Terjadi satu adegan tidak terlalu penting ketika sebuah seminar selesai:

“Mohon maaf sekali Pak, saya lupa, bayangan saya masih memandu narasumber sebelumnya, saya memanggil ‘Bang Faiz’, harusnya kan ‘Pak Faiz’”.

Aku tersenyum geli. “Ndak apa-apa Mbak, malah saya merasajadi tambah muda”.

Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku sebuah quotes dari Romeo and Juliet-nya Shakespeare,  “What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet” (Apalah arti sebuah nama? Apa yang kita sebut mawar, meskipun menggunakan nama lain, baunya tetap harum).

Tiba-tiba Si Mbak berkata, “Saya kuatir su’ul adab, Pak”.

“Alhamdulillah, kalau sampeyan memperhatikan adab, namun rasanya kurang adab bahkan minim akhlak juga kalau hanya karena panggilan tersebut saya terus tersinggung dan marah-marah”.

“Pertama, saya tahu kalau itu bukan sebuah kesengajaan, dan sama sekali tanpa niat yang buruk. Kedua, bukankah sebutan, panggilan, gelar, dan lain sejenisnya hanyalah simbol yang menandai posisi tertentu, capaian tertentu, penghargaan tertentu, dan bahkan tanggung jawab dan harapan tertentu?”.

“Terima kasih kamu memanggil saya ‘abang’,” lanjutku. “Karena kalau kamu memanggil saya ustad atau kiai, betapa berat bebanku. Sepanjang forum saya harus ber-acting seperti ustad atau kiai, untuk tidak membuat kalian kecewa atau merasa tertipu”.

“Menurut Bapak, bagaimana sikap kita kalau orang ingin memanggil kita dengan sebutan atau gelar yang memberatkan, seperti kiai atau ustad? Padahal kita tidak merasa begitu. Apa kita tolak saja?” tanya Si Mbak yang tampaknya ingin ngobrol lebih lama.

“Bisa ya, bisa tidak. Tidak mau dipanggil dengan panggilan-panggilan yang ‘berat’ itu baik, karena menunjukkan kesadaran akan kelemahan dan kerendahan diri kita. Namun berkeras tidak ingin disebut dengan sebutan-sebutan yang baik seperti di atas, juga menunjukkan pikiran kita yang masih sibuk dengan sebutan dan gelar. Justru menunjukkan bahwa kita mementingkan panggilan dan sebutan”.

“Kalau untuk dirimu sendiri,” aku melanjutkan. “Yang tahu pasti segala kekurangan dan kelemahanmu, tentu tidak elok kalau engkau membusung dada menyebut diri sendiri dengan sebutan-sebutan meninggikan diri sendiri, seperti Al-Mukarram, Al-Alim Allamah, al-Ustad al-Kabir, al-Hafid al Kamil, dan lain sejenisnya”.

“Bahkan Kanjeng Nabi sendiri, manusia ma’sum dan paling mulia itu, menyatakan ‘La Tusayyiduni’, jangan kalian sayyid-sayyid-kan aku. Kalau kamu jeli, banyak ulama besar, di berbagai karya mereka, sebelum menyebut nama asli, biasanya menambah dengan gelar yang justru merendah, misalnya ‘al-Faqir’, hamba yang Allah yang papa”.

“Untuk orang lain yang kita hormati, yang lebih tua—usianya, ilmunya, kedudukannya maupun pengalamannya—tentunya sudah sangat pantas jika kita menambah panggilan untuk mereka dengan sebutan penghormatan dan pemuliaan, sesuai posisi dan keutamaan mereka”.

“Kalau mereka sendiri tidak berkenan dengan sebutan itu Pak? Mungkin dengan menyampaikan langsung atau memberi isyarat?” tanya Si Mbak kembali.

“Kalau tidak berkenan ya jangan dipaksakan panggilan tersebut, itu juga salah satu bentuk penghormatan kepada mereka”.

“Kalau kita sendiri yang dipanggil dengan panggilan-panggilan yang berat itu, bagaimana Pak?” tanya Si Mbak kembali.

“Lihatlah kenyataannya dan pertimbangkan situasinya,” jawabku diplomatis. “Untuk sebutan-sebutan formal, seperti doktor, profesor, sarjana, dan lain sejenisnya, kalau memang sesuai dengan kenyataannya ya biarkanlah. Kalau kamu sudah doktor dan dipanggil doktor, kan tidak masalah? Namun kalau kamu belum doktor dan membiarkan, menikmati, bahkan mendorong orang memanggilmu doktor, pada saatnya ketika orang tahu kebenarannya, hanyalah malu yang didapat, atau jangan-jangan ada konsekuensi hukumnya karena dianggap kebohongan publik?”.

“Lain halnya jika engkau tidak tahu apa-apa, tiba-tiba panitia yang mengundangmu membuat spanduk besar, menyebutmu sebagai doktor padahal kamu belum doktor. Ya silahkan kamu klarifikasi kebenarannya, tanpa harus mencak-mencak protes, meminta spanduk diganti atau diturunkan saat itu juga. Panitianya nanti malah membatin, ‘Emang siape lu, marah-marah pada kita. Doktor aja belum sudah gampang tersinggung’”.

“Kalau engkau dipanggil dengan sebutan-sebutan penghormatan yang sifatnya non-formal atau kultural, seperti bu nyai atau ustadah dan lain sejenisnya, lihatlah situasinya sebelum begitu saja menerima atau menolak”.

“Kok tidak ditolak, Pak?” protes Si Mbak. “Bukankah itu berat, seperti kata Bapak tadi, panggilan kehormatan yang disematkan kepada kita itu, termuat di sana tanggung jawab sekaligus harapan dari orang yang memanggil”.

“Iya, namun sebagaimana saat engkau ingin memberi sesuatu kepada orang lain dan orang lain itu menolak, lalu engkau kecewa; begitu juga orang-orang yang ingin memberikan penghormatan kepadamu, kalau begitu saja engkau tolak, kemungkinan akan menjadi kecewa, atau seperti kamu tadi, merasa tidak enak karena kuatir sudah su’ul adab”.

“Atau seperti yang sering saya dengar dari beberapa orang Pak,” potong Si Mbak. “Kalau ada yang memanggil kita dengan sebutan-sebutan yang baik ya ‘diaminkan’ saja”.

“Begitu juga baik”.

Aku merasa pembicaraan sudah akan berakhir…

“Namun pak,” lanjutnya. “Nama itu sebenarnya penting tidak pak, bukankah katanya Shakespeare ‘Apalah arti sebuah nama?’”.

Ternyata yang tadi melintas dalam pikiran muncul juga dalam percakapan tidak jelas ini.

“Ya penting lah. Kalau tidak ada nama, aku memanggil kamu dengan apa? Kalau namamu dalam bentuk makian, maka setiap aku memanggilmu berarti aku memakimu”.

“Kalau nama tidak penting, Allah tidak akan mengajarkan ‘nama-nama’ kepada Adam sebelum menurunkannya sebagai khalifah ke bumi dan Kanjeng Nabi Muhammad tidak akan mewanti-wanti kita untuk memberi nama anak-anak dengan nama yang baik”.

“Lebih jauh, peradaban manusia hakikatnya berada dalam lautan nama-nama. Jembatan nama-nama itulah yang membuat kita mampu menjalin hubungan dengan semesta, dengan sesama, bahkan dengan Allah”.

“Panjang jika harus saya jelaskan, kapan-kapan ya, kita akan mengkaji filsafat nama ini”.

“Menarik, Pak.” Jawabnya. “Kapan kira-kira pak dibahas?”.

“Ya kapan-kapan, nunggu saya siap dan mood ya”.

Ia tertawa, “He…he… Bang Faiz selalu begitu… eh, maaf, Pak”.

Author: Fahruddin Faiz

ABOUT THE AUTHOR

Fahruddin Faiz

Pengampu Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS