Bumi diciptakan dan dihamparkan begitu luasnya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kemaslahatan manusia. Konsekuensinya, manusia mempunyai tanggung jawab ekologis terhadap bumi dan seluruh isinya. Sementara beberapa masalah ketidakseimbangan ekologis sedang terjadi di beberapa wilayah, seperti di Jakarta yang mengalami banjir. Masalah rutinan yang belum bisa kita atasi bersama sampai sekarang. Ini merupakan teguran dari Allah sekaligus untuk menegaskan kembali fungsi manusia sebagai khalifah fi al-ard yaitu pengelola alam semesta.

Dilihat dari segi bahasa (ilmu sharaf) khilafah merupakan isim masdar dari fi’il madhi’ khalafa, yaitu khalafa-yakhlifu-khilafatan yang mempunyai arti ‘menggantikan atau menempati tempatnya’. Sedangkan khalifah adalah pelakunya (isim fa’il) yang berarti pengganti. Sedang dari segi istilah, khalifah menurut saya adalah orang yang bertugas untuk mengelola, memanaj alam semesta beserta isinya dengan baik untuk kemaslahatan dirinya, orang lain serta seluruh mahkluk yang bertujuan untuk menebar rahmatan lil alamin’ atau rahmat bagi seluruh alam.

Allah berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi. Mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Tuhan berfirman, Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat tersebut berkenaan dengan penciptaan manusia bijak pertama yang kita kenal dalam sejarah sebagai Nabi Adam. Dunia ketika sebelum Nabi Adam diturunkan masih belum tertata dengan baik, maka di sinilah titik tolak sejarah peradaban manusia baru dimulai yang akan mengawali berbagai macam gerbang ilmu pengetahuan dan berbagai macam bentuk jenis kebudayaan.

Dalam ayat tersebut malaikat mengkritik sifat kebinatangan manusia yang suka merusak, tapi kemudian Allah menjawabnya dengan berkata, “Aku lebih mengetahui apa yang kamu ketahui”. Ini menunjukan Adam berbeda dengan makhluk yang lainnya.

Adam sebagai manusia pertama yang mengawali tonggak baru sejarah peradaban  dunia, maka otomatis ia jugalah yang harus merawat dan menjaga alam tempat tinggalnya di bumi untuk kelangsungan hidupnya. Adam harus belajar dari lingkungannya, bagaimana kondisi geografis, cuaca, juga makhluk hidup yang tinggal menetap disekitarnya. Semua itu diperlukan cara mengelola atau memanaj yang baik dan benar atas petunjuk Allah untuk kemakmuran diri Adam sendiri dan anak cucunya kelak. Maka dari itu makna khalifah di sini singkatnya adalah pengelola.

Memfungsikan kembali khalifah sebagai pengelola alam semesta

Berbagai macam musibah yang terjadi seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain semacamnya seakan-akan menegaskan kembali kepada kita apa yang telah kita perbuat selama ini, dan kenapa Allah memberikan ujian semacam ini kepada kita. Allah menjadikan manusia di bumi sebagai pengelola alam maka jika keseimbangan alam terganggu dan mengakibatkan musibah pasti ada yang salah dengan cara kita mengelolanya.

Sejenak bisa kita renungkan, mungkin masih banyak saudara-saudara kita yang masih mengambang membedakan antara mengelola dengan mengeksploitasi alam yang makna hakikinya sangat jauh bersebrangan. Mengelola alam adalah memanfaatkan alam sesuai kebutuhan kita dengan melihat batas-batas dan kondisi tertentu, bertujuan untuk kemaslahatan bersama. Sedangkan eksploitasi adalah pemanfaatan alam yang melebihi batas kewajaran dan sewenang-wenang. Motif seseorang melakukan eksploitasi terhadap alam adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sebanyak-banyaknya.

Jika kita terus melakukan eksploitasi terhadap alam maka keseimbangan ekosistem alam pun akan terganggu. Akibatnya alam ‘murka’ dan balik membalas semua perbuatan kita terhadapnya. Sama seperti kita, alam semesta juga makhluk ciptaan Allah, maka tugas kita bersama adalah menjaga dan merawatnya sepenuh hati. Alam semesta bukan benda mati yang bisa terus diekspoitasi.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah mengatakan, bahwa “Kita perlu membangkitkan kesadaran kealamsemestaan, alam semesta adalah makhluk, jika kita berlaku baik dengannya maka ia pun akan berlaku baik dengan kita. Alam semesta mempunyai jiwa inti sama dengan kita, alam semesta juga merupakan perwujudan dari hasrat-Nya (Emha, 2016).

Sedang Aristoteles dalam argumen kosmologisnya mengatakan alam semesta merupakan materi yang mempunyai bentuk hakikat, antara bentuk dan materi ada hubungan gerak. Apa yang menggerakannya adalah bentuk dan yang digerakkannya adalah materi, yaitu bentuk menggerakkan potensialitas untuk menjadi aktualitas. Walapun Aristoteles tidak pernah mengatakan bahwa yang menggerakan materi (alam semesta) adalah Tuhan tetapi bisa kita simpulkan demikian karena bentuk hakikat itu adalah ‘Penggerak Yang Tak Bergerak’, ia tidak terikat oleh ruang dan waktu. Alam semesta merupakan mahluk yang diberi unsur potensialitas oleh Allah sama seperti manusia.

Kita sadar bahwa seluruh kehiduan kita di dunia sangat bergantung kepada alam. Apa yang nenek moyang kita lakukan dahulu dalam penghormatannya kepada alam, bukan sekedar main-main belaka. Mereka sudah menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran kealamsemestaan sejak lama. Bisa kita lihat dari kebiasaan mereka yang sangat menjaga tempat-tempat yang mereka anggap sakral, bukan berarti mereka menyembah sesuatu selain Allah di situ, melainkan sebagai penghormatan kepada alam melalui titik-titik tertentu.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat seperti sekarang, saya rasa tidak ada lagi alasan untuk kita tidak menjaga alam. Banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga alam, ataupun lingkungan. Seperti dengan memulai dari hal-hal yang kecil membuang sampah pada tempatya, mengembangkan produk ramah lingkungan, sampai penanaman seribu pohon. Ini dilakukan dalam rangka menjaga alam  sebelum kita merasakan keganasan alam bila tidak merawatnya, atau malah merusak alam. Maka sudah sewajarnya kita kembali memfungsikan tugas kita di dunia sebagai khalifah yaitu pengelola alam semesta. Wallahu a’lam.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi 16 Jumat, 17 Januari 2020/21 Rabiulakhir 1441 

Author: Adha Ginanjar

ABOUT THE AUTHOR

Adha Ginanjar

Santri kalong Ngaji Filsafat, asli Purbalingga, Jawa Tengah, kuliah di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


COMMENTS