Isma’il Raji’ Al-Faruqi adalah seorang cendekiawan Islam yang luar biasa memperjuangkan Islam dan memberikan tawaran solusi ketika umat dalam kondisi memprihatinkan. Al-Faruqi lahir di Jaffa, Palestina pada 1921.

Awal pendidikannya ia tempuh di College des Freres kurang lebih 10 tahun lamanya, dari 1926 hingga 1936. Pada 1941, Al-Faruqi mendapatkan gelar sarjana filsafat mudanya di usia 20 tahun di American University yang terletak di Beirut.

Setelah lulus, Al-Faruqi menjadi pegawai pemerintahan selama 4 tahun di bawah pimpinan Inggris. Setelah selasai masa abdinya menjadi pegawai, ia dipilih menjadi gubernur di Galilee yang dua tahun setelah kepemimpinannya Galilee berpindah tangan ke dalam kuasa Israel pada 1947.

Selang setahun lamanya, tepatnya pada 1948, Al-Faruqi hijrah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya. Sebelum dua tahun, ia sudah mendapatkan gelar magister filsafat dengan kejian ketuhanan yang menjadi tesisnya pada 1949. Di kampus yang sama di Indiana University Amerika, Al-Faruqi juga berhasil mendapatkan gelar doktoralnya pada 1952.

Al-Faruqi berpindah-pindah tempat menjadi pengajar, di Kanada, Pakistan, dan Amerika Serikat. Pada 1968, Al-Faruqi menjadi guru besar Studi Islam di Temple University. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendirikan International Institute of Islamic Thought pada 1981 di Herndon, Virginia.

Al-Faruqi merupakan salah satu intelektual yang amat serius menekuni bidang kajian keislaman. Dominasi wacananya awalnya cenderung ke arah Arabisme yang kemudian lambat laun ia ubah acuan titik kajiannya ke arah esensi Islam.

Hal ini ia lakukan sebab adanya pembacaan yang dilakukan oleh para sarjana Barat yang keliru dalam memahami Islam dan para umat Islam sendiri kehilangan jati diri atas pengetahuan dan kemantapan keberislamannya.

Perjuangan Al-Faruqi dalam menawarkan ide cemerlang untuk dijadikan solusi umat Islam saat itu selain berdampak baik juga berdampak buruk terhadap diri dan keluarganya. Kematian tragis Al-Faruqi pada 1986 diduga oleh para pengamat merupakan hasil pembunuhan yang dilakukan para sekawanan Zionis Yahudi.

Pengamat mengungkapkan bahwa para Zionis Yahudi telah lama mengamati gerak masif kajian Islam yang dilakukan Al-Faruqi dalam memajukan Islam. Oleh sebabnya, dugaan tersebut dilontarkan para pengamat dalam kasus pembunuhan tragis Al-Faruqi yang berkaitan erat atas kecamannya pada Israel.

Kontribusi Al-Faruqi dalam peradaban Islam, khususnya keilmuan tidak dapat diremehkan. Pemikirannya memiliki corak tersendiri pada masanya. Tawaran-tawaran cerdasnya dalam menjawaban polemik tantangan zaman di dunia Islam, khususnya untuk kaum muslim, menggambarkan bentuk kepedulian yang sangat pada diri Al-Faruqi terhadap kondisi kaum muslim saat itu.

Al-Faruqi termasuk intelektual yang produktif. Tulisan-tulisannya berfokus dalam banyak berbagai bidang yang berbeda-beda. Hal tersebut selaras dengan konsumsi pengetahuan dan keilmuan yang ia dalami.

Dalam literatur-literatur besar, Al-Faruqi termasuk salah satu intelektual yang memiliki cita-cita besar untuk menguasai berbagai cabang ilmu. Dari rekam jejak intektualnya tergambar banyak cabang keilmuan yang telah ia jelajahi dan ia lahap. Hal ini ia lakukan karena adanya dorongan internal dirinya untuk menemukan kesinambungan dari berbagai arah sudut pandang. Outputnya ialah menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi problema yang menimpa kaum muslim saat itu.

Bagi Al-Faruqi, kekalahan kaum muslim pada masanya belum pernah ia lihat separah dan sehina yang terjadi, di mana umat muslim dijajah, dirampas, hingga digiring untuk menjadi seorang sekuler oleh agen-agen yang berkepentingan.

Beberapa sektor yang dimiliki umat muslim lumpuh tidak lagi berjalan, hingga mau tidak mau umat muslim pasrah akan kondisi yang fatal tersebut. Oleh sebab itu, Al-Faruqi menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi hal tersebut. Setidaknya dalam tulisan ini akan menguraikan sekilas dua solusi besar yang ditawaran Al-Faruqi dalam mengatasi kelemahan umat muslim.

Pertama, ialah menggali dan memahami lebih serius perihal peradaban Islam dan keislaman itu sendiri. Kedua, melakukan Islamisasi dalam pengetahuan modern yang telah mendominasi wilayah Islam.

Dua tawaran tersebut pada prinsipnya ditawarkan untuk manjadi tameng dalam menangkal ideologi dan konsep yang semestinya dihindari oleh para kaum muslim. Sebab, pada kondisi parah yang sedang terjadi di wilayah-wilayah Islam, umat Islam benar-benar seakan tidak memiliki kendali atas keyakinannya, dan hal ini sangat memprihantinkan bagi Al-Faruqi.

Pada tawaran pertama, Al-Faruqi memberikan tekanan pada penghapusan dualisme dalam pendidikan Islam, di mana pada saat itu umat Islam cenderung menutup diri untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum dengan berbagai alasan normatif.

Untuk upaya tersebut, Al-Faruqi mengeluarkan gagasan intelektualnya dalam soal pendidikan Islam. Umat Islam wajib mempelajari peradaban Islam secara mendalam sekaligus mempelajari ilmu pengetahuan umum tanpa adanya dikotomi ilmu. Al-Faruqi menyarankan agar kalangan Islam tidak terlalu kaku dalam menerima perubahan di setiap zaman, serta menegaskan untuk senantiasa berpegang pada sumber otoriter yang jelas, yakni Al-Qur’an dan hadis.

Tawaran keduanya Al-Faruqi ialah melakukan islamisasi dalam ilmu pengetahuan modern. Artinya, umat Islam dapat mengambil hikmah dari penemuan-penemuan baru yang ditemukan pada saintifik yang mayoritas penemunya bukan muslim.

Dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan modern, Al-Faruqi memberikan beberapa prinsip penting di dalamnya yang harus menjadi pegangan setiap siapa pun. Prinsip penting tersebut ialah 1) mengetahui, meyakini, dan memliki argumen atas keesaan Allah; 2) alam semesta merupakan suatu kesatuan; 3) kesatuan dalam kebenaran dan pengetahuan; 4) kesatuan hidup; dan 5) kesatuan umat manusia.

Kelima prinsip yang tawaran Al-Faruqi terdapat dalam karyanya yang berjudul Al Tawhid: Its Implications for Thought and Life (1982). Al-Faruqi memberikan tawaran alur logis dalam memegang prinsip kendali nalar dan hati yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis di dalam berkehidupan yang penuh dikotomis.

Hal tersebut bagi Al-Faruqi perlu dihapuskan. Sebab, menurut Al-Faruqi, mempelajari Islam dan ilmu pengetahuan modern dapat memberikan keuntungan lebih pada kaum muslim, dari segi perekonomian maupun segi peradaban Islam.

Gagasan-gagasan Al-Faruqi secara tidak langsung berkontribusi pada perkembangan dunia intelektual Islam, khususnya sinergitas Islam dan sains. Proyek islamisasi ilmu pengatuan yang didengungkan Al-Faruqi ikut serta dalam mempengaruhi cakrawala pemikiran Islam di Indonesia.

Lima prinsip yang menjadi pondasi dalam melakukan islamisasi pengetahuan dari Al-Faruqi, “seharusnya” telah tuntas dikatamkan apabila hendak melakukan islamisasi pengetahuan modern. Dalam artian, tidak sekadar menelan mentah output dari gagasan Al-Faruqi, melainkan berproses melalui pemahaman secara radikal dan berdasar pada sumber pokok dalam Islam.

Kelima prinsip dari Al-Faruqi dalam upaya islamisasi ilmu pengetahuah modern dapat menjadi takaran diri saat ketika mempelajari sesuatu, dan sejauh mana kelima prinsip tersebut mampu membangun kesadaran pengetahuan dalam atlas kebudayaan, keberilmuan, dan keislaman.

Author: M. Khusnun Niam

ABOUT THE AUTHOR

M. Khusnun Niam

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


COMMENTS