Redaksi MJS

Ngaji Filsafat – Bencana | Ngaji Filsafat 262 edisi Musibah | Bersama Dr. Fahruddin Faiz | Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta | 10 Juni 2020.

 

Musibah: awalnya sesuatu yang netral

Musibah berasal dari kata “ashaaba”, “yushiibu”, “mushiibatan” yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupun kesusahan.

Dengan demikian musibah secara bahasa bersifat netral karena dapat berupa peristiwa baik maupun peristiwa buruk tergantung bagaimana cara manusia memandangnya.

Persis seperti hujan yang menjadi kebaikan bagi ojeg payung, produsen jas, dan produsen cat anti air, tetapi menjadi keburukan bagi tukang es, pembuat kerupuk, dan pemborong bangunan.

Dalam konteks peristiwa alam, sesungguhnya menurut sains, adalah fenomena alam biasa yang netral. Namun, umumnya dipahami musibah selalu identik dengan kesusahan.

Mode hidup di dunia: living with the enemy

Kita hidup bersama virus, bakteri, bencana alam, hawa nafsu/ambisi yang merusak, dan lain sebagainya. “Rahasia dari manajemen krisis saat bencana bukanlah mengupayakan ganti mode hidup yang serba baik, tetapi mencegah yang buruk menjadi semakin buruk”.

Bencana alam: karena melibatkan kesengsaraan manusia

Disebut “bencana alam” pada hakikatnya karena melibatkan kesengsaraan manusia, bukan karena peristiwa tersebut besar atau spektakular. Kehancuran sebuah pulau tidak berpenghuni karena letusan gunung berapi tidak termasuk dalam bencana alam karena tidak melibatkan korban manusia.

Ada dua jenis bencana alam, yakni natural disaster dan man made disaster (misalnya Chernobyl di Uni Soviet dan banjir lumpur panas di Sidoarjo)

Bencana: hakikatnya kebaikan

Bencana merupakan ketetapan Tuhan, dan segala sesuatu yang ada yang berasal dari Tuhan sesungguhnya adalah kebaikan. Gempa, likuifaksi, tsunami, letusan gunung api sebetulnya juga suatu kebaikan.

Misalnya: kehadiran gunung berapi sebetulnya sebuah rahmat bagi sebuah wilayah. Letusan gunung api memuntahkan material kaya mineral yang menjadi nutrisi pemasok kesuburan tanah. Letusan berulang kali menyebabkan tanah selalu mengalami peremajaan sehingga mampu menopang kehidupan manusia melalui hasil bumi yang dipanen, tidak heran jika Pulau Jawa merupakan pulau terpadat di Indonesia dengan populasi mencapai 60 persen penduduknya meskipun hanya pulau terbesar ke-5 setelah Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi.

Kebaikan dari bencana itu dapat berarti: 1) keniscayaan (sunnatullah), 2) keseimbangan, 3) keadilan, 4) hikmah.

Perspektif: Leibniz

“Tuhan itu pasti bijaksana, Maha Kuasa dan Maha Baik. Tuhan tidak akan menciptakan dunia yang sempurna sebab hanya Dia-lah yang sempurna. Apa yang diciptakan Tuhan adalah ‘Dunia terbaik yang mungkin ada’. Tidak ada sesuatu yang benar-benar jahat, segala hal ada alasannya. Kalau kita tahu alasan Tuhan, kita akan memahami apa kebaikan dari munculnya kejahatan tersebut”.

Kritik Voltaire

“Leibniz tak menunjukkan kepadaku, di semesta yang konon terbagus ini, benarkah ada alasan yang tak terlihat hingga keadaan kacau tak kunjung berhenti… dan yang tak berdosa menanggung malang”.

Stephen Hawking

Life on Earth is at the ever-increasing risk of being wiped out by a disaster, such as sudden global nuclear war, a genetically engineered virus or other dangers we have not yet thought of”.

Perspektif: bencana alam itu tidak murni alam

Bisa dibilang saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya bencana alam murni, seperti masyarakat Pompeii yang tidak tahu menahu bahwa Gunung Vesuvius akan meletus dan mengubur seluruh isi kota. Ketidaktahuan tersebut menyebabkan mereka tidak dapat melakukan tindakan-tindakan preventif atas suatu bencana.

Saat ini, keputusan manusia menentukan seberapa parah sebuah bencana memberikan pengaruh kepada mereka. Sebagai contoh, gempa yang melanda Haiti pada 2010 dianggap sebagai salah satu bencana besar dengan korban jiwa sebanyak 200.000 orang. Sementara itu, gempa dengan kekuatan yang hampir sama terjadi di Cile satu bulan kemudian menelan korban jiwa ratusan nyawa.

Petra Nemcova

We cannot stop natural disasters but we can arm ourselves with knowledge: so many lives wouldn't have to be lost if there was enough disaster preparedness”.

Perspektif: antroposentrisme vs alam yang menunjukkan dirinya

Manusia modern: antroposentrisme. Manusia menjadi tolok ukur segalanya (homo mensura). Manusia mengklaim diri sebagai satu-satunya makhluk hidup yang “berkesadaran” di semesta ini, ia melihat segala sesuatu di luar dirinya yang tak berkesadaran sebagai objek, dan sekadar sebagai “pelengkap kehidupannya”. Binatang, tumbuhan, dan alam yang dinilai tak berkesadaran, seolah hanya hadir untuk melengkapi kehidupan manusia. Apa yang muncul kemudian tak hanya pola pikir atau tindakan untuk “mengobjekkan”, tetapi juga kesewenang-wenangan manusia terhadap berbagai entitas di luar dirinya.

Sebagai misal, kebun binatang. Akibat intervensi manusia, hewan-hewan itu dipisahkan dari kehidupan aslinya, dipenjara di balik jeruji besi, dan dipertontonkan. Juga munculnya adalah eksploitasi akut terhadap alam.

Lalu, kehidupan di luar manusia selalu dianggap sebagai objek, itu mungkinkah menampilkan dirinya sebagai subjek? Sangat mungkin. Seekor harimau atau singa yang terbiasa ditundukkan oleh pawang-pawangnya, tak menutup kemungkinan pada suatu hari berbalik menyerang mereka. Hamparan alam yang biasanya tampak pasif dan seolah pasrah begitu saja, sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bencana yang mengancam dan membunuh manusia.

Kejadian semacam itu merupakan sejenis “epifani”, sesuatu yang dulu tersembunyi, tak tampak, tak terpikirkan, namun tiba-tiba tersingkap di hadapan mata manusia berikut mengejutkan penglihatannya—bahwa segalanya itu memang ada. Lewat bencana itulah kiranya alam menunjukkan subjektivitas dirinya. Ia yang selama ini sekadar menjadi objek dan pasrah “ditindak” manusia, berbalik menjadi subjek yang “menindak” manusia. Layaknya manusia yang seolah bisa menentukan nasib alam, begitu pula alam yang bisa menentukan hidup-matinya manusia.

Neil deGrasse Tyson

Even with all our technology and the inventions that make modern life so much easier than it once was, it takes just one big natural disaster to wipe all that away and remind us that, here on earth, were still at the mercy of nature”.

Perspektif: blaming the victims dan blaming God

Rumusan teologis yang mengasumsikan bahwa bencana adalah refleksi dari kemurkaan Tuhan (azab), secara ekstrem akan membawa kepada pandangan menyudutkan dan menyalahkan mereka yang menjadi korban (blaming the victims).

Rumusan teologis yang mengasumsikan bahwa bencana merupakan “ujian” atau “takdir” Tuhan, secara ekstrem akan membawa kepada pandangan menyalahkan Tuhan (blaming God).

Teori: fenomenologi bencana

Manusia selalu meyakini berhadapan dengan realitas nyata sepanjang ia tak memiliki alasan tepat untuk menyangkalnya, inilah yang disebut sebagai “realitas puncak”. Namun, manakala manusia tak mampu menghadapi realitas puncak, atau realitas tersebut tak sesuai harapannya, maka ia pun akan menolak keberadaaan makna puncak, dan menggantinya dengan “makna khusus”.

Dalam kasus bencana, seringkali manusia tak mampu menerima kenyataan terjadinya bencana, inilah yang kemudian memunculkan beragam makna khusus.

Misalnya, saat seseorang putus hubungan dengan pacar dipahami sebagai pertanda baik, yakni daripada dilanjutkan hingga pernikahan, bisa jadi nantinya akan bercerai. Kita bisa saja tak sependapat dengan pemaknaan itu, tetapi apa yang dikatakannya boleh jadi ada benarnya. Inilah yang disebut sebagai kesadaran yang terbagi, yakni meskipun kita memiliki tafsir berbeda dari orang lain, tafsir kita selalu memiliki irisan dengan tafsir orang lain.

Dalam kasus bencana gunung meletus misalnya, ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu adalah bentuk kemurkaan Tuhan, namun ada pula yang berterima kasih kepada Tuhan, karena dengan meletusnya gunung ia melihat kesempatan membuka bisnis tambang pasir.

Teori: dekonstruksi bencana

Pasca tragedi WTC 2001, seorang jurnalis senior Italia, Giovanna Borradori melakukan wawancara dengan Jacques Derrida. Jawaban Derrida: Ia mengkritik media yang terus-menerus menyiarkan ditabraknya dua tower kembar WTC oleh pesawat yang dibajak. Bagi Derrida, hal tersebut justru bakal kian melipatgandakan teror yang dituai masyarakat, dan malah memenuhi harapan teroris, yakni kian meluasnya skala teror berikut ketakutan masyarakat.

Derrida menolak terjebak pada pusat pemikiran, yakni dua pesawat yang menabrak tower kembar WTC. Ia lebih berfokus pada narasi pinggiran, misalnya bagaimana peristiwa WTC akan semakin membuat Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memperbaruhi sistem keamanannya, bagaimana masyarakat terdampak teror akan melakukan pembaharuan sosial dan meningkatnya solidaritas sosial, kian meningkatkan kesiap-siagaan kita terhadap bencana di kemudian hari, menyadarkan pentingnya perencanaan tata ruang, menumbuhkan rasionalisasi masyarakat dalam menghadapi bencana, serta kian mendorong penerapan iptek multidisipliner dalam merespon kondisi geografis.

Teori: frekuensi dan getaran

Ada imbal-balik, saling interaksi antara kesadaran manusia dan kondisi alam. Bencana yang terjadi bisa jadi merupakan respon alam terhadap tingkat kesadaran manusia di sekelilingnya.

Kategori bencana dalam Al-Qur’an

Takdir (QS Al-Hadid [57]: 22)

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 

Artinya, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah

Azab (QS Ar-Rum [30]: 41 dan Ash-Shura [42]: 30)

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 

Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ 

Artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)

Ujian (QS Al-Mulk [67]: 2 dan Al-Baqarah [2]: 155)

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ 

Artinya, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ 

Artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar

Hikmah bencana: naiknya derajat di hadapan Allah

  • Pengingat akan keberadaan dan cinta Allah. Sabda Nabi Muhammad Saw., “Setiap kali Allah mencintai sekelompok orang, Allah pasti memberi cobaan pada mereka” (HR Al-Tirmidzi).
  • Pengingat untuk tidak takabur dan tinggi hati.
  • Pengingat agar bertaubat dan lebih mendekatkan diri pada Allah.
  • Pengingat akan kemahakuasaan Allah.
  • Pengingat akan posisinya di sisi Allah.
  • Pendorong untuk mulai merindukan Allah dan surga.
  • Pendorong untuk memperbanyak kebaikan individual, sosial dan ekologis.

Belajar dari perahu Nuh

  • Jangan terlambat naik perahu.
  • Ingatlah kita ada di perahu yang sama.
  • Biasakan membaca dan berencana untuk masa depan: Perahu nabi Nuh tidak dibangun saat musim hujan.
  • Tetaplah jaga kesehatan. Nabi Nuh menjadi Nabi, berdakwah dan membuat kapal di usia yang cukup tua.
  • Jangan terpengaruh oleh kritik. Fokus saja kepada apa yang harus dilakukan.
  • Diantara kunci keberhasilan kebersamaan/pasangan.
  • Kecepatan/kelebihan tertentu tidak selalu menjadi keuntungan. Di atas perahu, seekor kijang dan seekor siput kecepatannya sama.
  • Ingatlah, perahu Nuh dibangun oleh seorang amatir, sementara Titanic dibangun oleh para ahli yang profesional.

Hadis qudsi

Allah SWT berfirman, “Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan”.

Author: Redaksi MJS

ABOUT THE AUTHOR

Redaksi MJS

Menuju Masjid Membudayakan Sujud


COMMENTS