Pada akhir tahun lalu, tepatnya sebelum pergantian tahun, saya bertemu dengan teman lama, dulunya satu sekolah dasar dengan saya. Kami bertemu di sekitar pusat Ibu Kota setelah sekian tahun tak berjumpa. Dari pertemuan yang tak disengaja itu kami sepakat untuk tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, melainkan pergi nongkrong ke warung kopi langganan saya, kami menghabiskan waktu seharian penuh sampai waktu larut malam tiba. Sepanjang pertemuan, kami banyak mengobrol tentang apa saja yang berkaitan dengan pengalaman pribadi.

Ada momen yang dimana membuat saya terkagum, saya menceritakan tentang apa yang telah pelajari selama ini dalam rentang waktu tiga tahun belakangan. Ia juga menceritakan pengalamannya selama ini.

Tanpa diduga, saya dan teman saya itu memiliki kesamaan: sedang mendalami teks-teks filsafat. Seiring pembicaraan kami tentang para filosof, ada yang membedakan kami berdua. Ia fokus pada kajian filsafat Islam maupun Asia, saya fokus pada kajian filsafat Barat. Kami memulai topik pembahasan mengenai masalah kebersesuaian antara filsafat dan agama. Saya beranggapan bahwa filsafat tidak akan bisa hidup berdampingan dengan agama, sebab filsafat lahir karena pertanyaan-pertanyaan, sedangkan agama lahir karena keyakinan-keyakinan yang tak bisa dibantah. Bagaimana mungkin filsafat dan agama bisa berdampingan?

Setelah saya melemparkan pertanyaan tersebut teman saya mulai menjawab demikian. Pertanyaan itu sudah selesai dijawab pada abad kesembilan, seorang filosof muslim pertama yang bernama Abu Yusuf Yaʻqub ibn Ishaq as-Sabbah Al-Kindi mencoba mengarahkan kesesuaian antara filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat bahwa ada kesesuaian antara filsafat dan agama berdasarkan tiga hal. Pertama, ilmu agama bagian dari filsafat. Kedua, wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan filsafat saling berkesesuaian. Ketiga, menuntut ilmu memakai logika diperintahkan dalam agama. Bagi Al-Kindi filsafat merupkan ilmu tentang hakikat, dan secara tidak langsung mengandung unsur-unsur teologi (alrubiyyah), etika, dan sebagainya.

Lalu saya melontarkan kembali pertanyaan yang masih dalam topik yang sama. Jika memang agama bisa dilogikaan menurut pandangan Al-Kindi, bagaimana ia tahu bahwa Tuhan itu ada, karena syarat “ada” harus ada eksistensi, esensi, dan substansi, sedangkan Tuhan tidak memenuhi ketiga syarat tersebut. Teman saya lalu menjawab, “Al-Kindi mengkonsepkan dengan istilah-istilahnya. Tuhan adalah yang benar. Dia tinggi dan dapat disifati hanya dengan sebutan ‘negatif’; Dia bukan benda, tak berbentuk, tak berjumlah, tak bisa didefinisikan dengan ciri-ciri yang ada (alma’qulat) oleh karena itu, Dia Maha Esa (wahdah)”.

Teman saya melanjutkan jawabannya, “Al-Kindi berdalih tentang kemaujudan Allah berdasarkan pada hubungan sebab dan akibat. Segala yang maujud pasti mempunyai sebab yang memaujudkannya. Tali sebab itu terbatas, akibatnya ada sebab pertama atau sebab sejati yaitu Allah.

Karena Al-Kindi terinspirasi dari Aristoteles tentang sebab formal, efisien, dan final. Al-Kindi beranggapan bahwa Tuhan adalah sebab efisien. Ada dua macam sebab efisien. Pertama, sebab efisien sejati dan aksinya adalah ciptaan dari ketiadaan (ibda). Kedua, semua sebab efisien yang lain adalah lanjutan, yaitu sebab-sebab itu muncul karena ada sebab-sebab lain, dan sebab-sebab itu sendirilah merupakan sebab-sebab dari efek-efek lain.

Teman saya berhenti sejenak dan meminum kopi yang baru saja datang ke meja kami, lalu ia melanjutkan lagi jawabannya, “Dunia awalnya tak maujud, karena itu ia mesti butuh satu pencipta yaitu Allah. Segala ciptaan tak abadi, hanya Allah sendirilah yang abadi. Begitu pula, dunia secara keseluruhan, benda-benda angkasa dan unsur-unsur semesta, seperti genus dan spesies, tak abadi, karena waktu tak abadi”.

Setelah diskusi panjang lebar dan saling tukar pikiran tentang masalah agama dan filsafat, saya teringat kutipan dalam buku Sebelum Filsafat (2018) karya Pak Fahruddin Faiz yang berbunyi, “Ketidakbertentangan filsafat dan agama bisa dilihat dari misi keduanya, yakni untuk menunjukkan kebenaran kepada manusia, meskipun jalurnya berbeda”.

Dalam misi filsafat dan agama, agama ingin menunjukan kebenaran kepada manusia melalui intuisi atau rasa dan tunduk pada otoritas tertinggi yaitu Tuhan dan kitab suci. Sementara filsafat mengarahkan jalan untuk mencari susatu kebenaran diperlukan nalar atau logika yang lurus dan sistematis. Pada prinsipnya sama, baik agama maupun filsafat sama-sama mencari kebenaran. Berfilsafat seperti anak kecil yang terus bertanya sampai akhirnya segala sesuatu harus dibuktikan dengan mata kepalanya. Sedangkan beragama seperti orang dewasa yang takut meninggalkan kewajibannya sebagai umat beragama karena siksaan api neraka.

Teman saya menganalogikan antara filsafat dan agama seperti saya menganggap ada angka enam di meja, lalu teman saya membantah bahwa yang ada di meja adalah angka sembilan. Menurutnya, keduanya benar dan tidak ada yang salah, semua hal yang ada di dunia termasuk agama dan filsafat mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda, tergantung kita menyikapinya dan memperluas cakupan sudut pandang agar kita tak terburu-buru dalam mengklaim suatu kebenaran.

Obrolan kami akhiri dengan simpulan, bahwa filsafat dan agama sama-sama berfungsi sebagai metode atau alat dan bukan sebuah tujuan akhir, dan keduanya akan bermuara pada suatu palung yang dinamakan kebenaran.

Author: Agam Rabbany

ABOUT THE AUTHOR

Agam Rabbany

Pembelajar


COMMENTS