Ngaji Filsafat menjadi oase kajian kefilsafatan bagi para penikmat filsafat, terutama bagi para santrinya yang setia ikut mengaji. Baik santri online yang mendengarkan rekaman-rekaman ngaji dari kanal Youtube MJS Channel, Spotify MJS Podcast, maupun mengunduh link rekaman dari situs web masjid, maupun santri offline yang secara rutin datang ke Masjid Jendral Sudirman setiap Rabu malam.

Bahkan, beberapa orang yang sebelumnya mendengarkan Ngaji Filsafat secara online tergerak untuk bisa datang langsung ke MJS, ingin merasakan langsung atmosfer ngaji. Sebagian lain ingin melihat Pak Faiz, yang nada dan suaranya lebih akrab bagi mereka yang belum pernah melihat beliau secara lahiriah. Ungkapan yang datang adalah bukan lagi dari mata, tetapi dari suara turun ke hati.

Sebelas Maret, menjadi malam terakhir saya beserta teman-teman Ngaji Filsafat dapat datang langsung mendengarkan Pak Faiz membahas Filsafat Ekonomi dari buku The Protestan Ethics and The Spirit of Capitalism karya Max Weber (11/3), setidaknya sebelum pandemi datang. Seperti menandakan bahwa hari ini, ekonomi menjadi problematika besar bagi individu-individu, korporasi, negara, maupun dunia. Efek dari pagebluk yang datang dan menjadi masalah besar umat manusia tahun ini, lebih besar dari yang sebelumnya memang sudah bermasalah di sana-sini.

Namun, secara khusus bagi kami yang sudah terlanjur menyukai kopi dan cemilan sambil mendengarkan Pak Faiz bertutur setiap malam kamis, ada kehilangan yang mulai dirasakan. Mungkin benar kata orang, “Rindu itu datang dari perpisahan”. Menunggu seminggu sekali saja sudah cukup lama, dan hari ini kami telah menunggu dua bulan lebih semenjak Rabu malam terakhir di bulan Maret.

Saya jadi teringat sebuah kalimat, bahwa kenyataan adalah pengalaman langsung, bukan teori dan bayangan semata. Jadi, apakah ini yang namanya bentuk pengamalan langsung dari ilmu yang didapat dari salah satu sesi ngaji, Filsafat Cinta? Bukan lagi teori dan bayangan, tetapi alamilah langsung, itu yang saya tangkap dari yang disampaikan Pak Faiz.

Banyak hal istimewa namun sederhana bisa ditelaah dari ngaji ini, di luar materi yang disampaikan tentunya. Pak Faiz pernah menyampaikan bahwa beliau berada di depan bukan untuk mengajar, namun mengajak belajar. Menguraikan kata bahwa kita semua, termasuk Pak Faiz dan teman-teman ngaji filsafat, datang untuk sama-sama belajar dan memposisikan diri sebagai murid.

Hal demikian itu mengajarkan kita untuk selalu belajar dan bersikap rendah hati, di mana pun posisi kita. Beliau juga sering menyampaikan bahwa teman-teman boleh usul tentang materi apa yang akan disampaikan. Meski pada akhirnya nanti, beliau katakan bahwa materi yang disajikan tetaplah sesuai mood beliau saja.

Beliau seperti membuka pintu untuk teman-teman mengutarakan pendapatnya, luwes mawon. Materi yang disampaikan sesuai mood beliau, yang saya telaah adalah supaya tidak ada tekanan-tekanan dalam menyampaikan materi, menjaga diri supaya beliau tetap dalam kerelaan. Apakah benar seperti itu atau tidak? Alamilah sendiri…

Teman-teman yang di sini saya sebut sebagai santri Ngaji Filsafat, datang secara sukarela. Datang tak diundang, pulang juga tak diantar oleh takmir. Motif apa yang menggerakkan mereka datang, urusan masing-masing saja. Kata Pak Faiz, “Yang datang yo baik, yang tidak datang yo baik.” Setiap orang menaruh kebaikannya masing-masing pada hal-hal yang mereka pilih. Hal ini menjaga kita untuk tetap berbaik sangka pada siapa pun dan tidak merasa bahwa kita lebih baik daripada yang tidak ikut ngaji. “Wong kita masih sama-sama belajar memperbaiki diri”.

Teman-teman yang datang tidak diharuskan memakai pakaian mode tertentu, selama kesopanan tetap dijaga. Oleh karenanya, kita akan melihat keberagaman di antara para santri ngaji. Ada yang memakai koko dan sarung, ada juga yang memakai kaos dan celana jeans. Ada juga yang memakai koko dan celana jeans maupun kaos dan sarung. Karena yang terpenting dari ngaji ini adalah belajarnya, bukan identitas pesertanya. Pemeluk agama lain juga dipersilahkan untuk ikut ngaji.

Materi yang disampaikan pun beragam. Mulai dari tokoh-tokoh Islam, sebagaimana para sufi dan tokoh tasawuf, juga filsafat Barat, filsafat Timur, bahkan filsafat yang datang dari keyakinan di luar Islam. Pak Faiz seringkali menekankan bahwa tidak semua harus diambil, ambil saja yang sesuai dengan kondisimu saat ini. Penekanan yang mengajak kita untuk menyaring dan berpikir, berfilsafat.

Sebagai nostalgia tidak bertemu cukup lama, maka saya mengingat-ingat kembali suasana ketika ngaji. Biasanya, sebelum ngaji dimulai pukul delapan malam, masjid dan pelatarannya sudah mulai ramai. Ada yang datang sebelum Isya untuk ikut serta shalat Isya berjamaah, ada juga yang datang menjelang ngaji dimulai. Teman-teman yang datang beragam latar belakangnya, ada mahasiswa, pekerja, penganggur, bapak-bapak, ibu-ibu, dan mereka dengan latar belakang lainnya. Beberapa orang masuk masjid dan langsung duduk, memposisikan diri sesuai pemikiran dan spekulasinya masing-masing. Beberapa orang lain memilih antri untuk mendapatkan kopi maupun teh beserta cemilannya. Dalam hal ini, kita harus berterima kasih pada para takmir yang sudah mempersiapkannya. Sudah gratis, dapat kopi dan cemilan lagi.

Kemudian, Pak Faiz datang dari arah utara para santri ngaji, menuju meja yang sudah tertata rapi di depan. Amunisi yang sudah disiapkan biasanya: LCD, laptop, mikrofon, audio recorder, dan dua gelas air minum. Setelah itu, beliau memposisikan diri duduk sejajar dengan para santri ngaji dan mulai mengaji hingga jam sepuluh malam.

Materi disampaikan dengan gaya Pak Faiz yang sebenarnya cukup datar, luwes, dan tidak akan pernah ditemukan ledakan-ledakan intonasi. Hanya akan ada ledakan tawa dari teman-teman ngaji ketika satu dua hal lucu diutarakan di sela-sela ngaji. Kata-kata yang diutarakan terstruktur dan mengalir. Suasana ngaji dibuat senyaman mungkin, teman-teman pun secara sukarela menjaganya. Barangkali itulah yang membuat Masjid Jendral Sudirman selalu ramai setiap Rabu malam, saat sesi Ngaji Filsafat diadakan.

Tentu bukan hanya saya yang ingin kembali merasakan suasana demikian. Belajar filsafat bareng-bareng, menuai hikmah di Ngaji Filsafat ini. Semoga apa yang menjadi prihatin kita belakangan ini, segera mereda. Lantas kemewahan berkumpul di Masjid Jendral Sudirman setiap Rabu malam dapat kita rasakan kembali.

Mengutip kata Pak Faiz, saatnya kita mencerna apa-apa yang sudah didulang di Ngaji Filsafat selama ini. Dan memang, saat ini kita harus mencernanya lebih lama. Hingga suatu saat kita akan mendengar lagi sebuah kalimat yang biasa Pak Faiz sampaikan di awal-awal ngaji, “Bismillah, kita lanjutkan ngaji kita…”. Akhirnya…

Author: Mochammad Solichin

ABOUT THE AUTHOR

Mochammad Solichin

Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS