Saat ini, kata mutiara cenderung digemari daripada belajar Islam melalui kitab. Sudah tidak asing jika mata kita melihat tulisan atau telinga kita mendengar berbagai kata mutiara yang  berseliweran kesana-kemari yang dialamatkan kepada para penghuni ruang millenial. Salah satu kata mutiara yang populer ialah “tidak ada kata terlambat”. 

Lazimnya, kata seperti itu diucapkan oleh seorang tokoh yang diidolakan, kemudian dipotong-potong sesuai kebutuhan. Kata mutiara “tidak ada kata terlambat” ini juga memiliki relevansi dengan salah satu tokoh Islam yang hidup beberapa abad silam, yakni Khalid bin Walid.

Ia dikenal sebagai seorang panglima Islam yang populer ketika kita hendak membahas peperangan dalam sejarah Islam. Bagaimana tidak, Khalid bin Walid dikenal sebagai salah satu dalang dari kekalahan kaum Muslim di Perang Uhud. Ia memimpin pasukan Quraisy Mekkah dalam melawan pasukan kaum Muslimin. Bahkan dirinya disebut-sebut sebagai dalang dari kemenangan yang gemilang pasukan Quraisy Mekkah saat itu.

Kejadian itu terekam sebagai noktah hitam Khalid bin Walid dalam sejarah Islam. Akan tetapi, ia bisa berubah ketika terjadi perjanjian yang dilakukan oleh kaum Muslim dengan suku Quraisy. Perjanjian itu dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah yang tercatat dalam sejarah Islam pada tahun 8 H atau abad ke-6 M.

Meskipun di satu sisi, Perjanjian Hudaibiyah membuat Umar bin Khattab agak gusar, karena menurutnya kesepakatan itu cenderung merugikan pihak Islam. Kendati demikian, belakangan ini perjanjian itu dianggap sebagai langkah cerdas Nabi Muhammad sebagai teladan perdamaian. Perjanjian itu juga menjadi saksi sejarah bahwa umat Islam untuk pertama kalinya duduk berdampingan dan diakui keberadaannya.

Nah, Perjanjian Hudaibiyah ini menjadi momen bersejarah bagi seorang Khalid bin Walid, karena saat itu ia mengikrarkan dirinya untuk masuk Islam. Meskipun bisa dikatakan terlambat, namun itu tidak menjadi persoalan sebab kontribusinya untuk Islam dikemudian hari jauh lebih besar.

Setelah ia masuk Islam dan dekat dengan Nabi Muhammad, ia menjadi muslim yang memiliki keteguhan. Ia juga kerap dilibatkan untuk membantu kaum muslimin dalam beberapa peperangan.

Sebelum Nabi Muhammad wafat, kira-kira 3 tahun usai Khalid bin Walid membantu kaum Muslim dalam peperangan, termasuk dalam memimpin Perang Mut’ah ketika melawan Byzantium, ia diangkat menjadi panglima perang. Ia menggantikan panglima perang kaum muslim sebelumnya yakni Zayd bin Haritsah, Jakfar bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah yang telah gugur ketika melawan Byzantium.

Dalam peperangan itu, Khalid bin Walid berhasil menyelamatkan kaum muslim yang masih bertahan hingga kembali ke Madinah. Sejak itu, Nabi Muhammad memberinya gelar “Pedang Allah”. Gelar ini menjadi bukti keteguhan Khalid bin Walid dalam memeluk Islam meskipun dirinya berawal dari jejak hitam.

Adapun beberapa kiprah Khalid bin Walid dalam Islam semasa Nabi Muhammad masih hidup, di antaranya ialah kontribusinya dalam menaklukan kota Mekkah, menghancurkan berhala ‘Uzza, memerangi pemimpin Nasrani (Dawmah Jandal) yakni Ukaydir bin Abdul Malik, dan mengislamkan Bani Harits bin Ka’ab tanpa melakukan peperangan. 

Ia juga tetap tegas dalam berislam kendati Nabi Muhammad telah wafat. Ia dipercaya oleh Abu Bakar, khalifah pertama umat Islam untuk menumpas pembelotan dari orang-orang murtad yang terjadi di kawasan Irak dan juga Syam.

Di sisi lain, kondisi Arab semenjak wafatnya Nabi Muhammad cukup memprihatinkan. Orang-orang enggan untuk membayar zakat, bahkan beberapa ada yang memilih untuk menyembah berhala lagi. Diantaranya ialah, Thulayahah bin Khuwaylid di Buzakhah, Bani Tamim dan Malik bin Nuwayrah. Masalah ini, oleh Abu Bakar diserahkan kembali kepada Khalid bin Walid untuk diseleseikan. Ia juga berhasil memenangkan peperangan melawan Musaylamah bin Kadzab di perbatasan Yamamah.

Khalid bin Walid juga menjadi bagian dari ekspansi Islam ke daerah di lembah sungai Eufrat dan berhasil mengejar tentara Byzantum yang lari ke Damaskus. Ia akhirnya berhasil menguasai Damaskus, setelah melakukan penyerbuan dan mengepung Damaskus selama 6 bulan.

Namun dalam kurun waktu pengepungan itu, Islam kembali dirundung duka karena khalifah Abu Bakar wafat yang kemudian digantikan oleh Umar bin Khattab. Dalam beberapa literatur sejarah Islam, di masa ini Khalid bin Walid digantikan oleh ‘Ubaydah dengan berbagai alasan. Kendati demikian, ia menerimanya dengan senang hati dan tetap teguh dalam memeluk Islam. Bahkan dalam beberapa versi yang lain dikatakan bahwa sebelum Khalid bin Walid meninggal pada tahun 641 M, ia pernah menjabat sebagai Gubernur.

Nah, dari laku berislam Khalid bin Walid ini, kita bisa memaknai bahwa “tidak ada kata terlambat” untuk melakukan suatu apa pun, salah satunya untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Perjalanannya sebagai orang yang getol melawan Islam hingga menjadi penglima perang Islam, kiranya patut dijadikan prototipe untuk merubah sikap kita dari yang buruk menjadi lebih baik.

Toh, pada dasarnya laku berislam memang bukan telah baik, tapi pelan-pelan untuk menjadi baik dan lebih baik lagi pada sesama dan semesta. Begitupun seterusnya. Ingat! Tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan.

Author: M. Khusnun Niam

ABOUT THE AUTHOR

M. Khusnun Niam

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


COMMENTS