Pemikiran Imam al-Bushiri dalam beberapa literatur tasawuf kita, apalagi dalam literatur filsafat Islam dapat dikatakan sedikit sekali. Bahkan, kalau boleh dikatakan sangat jarang sekali diekspos di ruang civitas akademik. Padahal, karya Imam al-Bushiri yang berjudul al-Kawakib al-Durriyah fi Madh Khayr al-Bariyyah, kalau dikaji secara serius di ruang civitas akademik tak kalah berkualitasnya dengan Nahwu al-Qulub karya Imam al-Qusyairi yang memadukan dan menggabungkan dua unsur keilmuan, ilmu nahwu dan ilmu tasawuf.

Nama Imam al-Bushiri seakan-akan tenggelam di lautan nama tokoh-tokoh sufi besar seperti, Abu Hasan al-Bashri (641-728), Rabi’ah al-Adawiyah (713-717), Abu Yazid al-Busthami (804-874), Imam Junaid al-Baghdadi (858-910), Abu Mansur al-Hallaj (858-922), Abu Qasim al-Qusyairi (986-1072), Imam al-Ghazali (1065-1111), Syekh Abdul Qadir Jailani (1077-1166), Ibnu Arabi (1165-1240), dan Jalaluddin ar-Rumi (1207-1273), serta tokoh-tokoh sufi lainnya yang sudah populer, baik secara personal biografis maupun secara sosio-keagamaan dalam bentuk pemikiran.

Nama, pemikiran, dan karya Imam al-Bushiri dikenal hanya pada tataran wilayah atau kelompok-kelompok pesantren yang berbasis salaf atau tradisional. Padahal tokoh yang memiliki nama lengkap Syarafuddin Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Sa’id ibn Hammad ibn Muhsin ibn ‘Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri ini, kalau dilihat dari tahun kelahirannya lebih tua daripada Imam Abu Hasan al-Bashri (641-728) dan Rabi’ah al-Adawiyah (713-717).

Imam al-Bushiri lahir di Dalas, Mesir sekitar tahun 608 Hijriyah dan besar di Bushir yang terletak di wilayah Bahansa Daratan Tinggi Mesir. Muasalnya dari Kabilah Bani Hanon di Maroko. Oleh karena itu, sebutan al-Bushiri yang melekat pada namanya merujuk pada sebuah daerah di Mesir bernama Bushair. Ia kemudian pindah ke Kairo, Mesir untuk belajar gramatikal Arab dan sastra Arab. Dalam tasawuf, Imam al-Bushiri merupakan pengikut tarekat Syadziliyah yang menjadi salah satu aliran tarekat mu’tabarah yang didirikan oleh Abu Hasan as-Syadzili.

Kendati dikenal sebagai salah satu tokoh dan pengikut tarekat Syadziliyah, akan tetapi Imam al-Bushiri lebih banyak dikenal sebagai seorang sastrawan dan penyair yang cukup hebat di zamannya. Kepiawaiannya dalam bersastra dan bersyair dapat dikatakan melampaui para sastrawan dan penyair yang ada di zamannya. Karyanya yang paling terkenal di kalangan umat Islam berjudul al-Kawakib al-Durriyah fi Madh Khayr al-Bariyyah atau “Bintang Kemilau dalam Memuji Makhluk Terbaik”, yang kemudian oleh kalangan santri di pondok pesantren tradisional lebih dikenal sebagai Qasidah Burdah Imam al-Bushiri.

Qasidah Burdah yang ditulis Imam al-Bushiri ini terdiri dari 160 bait. Dan dari 160 bait ini, dapat dibagi menjadi sepuluh tema pokok; 12 bait tentang prolog yang mengilustrasikan rasa kecintaan kepada sang kekasih Nabi Muhammad, 16 bait tentang peringatan akan bahaya menuruti hawa nafsu, 30 bait berisi puji-pujian kepada Allah dan nabi, 13 bait berkisah tentang kelahiran Nabi Muhammad, 16 bait berisi informasi tentang mukjizat-mukjizat, 17 bait pembicaraan tentang Al-Quran dan keutamaannya, 13 bait tentang Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, dan 12 bait tentang jihad, serta 12 atau 19 bait penutup dan permohonan ampunan.

Imam al-Bushiri menulis al-Kawakib al-Durriyah fi Madh Khayr al-Bariyyah atau Qasidah Burdah yang terdiri dari 160 bait ini didasari atas pengalaman keagamaan (religiuos expriences) yang dialami, dan pengalaman sosial-politik (social politic) yang terjadi ketika Imam al-Bushiri hidup.

Qasidah Burdah ini sering kali dibaca setiap malam Selasa dan Jumat, atau setiap ada musibah yang menimpa seperti wabah Covid-19 ini. Di beberapa tempat, misalnya di Jawa Timur, apalagi di Madura, pembacaan Qasidah Burdah Imam al-Bushiri sejak merebaknya Covid-19 semakin intens dilakukan, bahkan setiap malam dengan cara berkeliling. Pembacaan ini dinilai sebagai ikhtiar laku tolak bala wabah dan segala musibah yang kini tengah menyusahkan banyak manusia.

Pembacaan Qasidah Burdah Imam al-Bushiri ini juga didasari atas perasaan cinta serta rindu kepada Nabi Muhammad yang begitu besar, sehingga dengan demikian Allah dan Nabi Muhammad bisa memberikan pertolongan dan syafaat kepada umat manusia. Tujuannya tidak lain agar dijauhkan dari segala musibah, termasuk wabah Covid-19 yang hingga kini masih merajalela di seluruh muka bumi. Khasiat pembacaan ini merujuk pada cerita mengenai pertolongan dan syafaat yang pernah diterima oleh Imam al-Bushiri ketika menulis Qasidah Burdah.

Dalam suatu cerita, sebelum menulis syair burdah, Imam al-Bushiri mengalami penyakit kronis berupa kelumpuhan. Hampir semua dokter atau tabib yang ada pada saat itu tidak dapat menyembuhkan dan menyerah atas penyakit yang diderita Imam al-Bushiri.

Selain itu, sebagaimana kita ketahui, Imam al-Bushiri hidup di saat terjadinya gejolak politik antara Dinasti al-Ayyubiyah dan Dinasti Mamluk Bahriyah yang saling berebut kekuasaan sampai melahirkan konflik sosial. Konflik sosial itu terjadi di seluruh lapisan masyarakat. Banyak masyarakat kecil yang menjadi korban, sementara kaum elit politik sibuk saling menjegal jabatan politik dan memperkuat kedudukan kekuasaan.

Di tengah ketidakberdayaan atas penyakit yang menimpanya dan gejolak politik itu, Imam al-Bushiri menulis syair yang berisi tentang curahan dan kerinduannya kepada Nabi Muhamamd Saw. Syair tersebut dibaca dan dilantunkan berulang-ulang hingga suatu malam ketika sedang tidur, Imam al-Bushiri bermimpi didatangi Nabi Muhammad dan membacakan syair yang dikarang di hadapan Nabi Muhammmad. Mendengar syair yang dibacakan Imam al-Bushiri, Nabi Muhammad sangat gembira dan senang. Nabi Muhammad lalu mengusapkan telapak tangannya ke wajah dan tubuhnya yang lumpuh. Setelah bangun tidur Imam al-Bushiri langsung sembuh dari penyakit lumpuhnya.

Saking senangnya juga, Nabi Muhammad kemudian memakaikan jubah (burdah) berwarna hijau kepada Imam al-Bushiri. Jubah berwarna hijau dalam bahasa Arab disebut ‘burdah’ itu yang dikemudian hari, menjadi nama dari setiap syair-syair yang berisi tentang puji-pujiannya kepada Nabi Muhammad, lebih khusus lagi syair Qasidah Burdah Imam al-Bushiri.

Kini, pembacaan atas Qasidah Burdah Imam al-Bushiri lebih banyak didominasi oleh pembaca dari kelompok pedesaan tradisional, kendati ada juga beberapa pembaca yang mengamalkannya di tengah hiruk pikuk kebisingan kota. Mereka yang masih rutin dan telaten membacanya menyakini akan keistimewaan Qasidah Burdah Imam al-Bushiri, seperti memiliki kekuatan magis yang dapat menolak dan mencegah musibah serta mengobati segala wabah.

Author: Syahuri Arsyi

ABOUT THE AUTHOR

Syahuri Arsyi

Mahasiswa dan Penikmat Ngaji Filsafat Virtual


COMMENTS