Judul: Pandemik! COVID-19 Mengguncang Dunia | Penulis: Slavoj Zizek | Penerjemah: Khoiril Maqin | Penerbit: CV Penerbit Independen, 2020 | Tebal: 158 halaman | ISBN: 978-623-93362-1-9

Dari awal kemunculannya di Wuhan, Covid-19 menyebar begitu cepat ke seluruh penjuru dunia, hingga membuat World Health Organization (WHO) menetapkan situasi dunia dalam kondisi pandemi. Pandemi ini menjadi fenomena yang benar-benar berhasil mengguncang dunia di berbagai dimensi, baik sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan sampai hal-hal yang bersifat mikro seperti kondisi psikologis manusia.

Kehidupan masyarakat dunia nyaris lumpuh karena persebaran virus, selain cepat, juga tidak mengenal situasi-kondisi, dan tanpa pandang bulu menghantam semua lapisan masyarakat. Negara-negara dihadapkan dengan berbagai pilihan sulit dalam menentukan kebijakan, misalnya apakah harus fokus menangani krisis kesehatan? Atau harus mengantisapasi efek dominonya seperti krisis ekonomi dan sosial?

Pandemi Covid-19 ini juga tidak luput dari perhatian para pakar, ilmuwan, bahkan filsuf. Salah satunya adalah Slavoj Zizek, seorang teoretikus di bidang budaya, psikoanalis, serta sosiolog asal Ljubljana, Slovenia. Beberapa karyanya diilhami oleh para pemikir serta filsuf-filsuf sebelumnya, seperti Georg Wilhelm Friederich Hegel, Jacques Lacan, dan Karl Marx.

Ulasan Zizek mengenai pandemi Covid-19 ini ia serat dalam karyanya bertajuk Pandemic! COVID-19 Shakes the World. Di dalam karyanya itu, Zizek mengulas beberapa hal yang menarik, seperti posisi masyarakat dunia, tahap-tahap pandemi, kehidupan sesudah pandemi, dan gugatannya terhadap sistem sosial-ekonomi dunia yang selalu berpotensi membawa masyarakat dunia ke situasi krisis.

Lima Tahap Pandemi

Zizek mengadopsi skema lima tahap reaksi terhadap krisis milik Elisabeth Kubler-Ross. Skema tersebut digunakan Zizek untuk menganalisis pandemi Covid-19. Dimulai dengan tahap pertama yaitu, penolakan. Awalnya virus Covid-19 dianggap sekadar virus biasa yang kebetulan sedang mewabah di Wuhan, China. Ketika diumumkan sebagai sebuah pandemi oleh WHO, beberapa negara masih menganggapnya tidak terlalu serius untuk ditanggapi, seperti Menteri Kesehatan Indonesia yang—pada awalnya—selalu menarasikan bahwa penyakit yang ditimbulkan dari infeksi virus ini dapat sembuh sendiri. Kepanikan-kepanikan yang terjadi di masyarakat dianggap sekadar ulah oknum belaka.

Kedua, yaitu kemarahan. Ketika angka penularan terus meningkat, dan penyebaran wabah semakin meluas di seluruh penjuru dunia, ditambah dengan kepanikan yang menimbulkan panic buying, akibatnya muncullah kemarahan di tengah-tengah masyarakat. Negara dianggap tidak siap dalam merespon pandemi. Pemerintah dianggap tidak serius dalam mengantisipasi cepatnya penularan. Bahkan karena mudahnya akses informasi di media digital, banyak asumsi-asumsi bahwa pandemi Covid-19 merupakan permainan konspirasi dari kalangan tertentu yang semakin menambah ruwet dan panik di masyarakat.

Ketiga, tawar-menawar. Guna mengendalikan dan meredakan situasi yang ada akibat kemarahan, muncul narasi-narasi seperti mortality rate yang diakibatkan korban Covid-19 rendah, atau pandemi ini tidak seserius pandemi-pandemi sebelumnya, misalnya flu Spanyol. Seakan-akan terjadi semacam negosiasi antara manusia dengan virus guna meredakan ketegangan.

Keempat, depresi. Ketika proses negosiasi tidak berjalan dengan baik, ketegangan dan kepanikan terus terjadi, pada tahap ini yang terjadi adalah kepasrahan. Pandemi dianggap sebagai hukuman bagi manusia dan masyarakat dunia.

Kelima, penerimaan. Pada akhirnya, segala dinamika pandemi Covid-19 dari awal kemunculan sampai hari ini yang belum mereda, mau tidak mau masyarakat harus menerimanya dan dituntut untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Untuk itu, masyarakat perlu mengubah cara hidupnya, yang tentu saja berbeda dengan situasi sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

Kehidupan Sesudah Pandemi

Jika kehidupan kembali ke arah normalitas, tentu hal tersebut tidak akan sama dengan keadaan normal sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Kata Zizek, “Tak ada jalan kembali ke keadaan normal, normal dalam bentuk baru harus dibangun di atas reruntuhan kehidupan lama kita …”. Normal baru itulah yang kemudian dinarasikan oleh sebagai New Normal Life, dan kemudian ganti istilah menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK).

Pada dasarnya, substansi yang ada di dalam ABK bukan hal baru bagi masyarakat. Protokol kesehatan Covid-19 yang disosialisasikan oleh berbagai negara seperti pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sudah lama digiatkan oleh berbagai kalangan. Mungkin yang terbilang agak baru hanya penggunaan masker dan jaga jarak ketika beraktivitas di mana pun dan kapan pun.

Masyarakat hanya perlu melakukan kembali pola hidup sehat sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Oleh karena itu, ABK bukanlah hal yang begitu sulit bagi masyarakat. Apalagi manusia merupakan makhluk yang dikenal mampu beradaptasi dengan berbagai macam perubahan dengan cepat, disbanding makhluk lainnya.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah soal apakah kebiasaan normal baru sebagai sebuah keniscayaan yang dibuat dan dilakukan oleh masyarakat bisa mengantisipasi terjadinya krisis lain di masa depan? Tentu tidak. Normal baru di ranah kesehatan mungkin bisa mengantipasi berulangnya krisis kesehatan yang serupa dengan pandemi Covid-19. Akan tetapi, krisis yang terjadi di masyarakat tidak hanya itu, ada krisis-krisis lain yang perlu antisipasi dan penanganan seperti halnya normal baru pandemic Covid-19, misalnya normal baru untuk krisis ekologis.

Di bagian awal buku ini, Zizek juga mengutip pemikiran Burno Latour yang mengatakan bahwa, krisis yang ditimbulkan oleh COVID-19 merupakan sebuah gladi bersih guna menghadapi potensi perubahan iklim dan bencana  alam di masa depan. Bahkan krisis ekologi bisa saja jauh lebih mematikan. Apalagi potensi terjadinya sudah dapat diprediksi oleh berbagai kalangan sebelum pandemi Covid-19 menyeruak ke permukaan. Dan solusi yang ditawarkan oleh Zizek adalah perubahan filosofis yang radikal, khususnya tentang sistem sosial-ekonomi. Demikian.

Author: Dimas Wira Aditama

ABOUT THE AUTHOR

Dimas Wira Aditama

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta.


COMMENTS