Etika berasal dari bahasa Yunani dan Prancis yaitu “ethos” berarti sebuah kebiasaan, dan “etiquete” berarti sebuh tata pergaulan yang baik antara manusia dengan peraturan dalam berhubungan dengan orang lain menetapkan perilaku yang baik. Etika Jawa adalah kebiasaan masyarakat Jawa yang mengandung nilai dan norma luhur dalam kepribadian dan bersikap kepada sesama.

Dalam bersikap dengan sesama dengan hal apa pun selalu disampaikan dengan tetutup, halus, dan bermakna. Dari kebiasaan tersebut akan membentuk kumpulan nilai-nilai yang menjadi pegangan dalam bermasyarakat dan terbentuklah kebudayaan yang memengaruhi moral setiap individu. Mencegah adanya konflik, menjaga kerukunan, serta saling menghormati dengan perasaan isin atau sungkan menjadi tuntutan sosial utama dalam etika Jawa (Suseno, 1984).

Perasaan isin dan sungkan terjadi karena proses berpikir dan keadaan mawas diri orang Jawa. Proses berpikir untuk mencapai perasaan isin dan sungkan orang Jawa dipengaruhi oleh cara berpikirnya.

Orang Jawa selalu melakukan aktivitas kejiwaan dengan berpikir (mbudidaya) untuk meraih rasa, maka perlu adanya berpikir positif yakni berpikir dengan keyakinan tinggi bahwa apa yang dilakukan akan berdampak baik. Pola pikir yang keliru akan memengaruhi keadaan jiwa serta tujuan yang nantinya ingin dicapai.

Seperti halnya berpikir negatif tentang keadaan dan tentang perilaku orang lain. Pikiran negatif tentang keadaan akan menekan jiwa dan jiwa akan mengalami goncangan yang membuat seseorang mengalami gangguan kejiwaan seperti stres dan depresi.

Pikiran negatif juga akan memengaruhi tujuan. Dalam buku Quantum Ikhlas (2009), Erbe Sentanu menjelaskan pikiran akan memengaruhi hasil, sedang perasaan adalah energi yang akan mendorongnya.

Jadi apa yang dipikirkan itu yang akan mendorong kejadian terjadi, seperti halnya dalam sebuah hadis kudsi yang berbunyi, “Sesungguhnya Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Ketika negatif yang melingkupi pikiran maka itu juga dapat memengaruhi keadaan jiwa.

Dalam teori ilmu jiwa Jawa, jiwa merupakan sesuatu yang halus dan transendental. Orang Jawa menyebut jiwa itu ibarat air dan lendhut yang mampu “mrojol selaning garu” (melewati sela-sela garu).

Bentuknya garu seperti sisir yang berfungsi meratakan tanah bajakan pada saat akan ditanami padi. Saat musim tanam padi datang petani akan mengolah sawahnya. Sebelum ditanami padi, tanah di sawah terlebih dahulu diolah. Salah satunya adalag dengan digaru. Gerakan seorang petani yang sedang menggaru tanah adalah gambaran jiwa yang makarti atau bekerja.

Jiwa itu halus, seperti ibarat air dan lendhut itu yang walaupun dibendung kemudian digaru tetap masih mengalir disela-sela garu dan akan tetap tenang. Jiwa akan terlihat bersih ketika tenang seperti halnya air yang ada di lendhut yang telah menep. Tetapi ketika bergejolak akan telihat keruh. Demikian gambaran jiwa yang kadang tenang kadang bergejolak.

Lahir adalah yang menjalankan fisik, sedang batin adalah yang menjalankan jiwa. Sering kita dengar bahwa orang Jawa suka olah batin. Karena dengan olah batin ini akan membersihkan serta melatih jiwa.

Seseorang dalam melatih jiwa salah satunya mesti sumeleh, mengurangi hal yang tidak mungkin dan berlebih-lebihan. Dengan begitu orang akan berpikir positif dan hidupnya akan lebih baik. Berpikir merupakan sebuah proses sebelum berperilaku. Orang yang beretika moral Jawa dapat dikatakan memiliki cara berpikir yang positif (Endraswara, 2013).

Ngelmu begja juga menjadi salah satu strategi guna berpikir positif, sebab di dalamnya terdapat rasa yang menjadi pondasi. Rasa yang mendalam, yang diproses sedemikian rupa hingga peka terhadap suasana, lalu memacu berpikir positif. Seperti halnya ungkapan dari Sosrokartono, “Sugih tanpo bondo, digdaya tanpo aji”.

Sugih tanpo bondo dikaitkan dengan berpikir positif yakni memiliki pikiran dalam keadaan kaya tetapi tetap dengan etika tidak merasa kaya, tidak melupakan nilai-nilai moral yang ada, dan tidak merasa lebih giat bekerja dibandingkan orang lain. Dengan perilaku tersebut akan tercipta pikiran yang berdampak pada perilaku pada masyarakat.

Digdaya tanpo Aji, yakni orang yang hebat tanpa kesaktian. Orang yang memiliki etika yang baik tak akan terkalahkan karena dalam dirinya memilkiki keyakinan baik (berpikir positif) tentang orang lain.

Mawas diri adalah kunci pokok untuk berjalannya peradaban. Hal ini hanya dapat dilakukan ketika jiwa tinarbuka, mau mengoreksi, dan menerima situasi sebagaimana adanya (Endraswara, 2013).

Dapat dikatakan mawas diri adalah sama dengan teori psikologi tentang regulasi diri, yakni mengolah dan mengaktifkan pikiran, perasaan, dan lingkungan secara maksimal. Maka psikoterapi jawa dapat melalui tiga tahap yaitu sebagai berikut.

Pertama, pikiran. Berpikir positif di atas dapat menjadi sarana pembendung penyakit jiwa, yakni keinginan tentang hal yang tak mungkin dan berlebihan.

Kedua, perasaan. Tinarbuka merasa was-was dan sumeleh yakni tidak grusa-grusu. Menghaluskan perasaan untuk beretika dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Dengan demikian akan menghubungkan antara jiwa satu dengan satunya. Dengan terhubungnya jiwa akan meredam dampak tekanan pada jiwa yang mengalami goncangan.

Ketiga, lingkungan. Dalam konsep psikoterapi terdapat cara mengatasi jiwa yang telah sakit yakni mengupayakan jiwa kembali pada keadaan ketika sehat. Upaya yang dilakukan dapat dengan menciptakan lingkungan serta kebudayaan yang selaras agar jiwa tetap sehat.

Etika Jawa yang memiliki rasa yang halus akan menciptakan suasana yang baik pada jiwa yang tergoncang. Lingkungan dengan nilai-nilai etika Jawa yang luhur menjadi salah satu ruang psikoterapi bagi jiwa yang mengalami tekanan atau gangguan jiwa.

Referensi:

Endraswara, Suwardi, 2013, Ilmu Jiwa Jawa: Estetika dan Citarasa Jiwa Jawa, Yogyakarta: Narasi.

Magnis-Suseno, Franz, 1984, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Jakarta: Gramedia.

Author: Fian Riskyan Surya Pambuka

ABOUT THE AUTHOR

Fian Riskyan Surya Pambuka

Mahasiswa Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Surakarta


COMMENTS