Ibn ‘Arabi pernah bercerita tentang Iblis dan Kanjeng Nabi dalam Futuhat al-Makkiyyah. Suatu ketika, Iblis mendatangi Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi bertanya, “Ada apa gerangan?”. Iblis seolah memberitahu Kanjeng Nabi dengan menjawab, “Asal engkau tahu Ya Rasulullah, Allah menciptakanmu itu untuk hidayah, tetapi engkau tak berwenang sedikit pun untuk memberi hidayah, dan Allah menciptakanku itu untuk ghiwayah, tetapi aku juga tidak berwenang sedikit pun untuk memberi ghiwayah.” Malaikat pun datang dan menengahi keduanya. Dari cerita tersebut, hidayah berarti petunjuk, sedangkan ghiwayah adalah sebaliknya yaitu kesesatan atau kekeliruan.

Kisah Iblis dan Kanjeng Nabi tersebut dapat menggambarkan semacam pertentangan antara kebaikan versus kejahatan. Tentu saja jika kita melihat kedua sosok tersebut akan membentuk gambaran bahwa Kanjeng Nabi memang diutus oleh Allah di akhir zaman ini untuk menjadi rahmatan lil ‘alamiin dengan menunjukkan kepada kita jalan menuju Allah. Sementara Iblis pastilah kita sebut sebagai tokoh antagonis atau peran jahat sejak zaman Nabi Adam As. yang menggoda dan menyesatkan manusia dari jalan Allah Swt. Namun apakah bisa disimpulkan semudah itu?

Apabila kita melakukan sedikit muhasabah kepada diri kita sendiri terkait ini, maka akan timbul pertanyaan: “Apakah selama ini saya mengikuti petunjuk dari Kanjeng Nabi atau malah selama ini tersesat oleh Iblis dan setan?”. Jawaban yang paling tepat dari pertanyaan hal ini adalah ya dan tidak. Umat muslim yang sedari kecil belajar tentang Islam wajar jika merasa bahwa berada di jalan yang benar karena sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Kanjeng Nabi. Namun dalam perjalanannya, umat muslim sering kali bahkan baik itu sengaja maupun tidak, jauh dari petunjuk Allah maupun ajaran Kanjeng Nabi. Bahkan saat dalam posisi bermaksiat, bukankah kita juga (kadang ingat dan) mendamba kebaikan dari Allah dan melihat Kanjeng Nabi sebagai teladan kearifan?

Hasil dari muhasabah ini akan ada kalkulasi atau hitungan seberapa banyak kita berjalan sesuai dengan hidayah ataukah masih dalam keadaan ghiwayah. Hitungan ini tentu hanya bisa dijawab oleh masing-masing dari kita yang melakukan muhasabah. Namun, jika menilik dari hasil muhasabah, akan timbul pertanyaan kembali: “Mengapa saya bisa terjerumus pada ghiwayah, sedangkan saya masih memerlukan hidayah? Mengapa saya tidak memperoleh hidayah sedari dulu agar saya tidak terlalu lama dalam ghiwayah?”. Tentu sangat tidak adil dan agak naif jika kita menisbatkan segala kekhilafan kita maupun dosa kita hanya dengan alasan ‘digoda setan’. Lebih buruk lagi jika melihat segala kebaikan yang kita lakukan berasal dari diri kita sendiri atau malah merasa bahwa diri kita lebih baik dari orang lain. Bukankah sifat angkuh itu sifat dasar Iblis? Bukankah di dalam riwayat hidupnya, Kanjeng Nabi tak pernah merasa jumawa bahkan di depan orang kafir sekalipun?

Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya majburun bi ikhtiyar atau dipaksa dengan pilihan. Salah satu nama Allah Swt. adalah Al-Jabbar atau Yang Maha Memaksa. Artinya, segala gerak-gerik diri kita sebagai manusia yang ‘dipaksa’ oleh Allah Swt. Kendati dipaksa oleh Allah, kita sebenarnya dipaksa dengan dihadapkan pada banyak pilihan. Misalnya saja ketika memutuskan untuk pergi jamaah ke masjid, tentu kita melihat pilihan antara pergi atau tidak. Jika kita memilih tidak pergi, tapi ternyata ada acara tahlilan yang saat kita terbayang ada sajian makanan, akhirnya kita berangkat ke masjid meskipun berniat mencari makan. Begitu juga ketika memilih berangkat, tetapi ternyata hujan atau kendaraan kita mogok yang berakibat tidak jadi berangkat. Inilah bentuk dipaksanya kita oleh Allah dengan segala pilihan yang diberikan oleh Allah. Kita tidak dapat memutuskan apa yang akan terjadi pada diri kita ke depannya, tapi setidaknya kita dapat memilih apa yang perlu kita lakukan. Takdir memang di tangan Allah saja, tetapi segala pilihan kita adalah tanggung jawab kita di hadapan hadirat-Nya.

Begitu pun dengan persoalan hidayah dan ghiwayah. Keduanya juga bagian dari pilihan yang disediakan Allah Swt. Kanjeng Nabi yang menunjukkan hidayah maupun Iblis yang menunjukkan ghiwayah keduanya masih tetap sebagai hamba-Nya. Manusia yang juga hamba tentu tidak mungkin seistimewa dan sesempurna Kanjeng Nabi. Namun mengikuti Kanjeng Nabi adalah usaha yang sangat tepat. Kita mungkin sering dalam kegundahan atau kesedihan karena mungkin jauh dari ajaran Kanjeng Nabi dan mungkin saja kita masih sering larut dalam godaan Iblis. Namun yang perlu ditekankan adalah bahwa kita bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri, baik itu hidayah ataupun ghiwayah. Tanggung jawab inilah yang menunjukkan status kehambaan kita di hadapan Allah Swt. Tanggung jawab ini tidak boleh tidak harus diwujudkan dalam ketundukan kita pada Allah.

Hidayah dan ghiwayah layaknya dua sisi koin maupun dua mata pisau. Keduanya merupakan kebaikan dan keburukan atau air dan api. Sebagaimana yin dan yang, keselarasan keduanya ada agar tercipta keharmonisan dan kesempurnaan di semesta. Kesempurnaan disebut sebagai kamal oleh Ibn ‘Arabi. Berbeda dengan tamm yang bisa diartikan dengan lengkap. Tamm atau lengkap bagi Ibn ‘Arabi adalah kelengkapan kebaikan tanpa adanya cacat maupun keburukan. Sedangkan kamal adalah kesempurnaan kebaikan dan keburukan dalam diri makhluk yang menjadikan dia utuh dan sempurna. Karenanya, kamal lebih tinggi daripada tamm. Keberadaan hidayah dan ghiwayah adalah upaya manusia untuk meraih kesempurnaan sebagai makhluk dan hamba Allah.

Memang manusia tak lepas dari dosa di masa lalu. Namun, manusia masih punya pilihan kebaikan di masa depan. Begitu pula jika saat ini masih terjebak pada lingkaran setan berupa dosa dan kemaksiatan, paling tidak kita memiliki kesempatan mengubahnya menjadi lebih baik lagi. Rahmat dan ampunan Allah tentu terbentang sangat luas bagi kita. Syekh Amongraga pernah berpesan bahwa “Tak usah merasa paling suci karena setiap jalan (yang dilalui manusia), lurus ataupun bengkok, ada kubangannya.” Ihdina Sirath al-Mustaqim. Ilahi Anta Maqhsudi wa Ridhaka Mathlubi.

Author: Ikhbar Fiamrillah Zifamina

ABOUT THE AUTHOR

Ikhbar Fiamrillah Zifamina

Masih bergelut dengan tugas akhir kuliah


COMMENTS