Adnan Yogo

Judul: Sumi | Penulis: Jazuli Imam | Penerbit: Djeladjah Pustaka, 2020 | Tebal: 257 halaman

Cerita penjelajahan seorang salik dalam menempuh langkah rihlahnya diceritakan dengan indah dalam buku ini. Perjalanan harfiah sekaligus alegoris seorang manusia dalam pencariannya akan kedamaian. Pencarian itu berakhir ketika diketemukannya ihwal kedamaian dalam dirinya.

Buku ini berisi rangkaian babak-babak cerita dan beberapa puisi. Sudut pandang pihak ketiga penulis gunakan dalam penyampaian cerita. Penuturan narator dan percakapan antar tokoh ditampilkan dengan porsi yang seimbang sehingga memberikan pemahaman yang baik kepada pembaca.

Ditulis dengan gaya naratif, alur cerita dibuat linear dengan tambahan beberapa kilas balik. Membacanya membuat kita seperti sedang menonton dengan sesekali sisipan sekuensi flashback sebagai ingatan masa lalu tokoh maupun latar belakang suatu peristiwa dalam film. Ilustrasi masa lalu penting kaitannya dengan konteks sejarah suatu kejadian, penjelasan dan kesimpulan dapat ditarik dari garis historis tersebut.

Garis besar gagasan yang coba dikemukakan dalam buku adalah cinta. Cinta dalam arti luas, bukan sebatas asmara interpersonal dua individu, melainkan cinta yang bersifat universal. Cinta yang melampaui sekat status sosial, agama, warna kulit, maupun ideologi. Cinta yang merawat kedamaian. Cinta sebagai manifestasi rahmatan lil’alamin. Cinta yang berbuah kebahagiaan bagi kehidupan.

Melalui tokoh utama yang bernama Sumitro, kita diajak berkelana melewati pasang-surut batin seorang manusia dalam kehidupan modern ini. Lika-liku yang dilewati tak jarang menekan seseorang menuju keadaan paling rendah, titik nadir. Kompleksitas faktor fisik dan dalam ruhani yang berkelindan sebagai konstruksi dimensi kehidupan tergambar dari pemikiran dan perasaan tokoh.

Karakter tokoh utama seperti gabungan dari Christopher McCandless, seorang pengembara dari Amerika Serikat, Chairil Anwar, sang penyair romantik ternama di negeri kita, serta Soe Hok Gie, intelektual sekaligus aktivis mahasiswa yang berpengaruh dalam periode tahun 1966.

Kesadaran kosmopolit digabung dengan kemahiran berbahasa, dan kepekaan rasa terhadap keadaan sekitar adalah sebuah perpaduan yang unik. Watak pemuda kritis yang memiliki kepedulian di tengah watak pemuda yang apatis.

Penulis seperti hendak menyajikan penjelasan di balik keresahan seorang manusia muda di tengah banalnya kehidupan modern. Keresahan yang jamak dijadikan alasan kegiatan menepi. Uzlah menemukan ketenangan dan meredakan kegelisahan. Sebab sering kali kenyataan hidup begitu rumit dan peliknya.

Di tengah perjalanan, tokoh utama menjumpai banyak orang dengan berbagai latar belakang. Warga lokal yang ramah, pendatang transmigran, militer yang menyebalkan, teman baru sesama petualang, hingga seorang perawat yang kelak akan merubah hidupnya.

Gambaran etnografi dalam buku ini mengajak kita memahami kebudayaan tanpa harus menjadi seorang antropolog. Gambaran gejolak batin tiap tokok di dalamnya melatih kita memahami orang lain tanpa harus menjadi psikiater. Empati adalah kata kunci dalam cerita ini.

Kritik terhadap penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan keangkuhan primordial disampaikan secara subtil. Konflik demi konflik seringkali disebabkan ignorance pihak-pihak yang terlibat. Ketiadaan tenggang rasa dan kebenaran yang dipaksakan adalah sumber dari bencana kemanusiaan.

Pertarungan wacana, hegemoni kebudayaan, pembangunan yang merusak lingkungan dalih kesejahteraan dan kemajuan, serta globalisasi yang diagung-agungkan datang mereduksi kemanusiaan. Orang-orang dimiskinkan jiwa dan raganya.

Jerat kapitalisme mengubah orientasi hidup mejadi materialistik. Kesibukan-kesibukan pekerjaan yang amat dahsyat menurunkan level manusia menjadi mekanis. Hal-hal yang disebutkan tadi merupakan unsur ekstrinsik yang dipaparkan dalam novel ini.

Apakah kemajuan kita selama ini memberi ketentraman pada jiwa? Apa makna semua pencapaian-pencapaian ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang begitu mengganggu batin tokoh utama. Membuatnya gelisah dan memilih mengembara. Pengembaraan adalah upaya yang ia tempuh dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Dinamika plot cerita memberi gambaran semacam maqom yang telah dilalui tokoh utama sebagai seorang salik, pejalan spiritual. Penulis mengilustrasikannya seperti ini:

“Sumi kehabisan tenaga. Ia mengatur napas dengan posis membungkuk. Sumi kepayahan, tak berdaya, dan sangat ketakutan. Ini kali ia merasa dikepung oleh bayangan-bayangan hitam besar di sekelilingnya. Sumi menyerah. Ia letakkan carriernya dan duduk menegadah ke atap hutan. “Baiklah Tuhan, aku bukan apa-apa,” kata Sumi lirih” (hlm. 138).

Kemudian pada bagian selanjutnya, ketika tokoh Sumi berdialog dengan sesama penjelajah dari komunitas pengendara scooter yang secara tidak sengaja ia temui, terlontarlah ucapan yang bagi saya sangat dalam.

“Saya bilang, saya bukan apa-apa. Di balik kata-kata itu, Tuhan tahu, saya telah bertaubat dari kesombongan yang secara tidak sadar telah saya rawat selama ini” (hlm. 143).

Merujuk pada saat ketika tokoh utama menyerah di tengah hutan dalam keadaan lemah tadi, dari fase bergejolak hingga fase penyerahan diri pencapaian maqom tercerahkan adalah puncak perjalanan.

Di tengah perjalanan, sesekali ia menulis puisi untuk menuangkan isi batinnya. Puisi-puisi itu dicatatnya dalam buku harian. Puisi-puisi yang ditulisnya dalam buku catatan beragam nada, dari muram hingga meriah. Terkadang begitu dalam, kontemplatif. Terkadang begitu ekspresif.

“Dunia adalah tempat para pejalan tersesat”, adalah penggalan kalimat salah satu puisi di dalam buku ini yang menurut saya cukup nyufi dan sangat indah. Mengingatkan kembali orientasi kehidupan kita, bahwasanya hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Sebuah bentangan jarak yang ditempuh, dari dan menuju Tuhan.

Kesadaran eksistensial berupa perasaan fana menjadikan pernyataan, “Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah” adalah sebuah kearifan dalam memandang kehidupan. Sebuah konsep sangkan paran yang menyadarkan kita bahwa sejatinya kehidupan ini singkat, maka dari itu tebarlah kebaikan dalam kesempatan ini.

“Shalat dan cinta. Keduanya batal tanpa kesucian”, sebagai pengingat bagi kita bahwasanya tindakan apa pun harus dilandasi kesucian. Kesucian yang berarti ketulusan hati. Karena tanpa ketulusan yang mendasari setiap perilaku kita, semua kehilangan ruhnya.

Salam Lestari.

Author: Adnan Yogo

ABOUT THE AUTHOR

Adnan Yogo


COMMENTS