Ismail

Dulu, manusia dan alam bersahabat. Persahabatan keduanya harmonis. Itu tergambar dari bagaimana manusia memperlakukan alam. Alam dijaga. Alam dihargai. Alam dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Akhirnya, alam memberikan kelimpahan terhadap kehidupan manusia.

Seorang teman dari Aceh pernah bercerita. Dulu, di kampungnya, warga masyarakat tercukupi kebutuhan hidupnya, terutama pangan. Kebutuhan pangan seperti ikan dan buah-buahan begitu melimpah. Untuk mencari ikan di sungai, mereka hanya butuh waktu dua tiga jam. Dengan durasi tersebut, hasil tangkapannya lebih dari cukup.

Demikian juga di daerahku, Bima, NTB. Masyarakat begitu suka cita berhadapan dengan alam. Dikarunia gunung, bukit, sungai, tanah subur, dan laut merupakan keberkahan. Bukit dengan ragam tumbuh-tumbuhan, juga pohon menjadi sumber kehidupan. Semua terlihat hijau.

Namun, hal itu dulu sebelum perkembangan teknologi secanggih saat ini. Kala itu, masyarakat belum diperkenalkan dengan teknologi modern. Itu sebelum mesin ramai-ramai menginjakkan ‘kakinya’ di setiap sudut tempat dalam kehidupan masyarakat. Itu dulu sebelum teknologi mengubah perilaku dan cara berpikir masyarakat dalam memandang dan memperlakukan alam.

Salah satu contoh penggunaan teknologi itu seperti penggunaan kapak dan mesin gergaji kayu yang punya implikasi berbeda terhadap lingkungan. Kedua kapak dan mesin gergaji kayu tersebut memang sama-sama teknologi. Penggunaan kapak mengandalkan tenaga manusia, penggunaannya terbatas dalam skala kecil untuk memenuhi kebutuhan yang relatif kecil sehingga tidak mengganggu keseimbangan alam. Sementara itu, penggunaan mesin gergaji yang bekerja semi otomatis bisa menebang ratusan pohon dalam sehari dan digunakan dalam kebutuhan skala besar. Hal itu tentu akan membuat penebangan pohon dalam jumlah yang lebih banyak dan dapat berdampak pada keadaan hutan.

Memang, di satu sisi mesin membantu meringankan beban manusia. Hanya saja, keberadaan mesin juga mengubah cara berpikir manusia. Dari menyesuaikan kebutuhan dengan keadaan alam, sampai menguasai dan mengontrol bahkan menghancurkan lingkungan sekitarnya.

Ketidakmampuan dan ketiadaan kesadaran manusia dalam mengontrol penggunaan mesin itulah yang menjadi problem kehidupan. Dampak-dampak negatif dari mesin tersebut yang dipikir dan direnungkan oleh Lewis Mumford (1895-1990), seorang filsuf teknologi kontemporer asal Amerika. Ia menyimpulkan bahwa teknologi yang manusia buat tidak hanya membantu menjembatani keterbatasan manusia dalam beraktivitas, tetapi juga mengubah cara berpikir dan perilaku manusia.  

Rupa-rupa Teknologi Menurut Mumford

Kapak dan mesin gergaji kayu yang saya sebut sebelumnya merupakan contoh teknologi. Ada dua jenis teknologi menurut Lewis Mumford, yakni alat dan mesin. Jika merujuk pada contoh di atas, kapak termasuk alat, sedangkan mesin gergaji merupakan mesin. Kedua benda tersebut merupakan teknologi. Meskipun keduanya merupakan bagian dari teknologi, tapi mempunyai implikasi yang berbeda dalam kehidupan manusia.

Alat menyadarkan manusia ihwal batas kemampuannya. Alat memang lebih menekankan pada tenaga manusia sehingga manusia menyadari batas kemampuannya. Kesadaran akan keterbatasan inilah paling tidak membuat manusia tidak rakus terhadap alam. Konsekuensi logisnya adalah penggunaan alat yang berpotensi mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan secukupnya. Oleh karena itu, manusia menggunakan alat tersebut sekadar untuk membantu keterbatasan manusia.

Jika alat menyadarkan manusia perihal demarkasi kesanggupannya, mesin justru menciptakan ilusi kekuatan dan kekuasaan tanpa batas bagi manusia. Mesin tidak lagi tergantung pada tenaga manusia semata. Mesin lebih menggantungkan pada kendali mesin itu sendiri. Tenaga mesin yang melampaui daya manusia inilah yang berpotensi mendorong manusia untuk menaklukan dan menguasai lingkungan lebih dari cukup secara berlebihan.

Manusia dan Teknologi

Dalam pandangan Mumford, keberadaan teknologi tidak terpisahkan dengan keunikan dan keistimewaan manusia. Dibandingkan dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai ciri khas. Pembeda paling prinpisipal yakni akal. Melalui akal inilah, manusia mampu berkomunikasi menggunakan simbol atau bahasa. Selain itu,  melalui bahasa pula, manusia berinteraksi dan bertukar gagasan dan ide dalam melakukan perubahan demi perubahan.

Tentu gagasan dan ide yang dimiliki manusia begitu banyak. Produksi gagasan yang banyak merupakan konsekuensi logis dari akal manusia. Aktif dan ramainya gagasan di kepala manusia, oleh Mumford, disebut sebagai hiperaktif. Corak akal yang hiperaktif ini membawa pengaruh dalam kehidupan manusia. Hal ini bisa berefek positif juga sekaligus dapat berimplikasi negatif terhadap kehidupan manusia.

Mode akal manusia yang hiperaktif membawa dampak positif. Dengan akal hiperaktif, manusia mampu menciptakan teknologi yang bisa menaklukkan alam. Penaklukan dalam mode ini tidak dibayangkan penguasaan penuh, tetapi lebih pada penggunaan teknologi untuk pemanfaatan alam untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya, pemanfaatan kapak membantu manusia memenuhi kebutuhan akan kayu.

Di sisi lain, akal hiperaktif juga berdampak negatif. Dampak negatif akal yang hiperaktif dapat membuat manusia berpotensi merusak dirinya jika tidak mempunyai visi atau makna dalam mengoperasikan akalnya. Dalam hal teknologi misalnya, akal hiperaktif manusia mampu terus menciptakan dan memproduksi teknologi. Namun, apa yang mereka ciptakan tersebut tidak dilandasi pertimbangan dan analisis filosofis. Bukannya membantu kehidupan manusia, akal hiperaktif tersebut hanya mampu menciptakan teknologi tanpa visi dan makna, sekaligus menghancurkan manusia dan alam semesta.

Paradigma Mesin

Ketika masih menggunakan alat, sikap manusia terhadap alam condong menjaga keseimbangan. Selain itu, manusia juga cenderung merasa dirinya lebih kecil daripada alam. Namun, saat teknologi mesin ada, sikap dan cara berpikir manusia berubah.

Paling tidak ada dua model paradigma yang ikut bergeser menurut Mumford dari teknologi alat ke teknologi mesin. Pertama, cara pandangan manusia cenderung memerintah dan menguasai lingkungan. Teknologi mesin membuat manusia jadi penguasa alam yang diktator. Alam tidak dipandang sebagai kawan. Alam kini dipandang sebagai lawan yang mesti ditaklukkan. Misalnya, dengan mesin gergaji kayu manusia bisa menggunduli gunung atau hutan. Dengan pabrik, manusia bisa membuat produk dalam skala besar. Konsekuensi logisnya adalah kebutuhan bahan baku semakin banyak. Belum lagi limbah yang dihasilkan bisa merusak ekosistem kehidupan.

Kedua, manusia kehilangan kebijaksanaan proporsional saat menggunakan teknologi mesin. Asumsi kekuasaan manusia melengserkan tindakan bijak ketika berhadapan dengan lingkungan. Manusia seakan tidak lagi mengukur kebutuhan. Seharusnya manusia hanya butuh dua, malah ambil banyak. Tentu ada banyak contoh fakta di sekitar kita. Implikasinya pun bukan hanya untuk satu-dua manusia, tetapi dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain itu, dampak yang ditimbulkan terhadap kehidupan sudah nampak jelas. Longsor, banjir, kebakaran hutan, pemanasan global, polusi udara merupakan sebagian dampak yang nyata. Satu di antara banyak faktor kejadian tersebut adalah hilangnya kebijaksanaan dalam menentukan proporsi kebutuhan.

Kedua paradigma tersebut merupakan konsekuensi logis dari teknologi mesin. Seperti yang Mumford katakan bahwa teknologi (mesin) ternyata mempengaruhi cara berpikir dan karakter manusia dengan alam.

Kesadaran Biotechnics: Langkah Solutif

Jika paradigma mesin masih mendominasi manusia, itu pertanda ancaman nyata bagi kehidupan. Jika manusia hanya mengembangkan dan menggunakan teknologi dengan prinsip teknologi untuk teknologi, ada banyak kerugian yang akan menyerang kelangsungan hidup manusia.

Berkaca pada hal tersebut, Mumford menawarkan jalan keluar yakni kesadaran bioteknik. Bioteknik erat kaitannya antara teknologi dan bio-viability. Bio-viability merupakan ketersediaan sumber daya alam dan kompleksitasnya yang mampu mendukung kehidupan. Artinya, jangan sampai teknologi merusak tata kehidupan, seperti pemanasan global atau polusi udara. Kesadaran bioteknik ini juga fokus dan peduli terhadap keberlangsungan hidup.

Selain itu, ia juga mendorong kita untuk fokus pada hubungan ideal antara sumber daya dan kebutuhan. Hanya dengan kesadaran seperti inilah hubungan manusia, teknologi, dan lingkungan paling tidak bisa harmonis secara perlahan demi lingkungan yang berkelanjutan.

Author: Ismail

ABOUT THE AUTHOR

Ismail

Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS