“…anything that helps a person achieve happiness is

good and anything that obstructs a person from achieving happiness is evil”

—Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi

­

Dalam pemikirannya, Al-Fārabi banyak dipengaruhi oleh Plato dan Aristoteles. Dari filsafat Yunani inilah Al-Fārabi banyak menitik beratkan pada esensi Ada (hakikat maujud), atau dalam bahasa Aristoteles membahas tentang ada, dan dengan apa dia ada?

Hanya saja yang dimaksud Aristoteles untuk mengetahui hakikat ada itu sendiri malah menanggalkan kemanfaatannya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Salah satu sebab yang melatarbelakanginya ialah para filsuf sebelum Islam, membahas yang ada tidak pernah berpijak pada agama. Maka dari itu sebagai filsuf muslim, Al-Fārabi membahasakan yang ada sebagai “Ada Yang Pertama” adalah Allah. Penyebab pertama dari segala yang ada, dan Dia harus terhindar dari segala kekurangan.

Segala yang ada selain Allah adalah hiruk pikuk kehidupan dunia yang memiliki banyak kekurangan. Ia adalah bayang-bayang yang menyelimuti pandangan mata manusia tentang Ada yang sebenarnya. Kebanyakan manusia merasakan semua yang dilihat, dirasa, diraba, dan didengar adalah bayang-bayangnya, bukan “Ada” itu sendiri. Sehingga tidak heran jika banyak yang merasa telah meyakini kebenarannya, tapi luput menyadari bahwa itu ialah bentuk ketertipuan, termasuk kebahagiaan semu yang kerap dirasakan manusia.

Siang malam, pagi petang, manusia mengejar bayang-bayang yang seolah-olah menghantarkan kepada kebahagiaan. Jika ditanya, untuk apa manusia hidup di dunia? Mereka akan menjawab untuk bahagia. Benarkah yang dilakukan akan mencapai dimensi kebahagiaan?

Di dalam Islam, dikenal dua kebahagiaan yang kadang dianggap bertolak belakang, tapi ada juga yang memaknainya dengan berurutan. Dua kebahagiaan itu ialah capaian-capaian kebahagian dunia dan akhirat. Sedangkan menurut Plato, kebahagiaan itu diklasifikasikan dengan dua kenikmatan, yakni kenikmatan yang tumbuh karena terpenuhinya kebutuhan dan keinginan seseorang, dan kenikmatan yang tidak tergantung kepada perubahan atau sebab terpenuhinya kebutuhan jasmani.

Al-Farabi sendiri menulis dua kitab yang menuturkan tentang kebahagiaan, yakni al-Tanbih ala Sabil al-Sa’ādah dan Tahsil al-Sa’ādah. Kebahagiaan (sa’ādah), menurut Al-Fārabi tidak sama dengan kenikmatan (al-ladzāh), karena dimensi kenikmatan sebatas perantara untuk mencapai kebahagiaan. Kenikmatan sendiri bersifat temporer, tidak abadi, dan selalu berubah. Maka dari itu, Al-Farabi mengajak kita untuk menaikkan level kenikmatan, termasuk yang bersifat duniawi, menjadi level ibadah (akhirat).

Al-Farabi menyadari bahwa pemahaman tiap orang akan berbeda-beda dalam memahami kebahagiaan, sesuai dengan kapasitas tingkat pengalaman dan keilmuan yang dimiliki. Ada kalanya manusia merasakan kebahagiaan dunia adalah kebahagiaan itu sendiri, tapi ada juga yang merasakan kebahagiaan akhirat nanti adalah kebahagiaan yang sebenarnya.

Tapi memang pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah untuk bahagia. Maka menggunakan semua fungsi-fungsi organ yang ada dalam tubuh manusia untuk mencapai kebahagiaan itu sangat bisa untuk diupayakan. Berangkat dari pemahaman ini, Al-Fārabi menjelaskan secara teoritis untuk menggunakan potensi manusia agar bisa menggapai kebahagiaan.

Pertama, Al-Farabi membagi potensi jiwa sebagai sumber pencapaian menjadi tiga, di antaranya: Daya gerak bersifat instingtif, daya mengetahui, dan daya berpikir yang terdiri dari dua akal: Pertama, akal praktis yang berfungsi menyimpulkan sesuatu yang seharusya dikerjakan. Kedua, akal teoritis yang berfungsi membantu menyempurnakan jiwa manusia.

Kedua, kebahagiaan sosial sebagai wujud dari kebahagiaan individu itu sendiri. Manusia dituntut untuk merasa saling daripada merasa paling. Saling bekerja sama untuk mencapai kebahagiaan bersama, saling hidup rukun, dan sebagainya. Dari sinilah, akar pemikirannya tentang negara ideal al-Madinah al-Fādilah muncul.

Adapun kategori kebahagiaan sosial itu terdiri dari al-Ijtima’ al-fādil, al-mādinah al-fadīlah, al-ma’munah al-fadīlah. Menurutnya, kebahagiaan individu tidak akan sempurna ketika kebahagiaan kelompok tidak tercapai, kebahagiaan kelompok tidak akan sempurna ketika kebahagiaan kotanya tidak tercapai. Al Farabi juga menambahkan, “Nations and citizens of cities attain earthly happiness in the first life and supreme happiness in the life beyond when four human things are met: theoretical virtues, deliberative virtues, moral virtues and practical arts.”

Ketiga, kebahagiaan puncak. Menurut Al-Fārabi, kebahagian puncak bisa tercapai oleh manusia apabila mampu melakukan peleburan keutamaan-keutamaan yang ada, dari keutamaan teoritis, berpikir, moral dan praktis-kreatif menjadi satu. Ketika manusia mampu mengoptimalkan semua keutamaan tersebut, maka manusia akan mampu mencapai kebahagiaan puncak atau kebahagiaan tertinggi.

Secara keseluruhan, Al-Fārabi ingin menegaskan bahwa, manusia dapat memperoleh kebahagiaan sejati apabila menyadari dan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Sehingga kebahagiaan sejati atau kebahagiaan tertinggi yang menjadi orientasi setiap manusia bisa tercapai.

Menutup tulisan ini, ada kutipan menarik dari Samah Elhajibrahim (2006) “Happiness to Alfarabi is the absolute good. It is the good that is desired for its own sake where there is nothing greater to achieve. Achieving happiness is the purpose of life.

Wallahua’lam…

Author: Jamalul Muttaqin

ABOUT THE AUTHOR

Jamalul Muttaqin

Mahasiswa Pasca UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pengajar di SMP-SMA Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta. Aktif menulis kajian-kajian tasawuf dan psikologi.


COMMENTS