Dua Iman di Meja Makan

Keriangan mudah menghampiri siapa

yang salatnya bolong-bolong

Menjelma gaji cukup, pekerjaan ringan, jalinan kisah penuh asih

 

Sementara salat dan doa yang penuh seluruh

Diganjar dengan pekerjaan tak riang, gaji belum cukup,

hingga pengkhianatan kisah kasih yang rimbun

 

Dua iman yang rentan jadi tak enak makan

selepas persemuan siang itu

Di meja, praduga diaduk dengan lahap api yang membakar

 

Segelas teh disiram es tiba-tiba datang

Tepat di hadapan dua amin yang rentan

Katanya, keceriaan dunia boleh direngkuh siapa saja

Ia pun jadi soal ujian paling ringan

Bagi salat dan doa-doamu yang tak pernah tulus

(Jogja, 2020)


 

Seolah-olah

Aku menyerah

Setelah kau tuang segala abu

Ke cangkirku yang riak

 

Kesejatian yang kau sebut-sebut

Tak kita temukan di sisi manapun

Termasuk di kesudahan yang masih ranum

 

Di hari berlalu

Menujumu adalah tirani sembrono

yang membuat mataku senantiasa sombong

 

Seolah telah kurengkuh hati yang penuh

Seluruhnya menggamitku menjelang hidup tawaduk

(Jogja, 2020)


 

Halaman yang Hilang

Pita yang tergunting di hari sahaja

Meruyak sekian tokoh yang kita baca di halaman beraroma asin

 

Kau tebas doa-doa lugu yang membumbung

dengan ketajaman yang tak pernah sanggup terbayang

 

Katamu, doa-doa itu cuma kesombongan yang lupa hari

Bukan kesediaan menuju keridaan Ilahi

(Jogja, 2020)


 

Anak Perempuan Terakhir

Waktu memutuskan kembali lebih cepat pada pekerjaan

Aku mengandung segala kepentingan diri yang membakar

Menepikan bakti yang senantiasa diidam-idamkan

Membersamai bapak-ibu yang mengandung rindu

 

Tapi, rumah dalam kalimat panjang

berarti ancaman perdebatan yang tak sebaiknya

Kehidupan anak perempuan terjun bebas

dalam kertas undangan yang tiba lebih cepat

Semua kaki diminta tunduk di jalan lurus tanpa belokan

(Jogja, 2020)


 

Sepanjang Jalan Menuju Pantai

Di setapak jalan yang membelah rerumputan

mata menangkap dua pasang kaki di pedal sepeda

Dua wajah penuh asuh

mengupas senyum di balik topi berwarna kopi

 

Di masing-masing boncengannya

Seikat pohon jagung dan rumput bertubuh tinggi menumpang tidur

Sapi dan kambing di rumah akan menyambutnya dengan ramah

 

Di belokan, aku membayangkan keelokan hari yang demikian megah

Sembari merapal harapan rumpang:

Semoga tak semua anak muda tersesat di tengah kota

(Jogja, 2020)

Author: Rizka Nur Laily Muallifa

ABOUT THE AUTHOR

Rizka Nur Laily Muallifa

From Solo. Pembaca tak khusyuk. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Pamrih di @bacaanbiasa


COMMENTS