Realitas merupakan salah satu pembahasan dasar dalam filsafat. Pertanyaan “Apa itu ada?” merupakan pertanyaan mendasar yang tidak pernah selesai dibahas dalam dunia filsafat. Pembahasan tentang “ada” dalam ontologi metafisika yang merupakan akar dari filsafat. Lewat tulisan ini saya mencoba membawa kembali tentang betapa rumitnya dalam menjelaskan realitas, terkhusus pada pandangan realitas ala Aristotelian. Tulisan singkat ini tidak berniat untuk memaparkan secara umum tentang pandangan Aristotelian mengenai realitas melainkan hanya dicukupkan pada penjelasan mengenai causa prima atau sebab utama. Penggunaan istilah Aristotelian merujuk pada para pengikut Aristoteles yang biasa disebut dengan istilah peripatetik, terutama di kalangan filosof Islam yang dikenal dengan sebutan masya’iyyah.

Aristoteles menyatakan tentang kausalitas bahwa setiap akibat itu memiliki sebab. Ini merupakan prinsip rasional. Maka dari itu, sebab pun dapat berposisi sebagai akibat yang juga memiliki sebab, dari sebab yang satu ada sebab yang lain, dan seterusnya. Jika setiap sebab memiliki sebab maka akan terjadi regresi (tasalsul) berupa sebab tak terbatas. Sebab itu, Aristoteles berpendapat bahwa harus ada sebab yang tak disebabkan, yang hanya disebabkan oleh dirinya sendiri, itulah yang disebut dengan sebab pertama (causa prima). Atas dasar prinsip-prinsip rasional seperti inilah corak pemikiran Aristotelian dibangun.

Dalam Filsafat Islam metafisika disebut dengan istilah ilahiyah yang merujuk pada realitas tertinggi, yakni wujud itu sendiri. Tuhan dalam artian “personal” merupakan bagian dari pembahasan wujud. Sejak era mutakallim persoalan tentang Tuhan merupakan pembahasan yang utama. Pembasahan mengenai realitas dan juga Tuhan kemudian dijelaskan tentang bagaimana hubungan Tuhan dengan alam semesta dan bagaimana posisi alam semesta.

Doktrin Aristotelian mengenai sebab pertama di atas diadopsi oleh para filosof Islam peripatetik. Ada penggerak yang tak digerakkan. Ini merupakan penggerak pertama yang menjadi sebab dari gerak-gerak berikutnya. Sebab pertama itu ditafsirkan sebagai pencipta alam semesta yang dapat disebut dengan Tuhan. Sebagaimana Aristoteles, filosof peripatetik pun sangat ketat dalam persoalan yang sifatnya rasional. Beragam hal dijelaskan lewat prinsip-prinsip rasional, termasuk dalam menjelaskan hubungan Tuhan dengan alam semesta.

Berikutnya doktrin Plotinus memengaruhi pemikiran filosof Islam tentang bagaimana alam semesta ini tercipta, yakni lewat emanasi. Oleh sebab itu filosof Islam peripatetik, seperti Al-Farabi dan Ibn Sina, disebut pula sebagai filosof Neoplatonis karena mereka juga dipengaruhi oleh Plotinus yang cenderung mistik. Mengenai penciptaan berdasarkan emanasi ini, Tuhan sebagai sebab pertama diposisikan sebagai “wujud murni”. Berdasarkan prinsip rasional bahwa dari yang satu hanya memunculkan yang satu (la yafidu an al-wahid illa wahidun), maka dari Tuhan yang tunggal sebagai sebab pertama ini hanya memunculkan yang satu pula, yakni akal pertama.

Kemudian dari akal pertama ini beremanasi memunculkan akal berikutnya beserta langit pertama (first heaven), dan proses emanasi terulang kembali hingga muncullah akal kesepuluh sebagai penghubung antara materi dan bentuk. Dari akal kesepuluh inilah muncul alam semesta yang beragam, maka dari itu akal kesepuluh disebut sebagai pemberi bentuk (wahib al-shuwar). Lewat emanasi kita mengetahui bahwa akal pertama, kedua, dan seterusnya merupakan wujud dan juga dapat mencipta. Namun semakin ke bawah kemurnian wujudnya semakin berkurang.

Implikasi dari pandangan tersebut ialah alam semesta tidaklah diciptakan secara langsung oleh Tuhan, melainkan diciptakan secara tidak langsung melalui hasil emanasi. Alam semesta merupakan wujud yang tidak murni, ia bukanlah materi melainkan bentuk. Pandangan seperti ini bertujuan untuk memurnikan keesaan Tuhan. Tuhan sebagai Yang Esa mustahil berhubungan langsung dengan yang beragam, yakni dengan alam semesta. Maka dari itu diperlukan tahapan demi tahapan mengenai penciptaan.

Disebabkan pandangan realitas ala Aristotelian ini dibangun berdasarkan prinsip rasional maka tentu menjelaskan fenomena yang terjadi di alam semesta ini menjadi masuk akal, yakni berdasarkan prinsip sebab-akibat. Ketika ada yang terjadi di alam semesta kita bisa menelusuri apa sebab dari fenomena tersebut. Lewat prinsip ini pula kita mengetahui bahwa alam semesta bergerak secara teratur dan terukur sehingga kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi kemudian. Karena alam semesta terukur pula kita dapat merekayasa apa yang akan terjadi dengan mengotakatik sebabnya.

Pandangan metafisika Aristotelian ini telah memengaruhi sains modern meskipun sains modern mulai meninggalkan metafisika karena dianggap tak bermakna dan tak dapat diamati. Walaupun demikian kita tahu betapa hebatnya cara pikir filosof terdahulu yang memulai konstruksi pemikirannya dengan metafisika sebagai dasarnya. Bagaimana kita memahami dan memosisikan realitas akan memengaruhi bagaimana cara kita bersikap untuk mengetahui rahasia alam semesta—sebagai bagian dari realitas.

Bagi sains memang pandangan ini masuk akal namun dalam pandangan agama terdapat jarak antara Tuhan dengan alam semesta. Argumen para filosof Islam yang dibangun di atas prinsip rasional menguatkan posisi Tuhan yang Esa. Dia, sebagai wujud murni, memiliki jarak dengan alam semesta yang fisik. Di kalangan umum, dan termasuk para saintis, yang mengadopsi konsepsi Aristotelian mengenai realitas ini justru menjadikan diri sebagai seorang agnostik.

Anggapan bahwa Tuhan sebagai penggerak pertama dan Dia tak berhubungan langsung dengan alam semesta menjadikan bahwa, setelah alam semesta tercipta lewat sentuhan pertama Sang Penggerak, Tuhan tidak lagi ikut campur dan tahu-menahu mengenai apa yang terjadi di alam semesta. Setelah sentuhan pertama maka alam semesta bergerak dengan dirinya sendiri melalui hukum alam, berdasarkan prinsip sebab-akibat. Kemudian para agnostik akan menjadikan ini sebagai dasar bahwa ada atau tidak adanya Tuhan bukanlah masalah karena setelah hari penciptaan, Tuhan telah lepas tangan terhadap ciptaannya.

Author: Maulana Ilham

ABOUT THE AUTHOR

Maulana Ilham

Alumni Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


COMMENTS