“Alam bawah sadar tidak hanya menjadi tempat persembunyian iblis-iblis, namun juga tempat berdirinya kerajaan malaikat-malaikat dan utusan-utusan rahmat”—Carl Gustav Jung

Kalimat tersebut di atas saya kutip dari Carl Gustav Jung yang dimuat dalam bukunya berjudul Empat Arketip (2020). 

Dalam uraian tulisan berikut, penulis mencoba mengulas komunikasi ke semesta alam bawah sadar versi akademisi Jungian. 

Dalam akademisi Jungian bahwa menjalin komunikasi ke alam bawah sadar dilakukan dengan cara bermain peran ganda, yaitu layaknya gaya komunikasi seorang terapis dan klien. Gaya komunikasi demikian mungkin bagi kebanyakan orang terlihat aneh. 

Bagaimana tidak, klien yang sudah dikondisikan rileks oleh coach kemudian dianjurkan untuk mamainkan imajinasinya dengan cara seolah membelah diri, satu sisi sebagai pengamat, di sisi lain menjadi objek yang diamati. Peranan ganda ini kemudian penulis sebut sebagai ‘diri imajiner’ pengamat dan ‘diri imajiner’ objek yang diamati.

Sudah begitu diri pengamat dianjurkan pula bersikap netral saat mengamati objek diri imajiner. Konon dengan cara begitu akan memudahkan diri imajiner pengamat dalam menelusuri objek diri imajiner secara mendalam, utamanya terhadap objek diri imajiner yang akan dibereskan seperti, stres, depresi, trauma, penyakit hati, serta sifat-sifat keburukan lainnya.

Gambaran secara umum objek diri imajiner yang dimaksud, bila diasumsikan jumlahnya mungkin ada ribuan, bisa saja lebih, tergantung tingkat usia dan latar belakang kehidupan tiap person.

Dalam sehari saja ada berapa tempat, waktu, peristiwa yang oleh jiwa lewati? Kalau misalnya dicatat, ragam perasaan apa saja yang muncul dalam hitungan hari, bulan, tahun dan seterusnya? Tentu melakukan penelitian semacam ini bukanlah urusan yang mudah.

Objek diri imajiner tentu bersifat heterogen. Dan eksistensinya berpencar dalam rentang waktu, tempat, peristiwa yang berbeda. Walau begitu mereka mewadah dalam satu jiwa yang jika dikategorikan menjadi dua sisi yaitu sisi terang dan gelap. Tentu pembaca paham maksud diri dalam sisi terang dan gelap.

Kesemua hal tersebut di atas dalam akademisi Jungian dinamai shadow work yaitu istilah yang dipakai dalam proses menyelami jiwa. Teknik ini merupakan pisau analisis psikologi yang bersumber dari aliran psikologi Carl Gustav Jung.

Shadow work ini mempunyai kegunaan membantu orang dalam upaya mengintegrasikan jiwa ‘berantakan’ (yang bersemanyam di alam bawah sadar) ke dalam alam sadar yang selanjutnya bisa memudahkan insan berekspresi dan beraktualisasi diri.

***

Setiap orang sudah pasti punya beragam bayangan yang tersusun dari kesejarahannya. Juga diri yang menyejarah dan mengendap ke alam bawah sadar akan bangkit kembali tatkala berpasan dengan kejadian baru yang menyerupai atau saat bersinggungan dengan simbol yang berasosiasi masa lalu. Pernahkan kita mengalami demikian itu?

Contoh sederhana yang mungkin pernah dialami banyak orang, misalnya, ketika kita pergi ke suatu tempat melihat motor persis seperti yang biasa dipakai oleh mantan pacar saat berpacaran. Dalam waktu relatif sekejap, kemudian pikiran sadar spontan melompat ke masa lalu. 

Perasaan yang dulu-dulu sudah mengendap lama tiba-tiba getarannya rasanya kembali muncul. Kemunculan beragam bayangan yang kemudian memungkinkan memicu emosi cinta, rindu, benci, kecewa, menyebalkan, dan segala macam perasaan yang bercampur baur. Begitulah sekelumit gambaran alam bawah sadar bekerja.

Kendati begitu, bahwa pada tahap tertentu, problem alam bawah sadar akan semakin kompleks dan cukup pelik untuk diurai kalau perasaan yang terluka, trauma, bersusulan dari rangkaian fase kehidupan satu ke fase kehidupan berikutnya. 

Misalnya trauma atau luka batin yang bertaut ke rentang usia, katakan saja umur remaja, dewasa, dan seterusnya. Ambil contoh truma dan luka batin pada kasus korban KDRT/kekerasan seksual/fisik, bullying. Nyaris pelakunya adalah orang-orang terdekat korban. 

Jiwa yang pernah bersinggungan dengan dunia semacam itu tentu ada banyak perasaan negatif yang bersarang di dalam. Seperti kebencian, ketakutan, mendendam, minder, rendah diri dan lainnya.

Jika luka batin demikian tidak mendapat penanganan secara kejiwaan, tidak menutup kemungkinan akan memberatkan perjalanan jiwa dimasa mendatang. Imbasnya, ia akan kesulitan beraktualisasi diri karena potensi dan bakatnya tersumbat oleh jiwa terluka-traumatik itu.

Maka jika suatu jiwa tertimpa perasaan negatif demikian pada gilirannya akan menunjukkan reaksi tubuh seperti tidur tidak nyenyak, selera makan menurun, pusing-pusing, asam lambung naik, detak jantung tidak beraturan, susah berkonsentrasi, dan gampang lupa.

Kenyataan beragam perasaan negatif tersebut adalah bagian-bagian diri manusia yang terdisintegrasi. Biasanya diikuti juga oleh penolakan-penolakan ego. Kenapa begitu? Sebab sifat-sifat bawaan ego memang selalu menolak kesengsaraan dan selalu menginginkan kesenangan dan kenikmatan. 

Pertanyaan yang menarik diajukan adalah apakah diri masa lampau yang terluka, traumatik bisa dihilangkan? Kalau hilang sih tidak. Suatu saat mungkin bisa terungkit kembali lantaran berjumpa dengan peristiwa atau simbol yang mirip-mirip.

Oleh sebab itu, yang perlu diupayakan adalah menyelaraskan dan mengintegrasikan diri yang bermasalah. Pada mulanya penyelam jiwa menjenguk dirinya yang terluka dengan cara beraktif imajinasi, shadow work, dan seperangkat tool di dalamnya.

Seperangkat metode paikologi ala Jungian tersebut adalah cara-cara yang dipakai untuk menjalin komunikasi alam bawah sadar secara harmoni. 

Praktis detailnya tentu saja tenaga profesional yang minimal mempunyai sepuluh ribu jam terbang akan memudahkan menuntun dan membimbing klien menuju menjadi pribadi seutuhnya.

Wallahua'lam

Author: Arif Rahman Hakim

ABOUT THE AUTHOR

Arif Rahman Hakim

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hobi membaca buku keislaman bercorak tasawuf


COMMENTS