Rumah di mana aku dilahirkan cukup dekat dengan persawahan dan tambak. Tentu saja di sana ada banyak sungai dengan air meruah yang jamak dimanfaatkan untuk mengairi hamparan sawah dan tambak yang membentang luas. Bantaran sungai juga banyak ditumbuhi rerumputan segar yang beberapa hewan ternak kambing, sapi, kerbau dilepas di situ. 

Di sungai-sungai itu cukup mudah bagi orang menemukan beragam ikan air tawar seperti beberapa ikan yang di kampungku disebut ikan sepat, betik, kutuk, keting, lele, mujaer, bader, wader dan lainnya. 

Di permulaan musim hujan ada hal unik yang membuat aku penasaran. Kenapa ada banyak ikan air tawar yang bermunculan pada awal-awal musim hujan? Padahal banyak sungai yang mengering ketika tiba musim kemarau.

Menurut penuturan orang-orang dewasa kala itu, konon saat mendekati musim kemarau, air sungai yang perlahan surut dan di beberapa titik berangsur mengering, ikan-ikan mulai mendekat ke lobang-lobang yuyu (kepiting sungai) yang masih ada sisa-sisa air. Dari situ, ikan-ikan menguyupkan badannya untuk bertahan hidup sampai musim hujan tiba lagi. Tidak mengherankan, jika peristiwa alam seperti ini diikuti dengan kemunculan banyak orang yang memancing di sungai saat memasuki musim hujan. 

Bagaimana dengan ikan di sungai berair payau atau asin yang biasa dimanfaatkan petani tambak untuk mengairi tambak? Cerita di sini tidak kalah menariknya. Ada  beragam jenis ikan yang juga mudah ditemukan seperti ikan mujaer, ploso, blodok, janjan, keting, belanak, bandeng, udang dan lainnya. Selain banyak yang memancing, ada juga yang menjala atau menyongklo malam hari. 

Namun sejak ditemukan teodan, apotas dan sejenisnya yang merupakan ramuan racun kimia pembasmi ikan-ikan yang dianggap oleh petani tambak sebagai ikan predator atau semacam hama. Akibatnya ekosistem menjadi rusak. 

Rusaknya ekosistem kian meluas ke air tawar saat apotas dan teodan diperjualbelikan secara bebas. Aku menyaksikan bagaimana remaja dan orang dewasa saat itu yang cukup uang bisa membelinya dan merasa riang mengapotas, meneodan ikan-ikan di sungai. 

Akibatnya dari ikan paling kecil hingga yang besar pada mabok dan mati. Kadang-kadang ayam dan bebek yang sedang mencari makan di sungai juga ikutan mati. 

Selain itu, kenyataan ini diperparah lagi dengan pencemaran air sungai yang menggila. Khususnya sungai yang mampu menampung debit air dalam volume besar yang datang dari hulu ke hilir laut. 

Banyak berdiri pabrik tapioka di seberang desa yang limbahnya dibuang secara seenaknya di sungai. Fakta ini diperparah juga dengan kemunculan pabrik tebu yang melakukan pembuangan limbah yang sama sembarangan. 

Lindur, begitu orang kampungku menyebut bau menyengat limbah pabrik yang biasa dibuang ke sungai besar pada sore hari. Hingga khalayak di kampung menamai kali kecing, atau sungai yang baunya menyengat. 

 *** 

Atas nama uang, mata orang bisa mendadak jelalatan, rakus dan amnesia terhadap anak cucu. Penemuan teodan dan apotas misalnya yang tentu saja produk olah pikir orang berpendidikan. Secara tidak disadari, penemuan itu memiliki daya rusak ekosistem mahluk hidup di banyak sungai. 

Atas nama kemudahan memperoleh dan menumpuk uang, orang tidak mempedulikan imbas buruk ekosistem kehidupan. Seperti limbah pabrik tapioka dan gula yang bebas leluasa dibuang di sungai-sungai yang biasa untuk irigasi sawah dan tambak. 

Banyak yang tidak sadar, bahkan enggan menyadari pentingnya mengikuti protokol pengolahan dan pembuangan limbah yang ramah ekosistem. Memang pengolahan limbah sesuai dengan protokol yang benar membutuhkan waktu, lokasi dan tambahan biaya. Akibatnya nyaris semua produsen tapioka dan gula mengabaikannya. Bahkan terkesan ada pembiaran pembuangan limbah.

Efek yang lazim terjadi, tambak dan sawah tak bisa lagi diandalkan untuk menyangga perekonomian. Pohon kelapa yang hampir tumbuh di tiap pekarangan rumah banyak yang mati, bahkan beberapa hampir punah akibat membiaknya hewan kuwawong yang diduga kuat dari imbas rusaknya ekosistem. Padahal pohon kelapa juga menjadi salah satu sandaran perekonomian warga di kampung. 

Fakta selanjutnya yang secara berangsur terjadi adalah banyaknya anak muda yang berangkat mengadu nasib ke kota-kota besar bahkan sampai ke manca negara. Kampungku yang perekonomiannya dulu semarak kini tinggal kenangan. Waktu aku kecil hasil panen dari tambak dan sawah melimpah ruah. Tidak sedikit anak-anak muda seberang desa juga datang mencari penghidupan di desa ini. 

Tetapi kini lahan sawah dan tambak di desaku tidak seproduktif dulu. Tidak sedikit petani dan petambak yang mengeluh, alih-alih untung, justru mereka kerap bernasib buntung.

Kenyataan serupa mungkin juga terjadi di daerah dengan sebab-sebab yang melatarinya, dan bahkan mungkin lebih parah.  Ada pepatah suku Cree Indian yang patut untuk direnungkan bersama; “Ketika pohon terakhir telah ditebang , sungai terakhir telah tercemar dan ikan terakhir telah terpancing, manusia mulai tersadar kalau ia tidak bisa makan uang”.

Author: Arif Rahman Hakim

ABOUT THE AUTHOR

Arif Rahman Hakim

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hobi membaca buku keislaman bercorak tasawuf


COMMENTS