Nabi Isa atau Yesus Kristus pernah bersabda, “Wahai Bani Israil, setiap hari adalah tempat di mana kekayaan mereka berada, oleh karenanya biarkan kekayaanmu ada di langit supaya hatimu juga ada di sana”. Sabda yang direkam oleh Ibn Arabi dalam Fushush al-Hikam tersebut, konon tertera juga di Injil Matius 4:21. Sebagaimana kita tahu, Yesus atau Isa Almasih adalah tokoh yang menakjubkan sepanjang sejarah dunia. Mulai dari kelahirannya, kematiannya, ajarannya, hingga status dirinya di hari kiamat.

Dua agama besar, yakni Islam dan Kristen sangat menjunjung tinggi pribadinya dengan cara apa pun. Baik itu berupa ajaran, ilmu pengetahuan tentang ketuhanan, karya seni terkait dengan Isa dan lain sebagainya. Bahkan di Indonesia, setiap akhir tahun akan muncul perdebatan kusir persoalan natal atau maulid dari Nabi Isa. Kita yang muslim tentu akan sangat antusias dalam menyambut maulid Nabi Muhammad Saw dalam bentuk apa pun. Namun apakah kita juga menyambut maulid Nabi Isa dengan kericuhan debat hukum ucapan selamat natal untuk umat Nasrani atau hanya menikmati diskonan natal dan tahun baru?

Tentu saja kita menginginkan khusnul khatimah menjelang akhir tahun, maka akan sangat mengabiskan waktu jika hanya berhenti di situ, melulu berbedat kusir. Muhasabah atau introspeksi diri di akhir tahun adalah salah satu kuncinya. Alangkah lebih baiknya kita sebagai muslim melihat momen natal atau kelahiran Nabi Isa sebagai bentuk muhasabah di akhir tahun.

Diceritakan bahwa Siti Maryam mengandung Isa Almasih ketika berusia 13 tahun atau 15 tahun. Semisalnya masa ABG atau remaja SMP yang sudah balig. Semisalnya pula dalam konteks kini, perempuan yang hamil pada umur belasan, maka akan timbul omongan “tetangga” dan suara-suara gosip yang mengarah kepadanya. Apalagi jika si perempuan belum menikah, pasti akan disangka “kecelakaan” entah sebab pergaulan. Berbeda dengan semisalnya tersebut, sejatinya Siti Maryam menjadi pengantar akan kelahiran Isa Almasih, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)’” (QS Ali Imron [3]: 42).

Siti Maryam menanggung cobaan sebelum kelahiran Isa Almasih, dan ketika Isa Almasih lahir berbicara langsung untuk membantah fitnah atas ibunya tersebut. Tentang kelahiran Isa Almasih, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Setan akan menyentuh setiap anak Adam pada saat dilahirkan oleh ibunya kecuali Maryam dan anaknya”. Dalam Qishash al-Anbiya’ pun dijelaskan bahwa semua berhala jatuh saat Nabi Isa lahir. Diceritakan pula dalam kitab karya Imam al-Tsa’abi tersebut, iblis menyampaikan kepada komplotan para setan, “Tak pernah ada seorang nabi yang lebih berbahaya bagimu dan bagiku kecuali nabi yang baru saja dilahirkan ini”.

Keistimewaan Nabi Isa sejak lahir juga tercermin dalam kehidupannya. Dalam Futuhat al-Makkiyyah, Ibn Arabi menceritakan bahwa Isa setiap hari berpuasa dan pada malam hari bangun dan berdoa pada Allah. Berbeda dengan puasanya Nabi Daud, yakni satu hari puasa satu hari tidak. Sedangkan puasanya Siti Maryam, berpuasa dua hari satu hari tidak. Seorang sufi Imam Hasan al-Bashri pernah menegur khalifah tentang syahwat duniawi dengan kalam dari Nabi Isa, “Rotiku setiap hari adalah kelaparan; tanda pangkatku adalah ketakutan (khouf), pakaianku adalah wol, kudaku adalah kakiku, lenteraku di malam hari adalah rembulan, apiku di siang hari adalah matahari, buah dan ramuan wewangiku adalah sesuatu yang dihasilkan oleh bumi untuk binatang buas dan ternak. Sepanjang malam, aku tidak memiliki apa-apa, namun tak ada yang lebih kaya dariku”.

Dari sekian keterangan di atas, bila kita mencontoh Nabi Isa dalam hal puasa, misalnya, paling mentok puasa Senin-Kamis atau puasanya Nabi Daud. Dan barangkali begandangnya kita lebih berisi untuk hal-hal bumiawi daripada zikir atau shalat malam atau menatap langit bermuhasabah dengan mata berlinang tunduk dan hati khusyuk. Bagaimana mungkin kita juga menjalani dunia? Bayangkan, jika setiap keluarga hanya makan roti atau para PNS berseragam wol dan tidak perlu listrik, apalagi gadget.

Muhasabah tentang Yesus, tentu perlu meniru Nabi Isa dalam segala hal tanpa melihat kapasitas manusiawi dan spiritual kita. Agar lebih dimengerti, mari kita renungi kalam hikmah dari Maulana Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi, “Tubuh adalah laksana Maryam. Setiap orang dari kita mengandung Isa dalam dirinya, tetapi sebelum perih menyatakan diri dalam diri kita, Isa kita tidak dilahirkan. Apabila perih itu tidak pernah datang, maka Isa bergabung lagi dengan asalnya melalui jalan rahasia yang sama dari mana ia datang. Dia meninggalkan kita kehilangan dan tanpa kenangan apa pun dari dia”.

Siti Maryam dan Isa Almasih adalah kita tanpa kita sadari selama ini. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, yang rasanya konon bagai 80 tulang patah, maka siapa pun dari kita perlu merasakan sakit demi lahirnya Sang Mesiah. Nabi Isa adalah Ruh Tuhan yang berarti kelahirannya adalah kelahiran ruhani kita. Perjuangan ruh adalah jihad akbar sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka sekian syariat dari Nabi Muhammad Saw adalah segala hal yang membuat kita memerolah hakikatnya. Ibadah lahiriah yang dilakukan jasmani harus memiliki hakikat ruhani secara batiniah. Sehingga, tubuh dalam laku ibadah lahiriah akan melahirkan dan kesakitan untuk kelahiran hakikat ruh.

Sejauh ini kita hanya berdebat hukum tentang hubungan antarumat beragama atau dialog antariman yang pada satu sisi hanya mempertegas perbedaan masing-masing, alangkah baik bila “melahirkan Isa” dalam bentuk ibadah, doa-doa, zikir-zikir, atau bahkan interaksi kita dengan siapa pun, baik itu muslim atau Nasrani. Isa kita adalah ruhani kita. Natal Yesus adalah maulid kesadaran spiritual kita.

Seorang muslim tentu adalah man salima al-muslimun min lisanihi wa yadihi, yakni siapa pun yang memberikan keselamatan atau selamat dalam lisan dan tangannya. Maka segala aktivitas seorang muslim adalah demi sebuah keselamatan. Oleh karena itu, natal bukan tentang perdebatan kita boleh atau tidaknya mengatakannya kepada umat Nasrani, namun adalah apa yang kita berikan dan katakan adalah dalam wujud suatu salam atau keselamatan.

Allah berfirman mengenai maulid Isa yang penuh dengan keselamatan atau salam dalam Al-Quran surah Maryam ayat 33, “Wa al-salamu ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amutu wa yauma ub’atsu hayya”, yang artinya, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’. Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib’. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu” (QS Al-Maidah [5]: 116-117).

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-14 Jumat, 27 Desember 2019/30 Rabiulakhir 1441 H.

Author: Ikhbar Fiamrillah Zifamina

ABOUT THE AUTHOR

Ikhbar Fiamrillah Zifamina

Masih bergelut dengan tugas akhir kuliah


COMMENTS

  • Ahmad Luthfi Maulana At-Turmud

    Sangat mengena sekali dihati dan pikiran saya …makasih mas ikhbar dan Mjs …salam kagem pak faiz nggih