Judul: Omelan: Desa, Kampung, Kota | Penulis: Bandung Mawardi | Penerbit: Kampungnesia dan Jagat Abjad, 2018 | Tebal: xxviii + 450 halaman | ISBN: 978-602-5250-66-8

Koran masih diminati masyarakat Indonesia. Meski berada di tengah-tengah gempuran arus media sosial yang mewartakan kabar dengan cepat, koran masih eksis dengan kedalaman berita yang dimuat. Hukum, ekonomi, pendidikan, budaya, sains, kriminal, dan seabrek hal-hal yang berkelindan dengan kehidupan sehari-hari manusia diwartakan melalui koran.

Sebut saja nama Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi Solo hadir sebagai pengamat sekaligus (kadang) merangkap sebagai komentator konten koran memiliki cara unik untuk berterima kasih pada koran. Ia sengaja membaca beberapa tulisan di koran yang dirasa perlu untuk dikomentari dan diomeli dengan tulisan kemudian dikumpulkan dan dibukukan.

Di bukunya yang bertajuk Omelan: Desa, Kampung, Kota ini, kita bisa mendapati komentarnya yang mengandung kritik itu. Dari tajuknya saja sudah ketahuan bahwa kabar tentang desa, kampung, dan kota lebih membuatnya gelisah ketimbang konten kriminal yang terus terjadi, pendidikan yang tak kunjung rampung, atau politik yang penuh dengan intrik.

Ia berangkat dari kabar yang dimuat di koran Kompas, Media Indonesia, dan Solo Pos dari mulai bertarikh pada 2 Januari 2018 s/d 12 Juni 2018. Ia juga memilih kabarnya secara acak, sesuai karepe orangnya ingin membaca warta apa di hari itu. Coba simak ucapannya di bagian pengakuan, “Aku memilih sembarangan, tak memerlukan ketentuan ketat berlagak periset atau asal menuruti jari dan mata”.

Kritik tentang kota, kampung, desa

Kota memang tempat yang dikunjungi oleh banyak orang. Kota menjadi magnet manusia yang ingin menikmati hidup dengan laku kemajuan dan kemodernan. Mall, apartemen, hotel berlomba-lomba mempercantik kota melalui ragam arsitektur bangunan dan fasilitas di dalamnya. Begitu pun taman dibangun, alun-alun diadakan, serta berbagai festival dimunculkan guna mewujudkan kota idaman. Kota perlu perhatian masyarakat luas. Kalau perlu sampai ke panggung internasional.

Kota Solo misalnya. Salah satu kota dengan sejarah panjang di Indonesia ini tidak kekurangan sebutan. Banyak acara diselenggarakan justru untuk menambah sebutan itu. Sebutan baru Kota Solo sebagai Kota Otomotif yang ditempuh dengan cara menampilkan atraksi 168 klub otomotif yang terdiri dari mobil dan montor (hlm. 200). Langit Kota Solo hari itu sangat mungkin dipenuhi sesak dengan udara penuh polusi.

Namun berbicara kota tidak melulu tentang kehingar-bingaran. Kota juga lekat dengan sifat kompetitif. Tidak hanya sesama manusia, pohon malah dikorbankan jika memang diperlukan. Pohon-pohon tidak akan memprotes atau berdemonstrasi menuntut keadilan hidupnya kala ditebang. Nyatanya, selama Juli 2016 sampai Juli 2017, ada 5.353 pohon di Kota Jakarta dipaksa mengalah untuk pembangunan infrastruktur. Detailnya: 4.416 ditebang, sedang 937 sisanya dipindahkan. Celakanya lagi, kegiatan menanam bukan untuk mengembalikan makna dan mempelajari pohon sebagai sesama makhluk, melainkan sebagai pamer slogan, kaos, dan aktivitas untuk berswafoto (hlm. 10-12).

Situasi di kampung juga tidak jauh berbeda dengan kota. Kampung juga ingin terkenal. Mengecat menjadi pilihan alternatif ketimbang mempopulerkan kampung melalui festival atau cerita. Kampung membaca bahwa di era milenial manusia tidak perlu dongeng, tapi perlu tempat berfoto yang estetik dan unik. Contohnya, kampung di Kecamatan Klaten Tengah. Kampung dicat untuk mengundang banyak orang agar berdatangan. Lahan perekonomian pun terbangun di kawasan itu (hlm. 2). Meski di satu sisi, mengecat masih belum menjadi solusi ampuh untuk menyelesaikan beragam problem di kampung semisalnya pada bidang pendidikan, kesehatan.

Tapi melalui itu, kampung memperoleh julukan populer yang ujung-ujungnya menunjang ketahanan pangan warganya. Ya meskipun di banyak kasus, kita mendapati kemonceran nama kampung hanya bertahan dalam kurun waktu tidak lama. Sebut saja kampung Sanggrahan. Kampung yang terkenal dengan kampung bakpia ini tengah mengalami masalah serius. Pasalnya bakpia telah melampui terkenal, sehingga banyak diproduksi kemudian dijajakan di sembarang tempat. Mau tidak mau pelaku usaha asal Kampung Sanggrahan mempertaruhkan kemurahan harga, selain variasi dan rasanya juga harus tetap dijaga (hlm. 88-89). Persaingan pastinya terjadi.

Nah, selanjutnya perihal desa yang sedikit banyak mulai mengalami kemajuan juga komentari. Kata penulisnya, kearifan lokal yang banyak diperbincangkan ulang, dilestarikan, dan digunakan sebagai ciri khas desa, kemasannya sudah berbeda. Dusun Tanon, Desa Ngrawan menjadi prototipe dalam hal ini. Sebutan Desa Menari disajikan melalui ragam pertunjukan tari yang telah lama dilestarikan oleh para sesepuh desa. Menarinya memang tetap, tapi tidak lagi bicara tentang tradisi menari dan penghayatan maknanya, namun telah bergeser menjadi destinasi wisata dan hiburan semata (hlm. 134).

Desa sekarang juga tidak melulu berkisah tentang keterbelakangan. Desa bukan pabrik orang kurang cerdas—untuk tidak mengatakan berpendidikan rendah—yang harus dicerdaskan dengan pergi ke kota dengan iming-iming kemajuan. Desa telah memiliki sumber daya manusia yang mumpuni meski secara kuantitas tidak banyak.

Bagusnya buku yang ditulis Bandung ini adalah tidak melihat kota, kampung, dan desa sebagai tempat yang timpang. Di era ini tempat-tempat itu memiliki problem yang sama, yaitu ingin populer kemudian dikunjungi banyak wisatawan dan mendongkrak perekonomian. Soal seni, tradisi, dan kebudayaan tidak lagi dihayati secara mendalam, toh semua bisa diuangkan dengan cara menggelar hiburan atau festival dengan dalih melestarikan seni, tradisi, dan kebudayaan.

Hanya saja yang dibahas di buku ini melulu merujuk pada tempat-tempat di Pulau Jawa. Padahal ada kota, kampung, atau desa lain yang saya rasa patut dikomentari juga. Apakah koran-koran sebagai sumber primer penulisannya hanya mewartakan tempat-tempat di Pulau Jawa semata? Atau memang Bandung yang ketepatan mood-nya memilah tempat-tempat di Pulau Jawa? Menarik menunggu terbitan jilid 2 kalau memang ada direncanakan dan mungkin akan membahas desa, kampung, kota di luar Jawa, serta tetap dengan omelannya yang khas.

Author: Ahmad Sugeng Riady

ABOUT THE AUTHOR

Ahmad Sugeng Riady

Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama, Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Marbot Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS