Satu Napas Islam, Beda Jalan

slider
05 Januari 2022
|
694

Sejak pertama kali Islam dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad pada abad ke-6 Masehi, Islam berhasil menjadi peradaban paling maju di muka bumi selama beberapa abad kemudian. Dari hanya terdiri dari segelintir orang dan menguasai sebagian kecil wilayah, kemudian bertransformasi dengan kecepatan luar biasa hingga berhasil menguasai sepertiga daratan dunia.

Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests: Penaklukan Terbesar dalam Sejarah Islam yang Mengubah Dunia (2010), menyebut pada 632, Islam hanya terbatas pada suku berbahasa Arab yang tinggal di Arab dan tepi Padang Pasir Syiria dan Irak. Namun, dalam rentang satu abad setelah Kanjeng Nabi wafat, kekuasaan Islam telah membentang ke seluruh jazirah Arab yang meliputi Asia Tengah, Afrika Utara, hingga sebagian kecil Eropa. Kecepatan penaklukan semacam ini hanya bisa ditandingi oleh penaklukan Alexander Agung dan Jengis Khan.

Penaklukan muslim yang begitu mengagumkan tersebut mencapai puncak ketika masa kekhalifahan Abbasiyah pada abad ke-9 hingga 11 Masehi. Pada masa Abbasiyah, kekuasaan Islam melebar semakin jauh hingga menyentuh sebagian besar Eropa, Asia Selatan, hingga Afrika Tengah. Pada era itu pula, umat Islam menggapai kejayaan tidak hanya di bidang politik, tapi juga di bidang ilmu pengetahuan, seni, sastra, hingga filsafat.

Ahmed T. Kuru dalam Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2021) mengatakan dunia Islam unggul secara keilmuan, ekonomi, dan militer dengan peradaban lain karena meletakkan para sarjana dan pedagang dalam status sosial tinggi. Ketika itu, para ilmuwan mendapat sokongan tak terbatas dari khalifah untuk mengembangkan pengetahuan. Dampak dari hal demikian, peradaban Islam berhasil melahirkan banyak pemikir penting dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia, seperti al-Farabi, al-Kindi, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi.

Saat Islam sedang di puncak kemegahan, peradaban Barat justru sedang redup. Peradaban Barat tertinggal di segala bidang dengan peradaban Islam. Era ketika peradaban barat sedang terpuruk ini dalam sejarah dikenal sebagai Era Kegelapan (dark age). Pada masa tersebut, Barat mengalami stagnasi berpikir karena pengaruh dominasi gereja terhadap pengetahuan. Gereja memonopoli secara sepihak penafsiran atas kitab suci. Sementara itu, semua tafsir di luar gereja dilarang.

Monopoli demikian sangat berdampak pada cara berpikir orang-orang saat itu. Tidak ada kebebasan berpikir dan inovasi dalam kehidupan orang-orang barat. Semua terbatasi dalam lingkup gereja. Sedangkan peradaban Islam justru sebaliknya. Ketika sedang di puncak kejayaan, kebebasan berpikir justru dibuka selebar-lebarnya.

Kemajuan peradaban Islam bertahan kurang lebih sekitar tiga abad. Dalam buku yang sama, Ahmed Kuru menyebut peradaban Islam mulai mengalami kemunduran sedikit demi sedikit ketika masuk pada awal-awal abad ke-12 hingga 14 Masehi. Menurut tesis Kuru, kemunduran peradaban Islam karena ada rekonfigurasi tatanan kekhalifahan yang tidak lagi menyokong pengembangan ilmu pengetahuan. Khalifah kala itu mendukung para ulama-ulama yang basis keilmuannya hanya fokus pada bidang agama semata.

Sementara itu, ulama-ulama yang juga ahli filsafat, kedokteran, matematika, dan berbagai ilmu lain di luar agama dipinggirkan. Hal ini kemudian berdampak pada kemandekan berpikir di tubuh umat Islam, yang ujungnya terakumulasi dalam serangan bangsa Mongol sampai mengakibatkan keruntuhan Kesultanan Abbasiyah.

Ketika peradaban Islam meredup, Barat justru sebaliknya. Peradaban Barat malah mengalami badai kebebasan berpikir akibat munculnya kesadaran untuk menggugat dan mengkritisi otoritas gereja. Era tersebut lalu dikenal dengan nama Renaissance atau Pencerahan.

Era Pencerahan mencapai puncaknya ketika Barat berhasil menemukan berbagai penemuan penting seperti mesin uap dan mesin cetak yang secara radikal merevolusi tatanan peradaban Barat. Penemuan dua benda tersebut mempercepat perubahan sosial di seluruh Eropa yang nantinya melahirkan gerakan Aufklarung.

Kemajuan peradaban Barat berbanding terbalik dengan yang terjadi di tubuh peradaban Islam. Berbagai kemajuan yang sebelumnya dicapai telah redup dan mundur. Peradaban Islam yang tadinya memimpin, malah tertinggal dari peradaban barat.

Gerakan Reformisme Islam

Salah satu dampak nyata kemunduran peradaban Islam adalah terjadinya penjajahan di berbagai negeri yang didiami umat muslim oleh bangsa Eropa. Peradaban Islam yang awalnya superpower, di era pencerahan Barat tidak bisa berbuat banyak menghadapi situasi tersebut.

Padahal, di masa-masa itu kekhalifahan Islam masih tegak berdiri dalam rupa Kesultanan Turki Utsmani/Ottoman. Namun, imperium Ottoman tidak punya pengaruh yang cukup untuk melindungi negeri muslim dari kolonialisme.

Dalam situasi demikian, muncul banyak aspirasi di internal umat muslim untuk merespons realitas tersebut. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Jamaludin al-Afghani adalah dua tokoh penting yang bisa dikatakan menjadi pionir gerakan yang berusaha merespons kondisi itu. Keduanya oleh para sarjana disebut sebagai dua sosok kunci yang mempengaruhi jalannya sejarah peradaban Islam pada era kolonialisme berlangsung di daerah-daerah penting umat Islam.

Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787) merupakan pendiri sekaligus inspirator gerakan Wahhabi yang sangat berpengaruh di jazirah Arab. Menurut Ahmad Syafii Maarif dalam Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara (1985), gerakan Wahhabi bercorak puritan, radikal, dan kaku. Gerakan ini muncul sebagai respons protes terhadap kemerosotan internal di tubuh umat Islam.

Abdul Wahhab melihat, bahwa kehidupan umat Islam saat itu telah semakin jauh dari ajaran Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Abdul Wahhab mengajak umat Islam untuk kembali kepada ajaran Islam yang semata berdasar Al-Quran dan Sunah. Menurutnya, penyebab peradaban Islam mengalami kemunduran karena terjadi penyimpangan dalam praktik keberagaman umat Islam yang sudah tercampur oleh sesuatu yang tidak diajarkan Al-Quran dan Sunah, dalam rupa takhayul, bid’ah, churafat (TBC).

Umat Islam menurut Abdul Wahhab, seperti diulas Nur Khalik Ridwan dalam Sejarah Lengkap Wahhabi (2020), sibuk melakukan berbagai ajaran yang tidak ada rujukannya dalam Nash Al-Quran dan Sunah seperti ziarah kubur ke makam para wali, merayakan Maulid Nabi, atau pengultusan seseorang sebagai wali/orang suci. Bagi Abdul Wahhab, semua aktivitas tersebut tidak pernah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Baginya, karena tidak diajarkan, sudah seharusnya umat Islam tidak melakukannya.

Dalam pandangan tersebut, Abdul Wahhab tidak melihat faktor eksternal di tubuh Islam sebagai faktor kemunduran peradaban Islam. Ia hanya menyorot dinamika keberislaman para muslim saat itu yang dianggap telah melenceng jauh dari Islam awal yang diajarkan. Karena itu, Abdul Wahhab mengampanyekan penghapusan segala bentuk penyelewengan dalam ajaran Islam dan pengembalian Al-Quran dan Sunah sebagai satu-satunya petunjuk kehidupan umat Islam.

Apa yang dilakukan Abdul Wahhab pada masa ketika ia hidup memiliki pengaruh besar dalam dinamika internal umat Islam. Banyak yang terpengaruh oleh gagasannya ini. Di Indonesia sendiri jejak awal pengaruh gerakan Wahhabi terlihat pada gerakan Paderi di Sumatera Barat pada abad ke-19. Para sarjana Barat melabelkan Abdul Wahhab sebagai sosok pembaharu Islam atau reformisme Islam untuk aktivitas pemurniannya tersebut.

Pan Islamisme

Jamaludin al-Afghani  (1839-1897) tidak hidup sezaman dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Ketika Afghani lahir, Abdul Wahhab telah lama wafat. Meski tidak hidup pada era yang sama, Afghani tumbuh ketika gerakan Wahhabi ada di fase perkembangan yang luar biasa. Karena itu, sulit untuk tidak menyebut bahwa ada semangat Abdul Wahhab yang menginspirasi aktivitas Afghani.

Afghani adalah tokoh penting dalam gerakan modernisme Islam. Gerakan ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Wahhabi dalam konteks merespons persoalan kemunduran peradaban Islam. Keduanya sama-sama gerakan yang berupaya memperbarui pemikiran dan praktik beragama umat Islam. Afghani melihat bahwa, kemunduran peradaban Islam disebabkan oleh faktor internal dan eksternal umat Islam sekaligus.

Menurut Yudi Latif dalam Genealogi Intelegensia: Pengetahuan & Kekuasaan Inteligensia Muslim Indonesia Abad XX (2005), Afghani menitikberatkan perhatian pada bagaimana mengatasi kelumpuhan dan perpecahan yang terjadi di tubuh Islam. Dalam pandangannya, diperlukan pembaruan dalam pemaknaan dan praktik kehidupan umat Islam di seluruh dunia.

Hal demikian didasari pada analisa Afghani yang melihat bahwa kehidupan umat Islam selama ratusan tahun telah dikuasai oleh takhayul, bid’ah, dan sikap fatalistik dalam menjalani hidup. Umat Islam tidak menjadikan Al-Quran dan Sunah sebagai pegangan hidup satu-satunya. Karena itu, Afghani berjuang untuk membebaskan hati dan otak umat Islam dari berbagai hal tersebut dengan mengembalikan Al-Quran dan Sunah sebagai rujukan utama hidup.

Hanya saja, Afghani tidak seperti Abdul Wahhab yang cenderung mengedepankan taqlid buta kepada Al-Quran dan Sunah. Afghani menekankan penggunaan akal manusia secara lebih bebas. Afghani, seperti dijelaskan Syafii Maarif (1985), percaya bahwa akal harus menjadi dasar iman seorang muslim. Pada titik ini, Afghani bersimpang jalan dengan Abdul Wahhab yang justru seperti menutup peran akal dalam kehidupan umat Islam. Afghani malah menghendaki agar para muslim menggunakan akal dalam upaya kembali ke Al-Quran dan Sunah.

Sementara secara eksternal, menurut Afghani, kemunduran peradaban Islam disebabkan oleh kolonialisme Barat. Kolonialisme telah menghancurkan dan membelenggu peradaban Islam hingga membuat peradaban Islam tertinggal. Afghani lalu merumuskan visi politik pembebasan dunia Islam dari penjajahan Barat lewat gagasan Pan-Islamisme.

Ide ini bermakna sebagai pembentukan aliansi dari berbagai negeri muslim yang tercerai-berai akibat kolonialisme dalam satu panji bernama Pan-Islamisme. Tujuan utamanya adalah untuk melawan dan membebaskan umat Islam dari penjajahan. Afghani sangat anti terhadap pemerintahan despotik. Ia malah pembela mati-matian sistem demokrasi yang didukung rakyat.

Di Indonesia, pengaruh Afghani dapat dilacak di banyak tokoh pergerakan pada masa awal revolusi. Sosok macam H.O.S Tjokroaminoto merupakan contoh dari mereka yang terpengaruh gagasan Afghani. Sedangkan di Timur Tengah, Muhammad Abduh adalah tokoh paling terkenal dari mereka yang terpengaruh ide Afghani. Lewat Muhammad Abduh inilah nama Afghani kemudian dikenal sebagai peletak pondasi gerakan Modernisme Islam yang dipopulerkan Abduh.

Beda Jalan

Muhammad bin Abdul Wahhab dan Jamaludin al-Afghani dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer menjadi nama yang tidak mungkin untuk tidak disebut. Gagasan mereka berdua telah berhasil mempengaruhi dunia Islam selama ratusan tahun. Keduanya sama-sama berada pada posisi yang melihat kemunduran Islam karena menilai umat telah melenceng jauh dari Al-Quran dan Sunah.

Karena itulah, mereka sama-sama menyerukan untuk adanya pembaruan dalam pemikiran dan praktik keberislaman dengan mengembalikan Al-Quran dan Sunah sebagai rujukan utama umat Islam. Menurut mereka berdua, hanya dengan memurnikan ajaran Islam dari segala anasir yang tidak ada dasarnya umat Islam akan bisa menggapai kejayaan.

Meskipun begitu, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Abdul Wahhab fokus pada pembaruan di ranah internal dengan gerakan Wahhabinya, sedangkan Afghani melangkah lebih jauh dengan merumuskan gerakan politik Pan-Islamisme sebagai usaha pembebasan negeri muslim dari penjajahan. Walau berbeda, keduanya memiliki napas yang sama dalam konteks pembaruan Islam. Perbedaan mereka hanya pada jalan bagaimana mewujudkan pembaruan tersebut.

Sumber Rujukan

Kennedy, Hugh. 2010. The Great Arab Conquests: Penaklukan Terbesar dalam Sejarah Islam yang Mengubah Dunia. Jakarta: Pustaka Alvabet

Kuru, Ahmed T. 2021. Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Latif, Yudi. 2005. Genealogi Intelegensia: Pengetahuan & Kekuasaan Inteligensia Muslim Indonesia Abad XX. Jakarta: Prenada Media

Maarif, Ahmad Syafii. 1985. Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara

Ridwan, Nur Khalik. 2020. Sejarah Lengkap Wahhabi. Yogyakarta: IRCiSoD


Category : keislaman

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Willy Vebriandy

Penulis Lepas, Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.