Nuzul Malam Kemuliaan

Mungkin (ketika dulu ada lelaki Bani Israil

seorang fisabilillah selama seribu bulan) Allah memberi

satu surat mulia. Al Qadr.

 

Kami adalah hamba. Memohon pohon kemuliaan,

memanjat batangnya meninggi ke langit. Mengintip

seribu bulan. Di malam kemuliaan.

  

Aku kemudian memeluk bulan. Berpuisi

dengan ayat suci. Sang Jibril turun dengan panji-panjinya.

Membaca syair pada bilik-bilik yang bergetar

karena zikir.

 

Malam itu alam memohon keselamatan. Ranting-ranting

pohon menulis sajak. Angin berdesir seperti semilir. Bulan

keperakan. Menasbihkan rinduku yang berderai.

(Indramayu, 2019)


 

Mengetuk Rayyan

Sehabis imsak bulu-bulu mata pun bersajak

Di keheningan pagi azan Subuh ditabuh

 

Tangan mengambil air wudu

Membasuh embun suci dan salat Subuh berjamaah

Di masjid desa

 

—dalam sebuah kultum aku terkantuk. Bermimpi meneguk air kautsar. Samar kudengar tentang rayyanpintu surga bagi orang-orang berpuasa. Aku belum mendapatan tiket surga. Dapatkah mengetuknya— 

 

Selepas matahari membakar perut

Dahaga dan lapar menggedor lambung

Ususku menggerus kesabaran

 

Tapi bukan hanya perutku yang beribadah;

1.      Mata

2.      Mulut

3.      Telinga

4.      Tangan

5.      Kaki

Adalah juga menjaganya dari yang sia-sia

Di sana, ada ketakwaan

 

Aku hanya ingin mengetuknya lagi

Pintu rayyan-Mu

(Indramayu, 2019)


 

Getar dan Getir

Getar manakah

yang masih terasa

 

Getir manakah

yang masih tersisa

 

Barangkali kita terlalu sibuk

melupakan kenang di kening

menyekanya seperti peluh 

 

Tapi butiran rindu itu

menyembul lagi

setiap dingin menyerbu

(Indramayu, 2019)


 

Sajak Hari Kiamat

Sambil terguncang-guncang ia membaca sajak

Tanah retak, gunung ledak, laut rentak

Dan langit pun lantak

 

Manusia adalah debu

Berloncatan bagai lumba-lumba

Mengitari mahkota bunga

Mawar laut. Menjemput maut

 

            Hari kiamat

            Semua tamat

Tuhan

Hanya Tuhan

Selamat. Memberi rahmat

(Indramayu, 2018)


 

Sajak Isra dan Mikraj 

Isramu pada malam suci

Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha

Dari Mekkah ke Yerusalem

 

Bergulung debu padang pasir

Butir-butir tasbih digelindingkan Jibril

Malaikat berzikir dan bersyair

 

Para Nabi dan Rasul

Rukuk dan sujud bersamamu

Bertakbir dan bertaslim

 

Dari kubah As Shakrah

Dilecutkan burak dengan mikraj

Menerobos ruang dan waktu

 

Pertemuan dan rindu;

Langit 1, Adam

Langit 2, Yahya dan Isa

Langit 3, Yusuf

Langit 4, Idris

Langit 5, Harun

Langit 6, Musa

Langit 7, Ibrahim

 

Di Sidratul Muntaha puisi salat dibacakan Allah

Pena dan kertas bagai embun di daun

Berguguran ke bumi

 

Setelah itu aku dirikan salat

Memungut rindu di bumi isra mikraj

Dan tersungkur dalam cinta di bawah Kakbah

(Indramayu, 2019)

Author: Faris Al Faisal

ABOUT THE AUTHOR

Faris Al Faisal

Lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Buku puisi terbarunya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).


COMMENTS