Judul: Indonesia Menjejak Everest: Membuka Dokumen Sejarah Pendakian Clara Sumarwati | Penyusun: Furqon Ulya Himawan | Penerbit: Yayasan Putri Mulia Indonesia (PUTLISIA), 2019 | Tebal: xvi + 450 halaman | ISBN: 978-623-91227-0-6

Rasa kantuk di siang hari harus aku lawan demi kawan yang berkabar ada paket yang datang ke rumah indekosku. Aku sedang berada 13 KM jauhnya dari sana. Kuminta tolong si teman untuk mengirimkannya lewat jasa ojek daring. Satu jam menunggu, tibalah pengemudi ojek. Ia membuka helm dan menyapa ramah. Oh, seorang perempuan. Ia bercerita jika dari pagi belum mendapat order, order pengiriman itu adalah order pertamanya. Rasa terima kasih tak henti ia ucapkan. Aku memberi tips sewajarnya dan bilang semoga menjadi berkah. Ia senang aku pun senang. Tengah hari itu aku bahagia melihat seorang perempuan bahagia.

Kubuka paket itu, seorang teman mengirimkan buku tentang perempuan hebat, Clara Sumarwati. Godaan menjadikan buku ini bantal harus dilawan. Buku tebal harus diperlakukan dengan sehormat-hormatnya. Teringat sabda Bandung “Kabut” Mawardi, cara berterima kasih secara elegan atas hadiah buku adalah dengan mengulasnya. Diri ini mempersiapkan kedua mata untuk menafakuri buku tebal berhari-hari. Buku tebal dan besar tidak enak dibaca sambil tiduran tentu saja.

Buku arsiparis Indonesia Menjejak Everest: Membuka Dokumen Sejarah Pendakian Clara Sumarwati,  bersampul warna biru putih dengan gambar foto Clara Sumarwati pada saat turun mendaki gunung setelah menakhlukkan puncak Eeverest menarik perhatianku. Diri ini pernah mendengar nama Clara; Clara Suparmi, seorang ibu dari kawan aktivis. Perempuan tangguh yang hidup di gunung penakhluk jurang pinggir desa. Naik turun jurang demi segepok kayu bakar pada zamannya.

Baik Clara Sumarwati maupun Clara Suparmi adalah perempuan yang ditakdirkan bersahabat dengan gunung. Sesuatu yang asing bagiku. Meski mengaku lebih menyukai gunung daripada pantai, diriku tidak ada keinginan untuk mendaki puncak. Gunung sampai sekarang adalah sesuatu yang angkuh dan agung yang tidak ingin kutaklukkan.

Buku dengan cerita kehebatan perempuan dari berbagai profesi sudah pernah aku baca, namun baru sekali ini membaca buku perempuan penakhluk puncak tertinggi dunia itu. Referensi bacaan tentang pendakian gunung sungguh minim, selain mengetahui Soe Hok Gie yang mati muda saat mendaki gunung atau novel karangan Donny Dirgantoro berjudul 5 cm tentang sekelompok anak muda yang menakhlukkan puncak Semeru. Kepalang malu, diriku terus saja melanjutkan membaca buku ini.

Kerja arsiparis

Ialah Furqon Ulya Himawan, jurnalis surat kabar Harian Media Indonesia yang menyusun buku ini. Ia menyusun buku ini dengan mengumpulkan kliping berita yang memuat dokumentasi pemberitaan pendakian Clara Sumarwati dari sebelum, saat, dan sesudah ekpedisi ke puncak Everest. Ini pertama kalinya diriku membaca buku kumpulan buku kliping berita, meski diri ini mengenal arsiparis Muhidin M. Dahlan di Yogya, Bandung Mawardi di Solo, dan Imam Khanafi di Kudus, kawanku sendiri. Clara masih hidup di zaman ketika orang menganggap “no photo=hoax”, keadaan yang membuatnya diragukan prestasinya telah menakhlukan puncak tertinggi dunia dari jalur utara (China). Sebabnya ketiadaan fotonya di puncak Everest. Kerja arsiparis yang Furqon lakukan kukira sangat membantu mengkonfirmasi semua itu.

Furqon menyusun kliping berita ini secara kronologis, ia membaginya ke dalam enam bagian. Pos Pertama-Sebelum Everest, Pos Kedua-Menjejak Everest, Pos Ketiga-Setelah Everest, Getar, Getir, Geming: Sebuah Epilog, Pos Keempat-Sebuah Lampiran, dan terakhir adalah Daftar Bacaan. Kliping berita yang ia kumpulkan didapat dari dokumentasi Clara Sumarwati dari berbagai macam media di dalam dan luar negeri. Baik media berbahasa Indonesia, Inggris dan Jawa. Di dalamnya termasuk wawancara dirinya dan Clara yang dimuat di Media Indonesia.

Tebal buku ini 450 halaman dengan hampir separuh halaman adalah lampiran data pendakian. Membaca kliping berita tersebut semakin membuat keyakinan bertambah, bahwa perjalanan Clara menakhlukkan puncak Everest bukan sesuatu yang ujug-ujug dan berbekal aji mumpung. Pendakian demi pendakian, ekpedisi-ekpedisi sudah ia lakukan. Sudah seharusnya kita menghargai usaha Clara mengharumkan nama negeri. Seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di pengantar penerbit buku ini, “Andai anak-anak remaja itu punya kebiasaan mengkliping, pastilah mereka tak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai ke akar-akarnya”.

Kontroversi

Seperti yang tertulis di atas, ketiadaan foto di atas puncak Everest membuat Clara diragukan keberhasilannya baik oleh pendaki dalam negeri maupun luar negeri. Dalam epilog yang ditulis Furqon, ia menjelaskan seorang pendaki berkebangsaan Jerman bernama Thomas Kokta (menurut pemberitaan Majalah Gatra) menduga Clara mecapai puncak semu alias bukan yang tertinggi. Namun ketika dikonfirmasi, Kokta membantah hal tersebut. Sejumlah pertanyaan muncul, kenapa media di Indonesia berusaha menghilangkan nama Clara? Pendakian Clara ke Annapurna IV dan Aconcagua seolah tidak cukup meyakinkan para pendaki yang menyangsikannya bahwa ia mampu mencapai puncak Everest pada 26 September 1996, ekpedisi yang gagal ia lakukan dua tahun sebelumnya karena cuaca buruk.

Cuaca buruk jugalah yang membuat Clara tidak bisa mendokumentasikan dirinya pada saat di puncak karena kamera tidak berfungsi sebab dinginnya suhu. Rekan medakinya, Sherpa Kaji yang meyakinkannya untuk menjadi saksi. Waktu 10 menit di puncak ia gunakan untuk mengibarkan merah putih dan menyanyi Indonesia Raya. Kamera beroperasi ketika berada di ketinggian 8.600 mdpl atas usaha Sherpa Kaji menghangatkannya di ketiak. Jadi foto Clara yang beredar memang tidak saat berada di puncak.

Kontroversi semakin bergulir dan diperparah dengan hilangnya nama Clara Sumarwati di buku terbitan Tim Ekspedisi Mount Everest Indonesia 1997 berjudul Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan (cetakan pertama, Agustus 1998). Di buku tersebut mencantumkan nama Asmujiono yang berhasil mencapai puncak Everest pada 26 April 1997 melalui jalur selatan (Nepal) tanpa mencantumkan Clara Sumarwati sebagai pendahulunya. Bahkan di cetakan kedua (April 2005) juga masih tidak mencantumkan nama Clara. Padahal Himalayan Database saja mencantumkan nama Clara Sumarwati (bisa kita lihat di bagian lampiran, halaman 275). Clara juga mendapatkan penghargaan dari Minister for Youth Sport and Culture of Nepal, Bal Bahadur KC. Prestasinya tersebut tidak bisa mengelakkan dirinya dari tudingan membeli sertifikat.

Sejumlah pihak menduga penghilangan nama Clara terjadi karena persaingan gender. Clara adalah seorang perempuan yang dipandang mustahil mempunyai kondisi fisik yang prima untuk mencapai puncak Everest. Mengingat sebelumnya, dua pendaki andalan Indonesia, Norman Edwin (38) dan Didiek Samsu (32) tewas saat melakukan ekspedisi ke puncak Aconcagua. Kondisi ini membuat Clara depresi dan menjalani perawatan di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang.

September (bulan saat ia menjejakkan kakinya di puncak Everest) yang seharusnya ceria menjadi kelabu bagi Clara. Walau ia memilih ngalah dan ngalih dari riuhnya kontroversi jangan membuat kita me-ngalih-kan ia dari fakta bahwa bagaimanapun ia adalah orang Indonesia pertama dan bahkan perempuan pertama di Asia Tenggara yang menjejakkan kakinya ke puncak Everest. Clara bukan anggota Mapala, ia adalah anggota Menwa dan seorang Taekwondo-in. Latihan fisik dan kemauan kerasnya meneguhkan anggapan tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha. Tuhan yang merestui dan biarlah alam yang menjawabnya.

Jalan sunyi dan publikasi

Mendaki gunung sejatinya bukan kegiatan untuk gagah-gagahan, tetapi seperti menulis yang identik dengan jalan sunyi. Mendaki adalah suatu hal yang dilakukan untuk menundukkan ego diri. Namun tidak salah jika pendaki membutuhkan pengakuan. Seperti kata filsuf Teobaldus, “Kegiatan pendakian gunung dilakukan tanpa penonton dan juri yang melihatnya, oleh karena itu memerlukan kejujuran dari pelakunya. Film, foto, dan buku dapat menjadi alat pembuktian, akan tetapi untuk memroduksinya pun diperlukan kejujuran dalam kadar yang sangat tinggi pula. Sebaliknya ketiadaan dokumentasi atau dokumentasi yang buruk akan menyulitkan pendaki dalam mendapat pengakuan, meskipun tidak serta merta harus dianggap klaimnya tidak benar” (hlm. 244).

Sepakat dengan kata-kata dalam epilog buku ini, bahwa mendaki gunung itu seperti mencintai seseorang. Mencintai dan dicintai adalah dua hal yang berbeda. Jadi kalau kita semua mau jujur, mencapai puncak Everest dan pengakuan—baik itu dari kelompok pendaki, otoritas resmi atau tidak resmi—adalah dua hal yang berbeda.

Clara sudah berjuang dengan bukti-bukti dan kejujurannya. Tugas kita adalah mengakui perjuangannya dalam merengkuh Dewi Bumi.

Author: Impian Nopitasari

ABOUT THE AUTHOR

Impian Nopitasari

Pehobi sepeda dan pecandu kereta. Berjaga di Buletin Sastra Pawon Solo. Menulis fiksi dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Kumpulan cerita cekaknya, Kembang Pasren terbit September 2017 oleh penerbit Garudhawaca, Yogyakarta. Saat ini sedang mempersiapkan buku keduanya, kumpulan wacan bocah, cerita anak berbahasa Jawa.


COMMENTS