Secara sederhana karsa dapat dimaknai kehendak, kamauan, atau daya dorong untuk memenuhi sesuatu. Sebagai ciptaan yang mempunyai kelengkapan dari mulai tubuh fisik, jiwa, dan ruh (spirit), manusia tentu memiliki karsa yang cukup kompleks. Dalam setiap dimensinya, manusia juga memiliki karsa tersendiri. Namun, dalam kondisi tertentu karsa-karsa ini dapat bersinergi dan harmoni.

Karsa ragawi yang dimiliki manusia di muka bumi bertujuan untuk melestarikan eksistensinya. Selain itu juga berfungsi sebagai support system kehidupan di dalam raga manusia sebagaimana mestinya. Misalnya, dari mulai memperoleh oksigen untuk bernapas, mendapatkan makanan dan minuman untuk energi, sinar matahari untuk meningkatkan imun tubuh, kebutuhan biologis, tidur untuk beristirahat, dan lain sebagainya.

Dengan karsa ragawi ini manusia bisa bertahan dan menjadi lestari hidup di muka bumi. Masyarakat kita lebih populer menyebut karsa ragawi ini dengan hawa nafsu, yang dapat dimaknai secara sederhana sebagai daya dorong diri. Secara alamiah, tubuh kita memiliki takaran dan batasan tersendiri terkait dengan karsa atau kehendak untuk memenuhi setiap kebutuhannya. Dalam artian setiap tubuh memiliki kapasitas “wadah” yang berbeda-beda.

Selain raga, manusia juga memiliki ruh (spirit). Ruh ini mempunyai karsa yang identik dengan karsa dari Ruh Agung Semesta atau Sang Pencipta (Allah SWT), yakni yang membawa setiap manusia pada kesempurnaan hidup. Apa yang dikehendaki oleh ruh (spirit) bagi diri manusia pastilah segala sesuatu yang membawa harmoni dan membuat jiwa kita semakin berevolusi menuju kejernihan.

Ruh (spirit) inilah yang kemudian berkehendak mengendalikan jiwa kita agar dapat menunaikan misi kehidupannya dan tahu untuk apa dirinya diciptakan di muka bumi ini. Jiwa manusia sebagai entitas yang memiliki kebebasan berkehendak (free will), dimungkinkan untuk memiliki karsa yang melampaui, melebihi, atau mungkin tidak selaras dengan karsa ragawi (sesuai kebutuhan), maupun karsa ruh (spirit) yang membawa pada kesempurnaan hidup.

Dengan kebebasan berkehendak inilah kemudian pilihan jiwa manusia tergantung pada tataran kesadarannya. Jika kita hanya memiliki kesadaran nalar, maka karsa kita akan selaras dengan apa yang dibentuk oleh nalar (pikiran) kita selama ini. Sehingga karsa kita tergantung pada selera, gaya hidup, ambisi, dan obsesi pribadi. Sedangkan jika kita mungkin sudah mulai memiliki kesadaran ruhani (spirit), maka karsa kita kemungkinan besar akan selaras dengan karsa dari Sang Pencipta (Allah Swt) yang menurut khazanah Jawa dapat dimengerti melalui bahasa rasa atau getaran "telenging manah" (pusat hati). Karena itu, kesehatan fisik, mental, kelestarian tubuh, dan perasaan suka-duka yang jiwa kita rasakan, seringkali bergantung pada bagaimana karsa kita dikelola. Dalam artian, selayaknya manusia pada umumnya, karsa atau hawa nafsu tidak perlu dimatikan atau tidak perlu dituruti sama sekali. Lantaran dengan hawa nafsu inilah manusia kemudian tetap bisa menjalani kehidupan di muka bumi.

Untuk menuju “sampurnaning hurip”, sesungguhnya terdapat dua tantangan yang perlu kita atasi sebagai manusia.

Pertama, apabila di dalam tubuh manusia terdapat ketimpangan unsur semesta. Misalnya ada seseorang yang unsur apinya terlalu besar, maka bukan tidak mungkin seseorang ini akan cenderung menjadi ambisius, egois, pemarah, dan seterusnya.

Berikutnya, jika seseorang unsur airnya terlalu besar, bukan tidak mungkin akan memiliki kecenderungan atau hasrat seksual yang berlebihan. Jika unsur anginnya yang terlalu mendominasi, bukan tidak mungkin seseorang sikapnya akan cenderung angin-anginan atau hanya mengikuti arus, tidak ajeg. Kemudian jika unsur tanahnya yang mendominasi, bukan tidak mungkin seseorang akan cenderung statis alias kaku yang kadangkala sulit untuk menerima perubahan.

Ketimpangan yang sudah kita singgung di atas, setidaknya dapat kita atasi dengan menyelaraskan ke empat unsur semesta dalam diri kita tersebut. Caranya di antara adalah dengan mulai mengatur makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, tidak melihat atau mendengar sesuatu yang negatif, laku prihatin seperti puasa, dan lain sebagainya. Diharapkan semua unsur bisa seimbang alias tidak ada salah satu yang mendominasi.

Tantangan kedua, jika kita sebagai manusia hanya hidup dengan berbekal kesadaran nalar atau pikiran, maka kemungkinan besar kita akan berpotensi terjebak dalam keakuan atau egoisme. Karsa kita bisa membesar tanpa kendali, disebabkan pengaruh imajinasi dan ilusi yang berasal dari pikiran. Apa yang paling umum terjadi, saat seseorang berimajinasi dan berilusi dapat meraih kebahagiaan dengan semakin banyak mendapatkan, memiliki, dan mengonsumsi sesuatu, saat itulah karsanya bertransformasi menjadi keserakahan yang kemungkinan besar bisa menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain di sekitar.

Pada hakikatnya, Sang Pencipta melalui ruh (spirit) banyak menuntun umat manusia untuk mempunyai karsa yang natural alias alamiah. Misalnya saja apa yang menjadi kehendaknya sudah sesuai dengan takaran dan batasan kebutuhan ragawinya, tidak berlebihan atau tak melebihi “wadah” yang dimiliki. Jadi, Sang Pencipta tidak meminta umat manusia untuk mematikan karsa ragawi atau hawa nafsu, lantaran hawa nafsu inilah yang memungkinkan kelestarian raga manusia, sekaligus sebagai “wadah” jiwa untuk hidup di muka bumi.

Kemudian Sang Pencipta-lah yang mendorong dan mengarahkan umat manusia untuk melakukan tindakan “hamemayu hayuning bawana”. Senada dengan pandangan al-Asy’ari, bahwa tidak ada manusia yang bebas secara hakiki, yang manusia tersebut bebas menentukan nasibnya sendiri, buktinya manusia tidak menguasai yang bahkan perbuatannya sendiri sekalipun. Jadi, hidup manusia bukan dalam kekuasaan manusia seutuhnya.

Lebih lanjut, al-Asy’ari mengajak umat manusia untuk memahami kadarnya sendiri apabila hidupnya ingin bahagia yang selaras dengan QS Al-Qamar ayat 49 yang artinya, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut kadar (ukuran)”.

Karena itu, untuk menjaga keselarasan antara karsa ragawi, karsa jiwa, dan karsa Sang Pencipta (Ruhani), maka manusia memerlukan laku spiritual yang membawa pada kesadaran untuk “tansah eling lan waspada”. Keterhubungan dengan Sang Pencipta inilah yang kemungkinan besar akan menentukan sejauh mana manusia memiliki keselarasan dalam karsa. Inilah kemudian yang bisa menuntun manusia meraih kesukacitaan sejati dan “sampurnaning hurip”.

Author: A. Fikri Amiruddin Ihsani

ABOUT THE AUTHOR

A. Fikri Amiruddin Ihsani

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Gusdurian Surabaya


COMMENTS