Perbuatan manusia (takdir) merupakan salah satu isu sentral dalam teologi Islam. Dalam sejarah pemikiran Islam, isu ini memicu sikap pro dan kontra di kalangan mutakallimin. Silang pendapat terjadi seputar apakah perbuatan manusia itu adalah ciptaan atau pilihan manusia sepenuhnya? Ataukah perbuatan manusia tersebut merupakan ciptaan atau pilihan Allah?.[1]

Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman bagi umat Islam setidaknya memiliki dua keterangan mengenai perbuatan manusia: Pertama, keterangan yang menyatakan bahwa perbuatan manusia pada hakikatnya digerakkan oleh Tuhan, sesuai dengan Al-Qur’an surah Al-Saffat ayat 96. Kedua, keterangan yang menyatakan bahwa perbuatan manusia bukanlah perbuatan Tuhan, tetapi memang perbuatan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, persis seperti yang dituturkan Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11.

Selain kepentingan yang sifatnya politis, bisa dikatakan dua keterangan ini juga menjadi pemicu munculnya beberapa aliran teologi Islam. H. Agus Salim, salah satu tokoh nasional, juga memiliki pendapat perbuatan manusia itu ada yang wujudnya takdir. Manusia tidak bisa memilih untuk menolak atau menerima, sebab setiap kehendak sudah ditentukan oleh keputusan-Nya.

Hidup dan mati misalnya. Dua kejadian ini menjadi bagian dari siklus manusia yang ditentukan sepenuhnya oleh kehendak dan kekuasaan Allah.[2] Manusia yang lahir ke dunia tidak bisa memilih siapa ibu dan bapaknya. Manusia juga tidak memiliki kebebasan untuk memilih di mana ia dilahirkan ke dunia.

Setelah lahir dan menginjak usia anak-anak, tumbuh-kembang dan pendidikan bergantung kepada orang tua dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Suka atau tidak suka, manusia mesti meniru adat kebiasaan, tradisi, dan bahasa di mana ia dilahirkan. Nah, sejak masa anak-anak sampai sekitar usia remaja ini, manusia menjadi tempat yang selalu menerima bentuk, sikap, dan tutur bahasa dari keadaan yang sudah ada.

Selanjutnya, H. Agus Salim juga mengemukakan secara rinci beberapa hal yang tidak bisa dipilih -selain hidup dan mati- oleh manusia. Pertama, pemberian nyawa dan badan. Manusia tidak bisa memilih bentuk badan yang baik. Pun begitu manusia juga tidak bisa memperpendek dan memperpanjang nyawanya sendiri yang berkaitan dengan hidup dan mati.

Kedua, panca indera dan bagian tubuh. Panca indera yang berfungsi sebagai alat pengenal, otak sebagai pusat akal dan pikiran, serta hati sebagai sumber munculnya kesadaran dan perasaan sudah didapati oleh manusia seperti apa adanya. Manusia juga tidak memiliki kekuasaan untuk memilih dan menentukan sifat dan karakteristik.

Ketiga, kesehatan. Ilmu Kesehatan memang mengajarkan kepada manusia cara memelihara kesehatan diri dari berbagai jenis penyakit. Hanya saja, sakit dan senang itu sendiri berada di luar kekuasaan dan kehendak mutlak manusia.

Keempat, pengetahuan dan keyakinan. Pikiran dan keyakinan yang menjadi semangat ruhani dalam diri manusia ternyata tidak bisa dikuasai dan ditentukan oleh manusia. Dasar-dasar yang menumbuhkan pikiran dan keyakinan itu sudah diinternalisasikan waktu manusia masih kecil, saat ia belum memiliki kehendaknya sendiri.

Kelima, relasi dengan alam. Kehidupan dan perbuatan yang mendorong manusia untuk melakukan hubungan (pergaulan) di antara sesama manusia dan lingkungan sekitar, kata H. Agus Salim, juga berada di luar ketentuan manusia. Sebab, alam memiliki mekanisme sendiri dalam gerak tiap waktunya.[3]

Isu yang didedah oleh H. Agus Salim di atas memang berada di luar jangkauan dan kemampuan manusia. Kendati seperti itu, ia juga  mengemukakan perbuatan manusia yang muncul dari kemauan dan kehendaknya sendiri. Kebebasan manusia untuk memilih muncul setelah ia mampu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Terlebih jika manusia sudah berumur dan memiliki wawasan luas, ia mampu membandingkan, memilih dan menetapkan perbuatan, serta pikirannya sendiri.

Namun ketika manusia sudah merasa bahwa ia memiliki kebebasan dan kehendak untuk menentukan sendiri asas, haluan, tujuan hidup dan perbuatannya, ketika itu pula tanpa sadar, ia terus berjalan menurut dorongan Allah yang berada di luar jangkauan dirinya. Karena manusia terus berjalan menurut ketentuan-Nya, berarti tiap perkara lahir dan batin bukanlah kehendak manusia semata yang menentukan, melainkan tetap bergantung kepada-Nya.

Justru karena itu, kebebasan yang dimaksud di sini ialah kebebasan dalam memilih perbuatan yang sebenarnya sudah berada dalam takdir Allah itu. Kendati akal manusia tidak bisa menjangkau ketentuan Allah yang berlaku kepada dirinya, namun tetap saja Allah yang menentukan dan mewujudkan perbuatan manusia. Dalam hubungan ini, H. Agus Salim mengemukakan bahwa takdir juga bisa menumbuhkan ikhtiar dan usaha yang sungguh-sungguh. Memang dalam konteks ini, corak pemikiran teologi H. Agus Salim dalam perbuatan manusia cenderung mengarah pada fatalisme (tradisionalis) dan sistemnya bersifat tekstualis.

Meskipun begitu, kita patut mengapresiasi pemikiran H. Agus Salim sebagai bagian kontribusinya berwacana dalam teologi Islam. Sehingga bagi yang condong pada pemikiran H. Agus Salim ini, bisa mengkajinya lebih jauh. Sedangkan bagi yang emoh dan ingin mengkritik, maka sepatutnya tetap merayakannya sebagai salah satu dari sekian bentuk perbedaan pemikiran.

Daftar Pustaka:

[1]      H. Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, 5 ed. Jakarta: UI Press, 1986.

[2]      H. A. Salim, Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir dan Tawakkal. Jakarta: Tintamas, 1967.

[3]      B. Dusar, Pemikiran Teologi H. Agus Salim tentang Tauhid, Takdir, dan Tawakal, 1 ed. Padang: Hasyfa Press, 2007.

Author: Rahmad Tri Hadi

ABOUT THE AUTHOR

Rahmad Tri Hadi

Mahasiswa Pacsasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.


COMMENTS