Cita rasa makna kata "sepuh" merujuk pada suatu usia yang sangat matang. Matang dalam konteks judul di atas bisa bermakna secara akal budi, jiwa, dan ruh.

Kendati begitu, frasa ngaji sepuh pertama kudengar dari sebuah perbincangan di kampung sejak kanak-kanak. Namanya juga kanak-kanak, wajar kalau tak mengerti apa yang dimaksud dengan frasa itu. Yang kutahu waktu itu yang namanya ngaji ya ngaji Iqra, turutan, dan Al-Qur’an.

Pernah dalam suatu kesempatan aku bertanya kepada Mbah Kakung dari garis trah ibu, "Mbah, ngaji sepuh niku maksude nopo?” Sambil klepas-klepus mengisap rokok kretek beliau menjawab, "Ngaji sepuh iku tegese noto manah madep maring pengeran".

Mendengar penjelasan Mbah Kakung alih-alih paham makna hakikatnya, yang kutahu kalau menghadap ke Allah ya dengan cara shalat seperti yang jamak diperagakan orang-orang di masjid dan musalla.

Selain itu, yang kusaksikan perihal ngaji sepuh kebanyakan dari kalangan lansia. Mereka datang dari berbagai daerah untuk ngangsu kaweruh ke rumah Mbah Abdullah Salam, Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Dari situ muncul pertanyaan, kenapa ngaji sepuh hanya diperuntukkan bagi kalangan lansia? Kenapa anak muda tak lazim mengikuti ngaji sepuh? Seiring bertambahnya usia kemudian kutemukan alasan yang acapkali kudengar yaitu umumnya anak muda itu syariatnya belum cukup kuat.

Zaman sudah berubah. Memori lama tentang ngaji sepuh muncul lagi saat bersinggungan dengan mata kuliah terapi sufistik. Eksplorasi mengenai buku tasawuf begitu gencar kulakukan. Pengajian-pengajian agama yang substansial semangat kukunjungi. Termasuk awal digelar Ngaji Filsafat yang diampu oleh Kiai Fahrudin Faiz di Masjid Jendral Sudirman, juga kuikuti.

Walau begitu, kegamangan spiritual terkadang datang tak cukup beralasan. Kadang kala juga dihantui kematian karena merasa belum siap menghadap kepada-Nya.

Ditambah lagi pengetahuan perihal sakaratul maut konon sebuah peristiwa yang sakitnya tak terkira. Belum lagi digambarkan bahwa iblis berkerumun dan bisa menyamar jadi apa saja dengan tujuan membelokkan tauhid manusia. “Ingat muridku”, kata Guru Sufi dalam sebuah kesempatan, “bahwa nenek moyong kita Nabi Adam as waktu digoda iblis bukan di pasar malam, tetapi di surga”.

Dari bayang-bayang akan peristiwa sakaratul maut lalu muncul bisikan kecil agar bersegera ikut laku tarekat. Pernah aku mencoba menghadap seorang kiai agar ditunjuki seorang mursyid yang bisa membimbingku dalam perjalanan ruhani.

Namun setelah beliau bertanya soal umur, katanya aku belum cukup umur. Katanya lagi kalau sudah matang syariatnya, syukur-syukur sudah menikah. Sebab, kata beliau, kalau sudah menikah tidak lagi separuh iman. Selain itu, beliau juga menyarankan bahwa laku tarekat itu bagus dilakukan minimal usia 40 tahun.

Sebagai anak muda yang sedang dilanda kegersangan jiwa, mendengar nasihat beliau, bukan malah tercerahkan, tetapi berujung kecewa karena aku memang belum mencapai syarat seperti yang disampaikan beliau.

Bagaimana tak kecewa, umur tiap orang itu tidak ada yang tahu sampai mana batas akhirnya. Artinya kematian adalah hal yang misteri. Sementara aku cukup menyakini bahwa berguru kepada guru mursyid yang silsilahnya bersambung dengan Rasulullah tidaklah terikat usia tertentu. Mau berbuat hal yang terpuji mengapa harus menunggu dibatasi usia tertentu?

Meski begitu, aku tak bosan berdoa agar dipertemukan guru mursyid yang derajat kewaliannya mampu membimbing perjalanan ruhaniku.

Sekali waktu aku berdiskusi tentang tasawuf dengan seorang yang kupandang mumpuni memahami soal ngaji sepuh. Seperti apa itu hati sanubari? Dari pintu mana saja iblis mengelabuhi manusia? Apa itu alam lahut, jabarut, malakut, rabbani? Apa bedanya guru dan mursyid? Mengapa berwasilah kepada ahli silsilah begitu penting dalam bermunajat kehadirat Allah Swt? Tentu mendalami laku perihal topik seperti ini tidak cukup dilakukan dalam waktu semalam, tetapi seumur hidup.

Pertanyaan kenapa laku tarekat menyaratkan minimal usia 40 tahun masih saja menggelayuti pikiranku. Kalau bercermin kepada Rasulullah, beliau memang diangkat oleh Allah Swt menjadi Nabi dan Rasul diusia 40 tahun. Artinya kematangan ruhani Rasulullah ditandai pada usia itu.

Tentu sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul ada rangkaian laku panjang yang telah ditempuh. Kalau begitu, apa yang dilakukan Rasulullah saat itu terutama sebelum menerima perintah shalat lima waktu dan syariat lainnya?

Jawaban yang jamak kita tahu bahwa Rasulullah kerap menyepi di Gua Hira. Di sana beliau khusuk melakukan perjalanan menuju ke dalam diri. Dari sana pula Rasulullah Saw berguru kepada malaikat Jibril hingga wahyu pertama diturunkan.

Bagaimana dengan laku tarekat? Tarekat yang muktabaroh tentu metodenya telah terlisensi oleh para ahli silsilah. Artinya segala peramalan zikir yang diwariskan oleh ahli silsilah dari zaman ke zaman tentu akan terhubung sampai ke Rasulullah Saw. Seperti tawajjuh, suluk, puasa, ziarah, sedekah, ubudiyah, dan lainnya. Kesemua peramalan laku tersebut tentu diniatkan Ilaahi anta maqsudi waridokamadzluubi.

Wallahua'lam.

Author: Arif Rahman Hakim

ABOUT THE AUTHOR

Arif Rahman Hakim

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hobi membaca buku keislaman bercorak tasawuf


COMMENTS