Leksikologi merupakan sebuah cabang ilmu linguistik yang mengkaji kosa-kata dan maknanya.

Secara sederhana, leksikologi disamaartikan sebagai kamus. Hal ini tampak pada pengertian kamus dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang mendefinisikan sebagai buku yang berisi kumpulan istilah atau nama yang disusun menurut abjad beserta penjelasan tentang makna atau penggunaannya.

Dalam bahasa Arab, kata kamus diartikan denganالقاموس  (al-qamus) atau المعجم (al-mu’jam). Perbedaan dua kata tersebut dapat dilihat secara etimologi dan terminologi.

Secara etimologi, al-mu’jam diambil dari asal kata al-‘ujm (العجم) yang secara literal berarti, “Bukan orang Arab atau orang yang tidak fasih berbicara, sekalipun ia keturunan Arab”.

Selain itu, Ibnu Jinni dalam kitabnya Sirr Sina’ati al-‘Irab (سر صناعة الاعراب) mengatakan bahwa م ج ع (akar kata mu’jam) dalam percakapan Arab dipakai untuk menunjukkan makna al-ibham (اللإبهام) dan al-ikhfa’ (الإخفاء) yaitu tidak jelas dan menyembunyikan yang merupakan akronim (lawa kata) dari kata al-bayan (البيان  ) dan al-ifsah (الإفصاح).

Secara istilah, makna mu’jam yang digunakan orang Arab adalah suatu kitab yang menghimpun sejumlah kata (mufradat) suatu bahasa yang disertai dengan penjelasan atau tafsiran maknanya. Kata-kata tersebut disusun sedemikian rupa, berdasarkan teknik khusus (Emil Ya’qub, 1985).

Sedangkan, kata al-qamus yang memiliki makna al-bahr (البحر) atau al-bahr al-muhit (البحر المحيط) yang berarti, “Laut atau laut yang luas” (Emil Ya’qub, 1985).

Berbeda halnya dengan kata mu’jam, kata qamus pada mulanya tidak langsung digunakan oleh para ulama Arab dalam karyanya, mereka lebih suka menamai karya mereka yang berkaitan dengan leksikologi dengan sifat yang terikat pada makna qamus.

Contohnya penggunaan kata المحيط (yang meliputi, yang luas) yang mensifati kata al-bahr. Hal ini dilakukan oleh Ibnu `Ibad (938-995 M) dengan leksikografis miliknya yang berjudul al-muhit (المحيط). Ibnu Saydah (1007-1066 M) yang menyebut mu’jam miliknya dengan al-Muhkam wa al-Muhit al-A’zam (المحكم و المحيط الأعظم). Sedangkan, kata qamus sendiri pertama kali digunakan dalam sebuah ensiklopedi berjudul القاموس المحيط yang ditulis oleh Fairuzabadi (1329-1415 M).

Perkembangan leksikografi bahasa Arab

Dalam sejarah leksikografi Arab, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan pertama kali bangsa Arab mulai menyusun kamus secara ilmiah. Namun, beberapa pengarang Arab mengakui bahwa kamus Arab (معجم عربي) pertama yang disusun secara sistematik dilakukan pada abad kedua hijriah. Hal ini ditindaklanjutkan dengan munculnya karya al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w.170 H) dengan kitabnya al-‘Ayn (كتاب العين ).  

Kitab al-‘Ayn merupakan kamus Arab pertama dan terlengkap yang memiliki pola penyusunan menarik.

Diterbitkan pada abad-8 dan disusun berdasarkan fonetik dari huruf ع (ain) yang letaknya paling dalam (ujung tenggorokan) dan diakhiri dengan huruf م (mim) yang letaknya paling luar (bibir). Kamus ini menjadi rujukan dari semua karya leksikografi bahasa Arab setelahnya (Kees Versteegh, 1997).

Adapun perkembangan leksikografi Arab terdiri dari tahap non-sistemik, tematik, dan sistemik.

Menurut Ahmad Amin dalam bukunya  ظهر الإسلام, proses non-sistemik diawali dengan melakukan penelitian ke pelosok desa yang dipandang belum tersentuh dan bercampur dengan kebudayaan asing.

Para ahli bahasa juga membuat kesepakatan terhadap bahasa yang timbul oleh tiruan bunyi alam.

Pada fase tematik, beberapa kata yang telah disepakati dikumpulkan berdasarkan topik tertentu, lalu mulailah penyusunan kamus secara sistemik dan komprehensif sehingga menghasilkan sebuah kamus dengan teknik penyusunan yang berbeda-beda.

Pada mulanya, leksikologi bahasa Arab muncul karena kebutuhan orang Arab akan penafsiran lafaz-lafaz Al-Qur’an dan keinginan yang kuat untuk memelihara kitab suci Al-Qur’an dari kesalahan pengucapan dan pemahaman.

Namun, pada saat diturunkannya Al-Qur’an bangsa Arab merupakan bangsa yang kurang memperhatikan pentingnya kodifikasi bahasa.

Seperti yang diketahui, kodifikasi bahasa digunakan untuk mempertahankan sebuah bahasa dan menjaga eksistensi suatu kaum.

Mayoritas bangsa Arab yang buta huruf dan lebih senang berbahasa lisan menjadi faktor pendukung lain timbulnya keterlambatan untuk menyadari kodifikasi bahasa. Padahal sejak zaman Rasulullah Saw budaya mencatat kosa-kata sudah dilakukan.

Secara keilmuan, umat Islam mengalami keterlambatan, namun secara praktiknya jauh sebelum munculnya ilmu leksikografi pada masa Abbassiyah, umat Islam telah mempraktikkan proses pencatatan kata (leksikologi sederhana).

Hal ini didasarkan pada argumen bahwa sebuah ilmu tidak serta merta langsung jadi dan matang, tentunya terdapat cikal bakal atau benih sebelumnya.

Pada masa Rasulullah Saw ketika menyampaikan wahyu kepada para sahabatnya dan terdapat kata-kata yang sulit dimengerti, Rasul langsung menerangkannya dan beberapa sahabat mencatat penjelasan terhadap kata-kata sulit, salah satunya Ibn Abbas.

Dalam sebuah dialog, Ibn Abbas ditanya tentang arti kata كنود dalam ayat إن الإنسان لربه لكنود . Beliau menjawab الكفور النعم وهو الذي يكفر وجده و يمنع رفده ويجيع عبده كنود berarti, “Orang-orang yang mengingkari nikmat yakni mengingkari keberadaannya, tidak mau memberikannya, membuat orang lain lapar (Ahmad Saehudin, 2005).

Keahlian Ibn Abbas menjelaskan dan menafsirkan kata-kata dalam Al-Qur’an ini menghasilkan sebuah karya yang dinisbatkan padanya yaitu kamus غريب القرآن.

Tidak terlepas dari fase-fase perkembangan leksikografi bahasa Arab, para ahli bahasa terus melakukan kodifikasi bahasa untuk menambah khazanah kebahasaan hingga saat ini.

 والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Author: Bening Permata Dini

ABOUT THE AUTHOR

Bening Permata Dini

Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


COMMENTS