Redaksi MJS

Tanya: Dalam pelaksanaan shalat Tarawih kita sering jumpai jumlah rakaatnya berbeda-beda. Ada yang melaksanakan 8 rakaat, 12 rakaat, bahkan ada yang lebih. Bagaimana pelaksanaan ibadah shalat Tarawih yang sebaiknya kita kerjakan. Contoh, saya pernah mengikuti shalat Tarawih 23 rakaat yang imamnya membaca shalat terlalu cepat sehingga tidak membuat khusyuk. Bagaimana tentang hal ini.

Jawab: Anda benar! Jumlah rakaat shalat Tarawih yang dilakukan umat Islam sejak masa Nabi Saw dan dan sahabat-sahabat serta murid-murid dari para sahabat-sahabat berbeda-beda. Diriwayatkan bahwa Nabi Saw pada mulanya keluar ke masjid untuk melaksanakan shalat Tarawih. Sahabat-sahabat beliau yang mengetahui tentang hal tersebut, mengikuti Nabi Saw. Pada malam kedua jumlah mereka bertambah, dan pada malam ketiga jumlah mereka semakin bertambah sampai-sampai memenuhi masjid.

Malam keempat Rasul Saw tidak ke masjid hingga tiba waktu shalat Subuh, kendati ketika itu para sahabat memberi isyarat kepada Nabi Saw agar beliau keluar. Setelah shalat Subuh beliau menyampaikan bahwa, “Aku mengetahui bahwa kalian mengharap aku keluar shalat, tetapi aku takut, shalat malam ini diwajibkan atas kamu lalu kamu tidak mampu (karena itu aku tidak keluar)”.

Diriwayatkan juga bahwa pada ketiga malam itu Nabi Saw shalat delapan rakaat, kendati demikian, shalatnya cukup lama. Riwayat lain menyatakan bahwa sepulang beliau ke rumah, beliau melanjutkan shalat. Umar Ibn Khathab menjadikan shalat Tarawih dua puluh rakaat. Tidak seorang sahabat pun keberatan atas jumlah ini. Tentu saja mereka mempunyai alasan. Di banyak negeri Islam juga demikian, paling tidak dengan alasan bahwa Nabi Saw memerintahkan untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafah ar-Rasyidin.

Para sahabat yang tinggal di Makkah ketika itu melakukan shalat Tarawih dan setiap selesai empat rakaat mereka melakukan tawaf. Nah, di Makkah, khususnya pada pemerintahan Umar Ibn al-Aziz (111 H), beliau menganjurkan agar melaksanakan shalat empat rakaat mereka tambahan sebagai ganti tawaf, dan sejak itu di beberapa negeri Islam, shalat Tarawih dilakukan sebanyak 32 rakaat. Semua insya Allah benar, karena masing-masing memiliki dasar pemikiran.

Ulama juga memperkenalkan apa yang diistilahkan gtanawu’ al-‘ibadah, yakni keberagaman cara beribadah  yang diajarkan/dipraktikkan Nabi Saw, kesemuanya benar, insya Allah. Memang dalam rincian ibadah yang dinyatakan bukan “Berapa hasil penambahan lima tambah lima” karena yang ini jawabannya hanya satu, yakni sepuluh, tetapi yang ditanyakan “Sepuluh hasil berapa ditambah berapa”. Anda tahu bahwa untuk ini sekian bayak jawaban yang benar. Demikian, wallahu a’lam.

Sumber: M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, cet. xiv (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 85-87.

Author: Redaksi MJS

ABOUT THE AUTHOR

Redaksi MJS

Menuju Masjid Membudayakan Sujud


COMMENTS