasuki hatinya. Jika itu terjadi, harus dimulai lagi dari awal.

Selalu hati-hati dari sifat buruk yang menyusup

Walaupun perbuatan seseorang itu tampak baik, dan kesehariannya tampak saleh, namun bila sifat-sifat buruk yang merusak menyusupinya, orang itu termasuk kelompok mufsidin. Misalnya sabda Nabi:

  • Marah itu merusak keimanan sebagaimana cuka merusak madu
  • Hasad itu membakar kebaikan, sebagaimana api membakar kayu
  • Ghibah itu jauh lebih buruk dari pada zina
  • Fitnah itu sesuatu yang tertidur, Allah melaknat siapa yang membangunkannya
  • Orang bakhil itu tidak akan masuk surga meskipun ‘abid atau zahid
  • Riya itu syirik khafy
  • Para pemfitnah itu tidak akan masuk surga

Author: Redaksi MJS

ABOUT THE AUTHOR

Redaksi MJS

Menuju Masjid Membudayakan Sujud


COMMENTS