Agus Muis

Saya tahu-mengenal Ngaji Filsafat sejak tahun pertama ngaji ini digelar, sekitar tahun 2013 akhir, rekaman-rekaman awal dengan tema-tema awal. Perkenalan itu sifatnya tidak sengaja, yakni dari rekaman suara yang diuggah oleh pengurus Masjid Jendral Sudirman, tempat Ngaji Filsafat digelar. Meskipun saya sendiri sudah pernah kuliah sampai jenjang S2, namun baru dari Ngaji Filsafat inilah saya memahami banyak hal yang dulu di bangku kuliah hanya saya hafalkan saja. Bahkan saking sukanya saya dengan Ngaji Filsafat, saya membuat akun Facebook khusus untuk menyimpan dan mengunggah hikmah-hikmah yang saya peroleh dari Ngaji Filsafat.

Apa yang menurut saya paling menarik dari Ngaji itu adalah pengampunya sendiri, yaitu Pak Fahruddin Faiz. Tema-tema yang diangkat, khususnya awal-awal ngaji adalah tema-tema murni filsafat. Mahasiswa yang kuliah filsafat pasti akrab dengan tema-tema tersebut. Apa yang membuat istimewa menurut saya adalah cara penyampaian Pak Faiz sendiri yang santai, kalem, intonasinya cenderung datar, dan lambat. Harusnya dengan gaya seperti itu, apalagi dengan tema filsafat, yang mendengarkan akan merasa bosan dan jemu. Namun entah mengapa, kalau mendengarkan penyampaian Pak Faiz rasanya begitu enak, mengalir, dan nyaman didengarkan.

“Paling tidak saya bisa membuatmu mengantuk, lalu tertidur mendengarkan ngaji ini. Itu saja sudah pahala luar biasa bagi saya”, demikian kata Pak Faiz suatu ketika.

Saat ini Ngaji Filsafat sudah mencapai seri-edisi-tema ke-261, macam-macam tema sudah dibahas, mulai filsafat Barat, filsafat Timur, filsafat Islam, filsafat Jawa, Nusantara, Indonesia bahkan tasawuf. Rekaman ngaji, juga potongan-potongannya, berseliweran di Youtube, Instagram, dan Facebook. Pak Faiz pun mulai banyak dikenal, meskipun beliau sendiri tampak banyak menghindar dari dunia “keterkenalan” itu. Hampir semua rekaman Ngaji beliau disebarkan dalam bentuk audio saja, tanpa gambar dan sosok beliau yang sedang memberi kajian. “Biar kalian terbiasa tidak fokus kepada siapa yang bicara, namun kepada materi atau ilmu yang dibicarakan. Lagi pula biar saya juga tidak capek dandan dan bergaya di depan kamera”, jawab beliau pada suatu wawancara.

Sepanjang mengikuti Ngaji Filsafat selama lebih dari beberapa sesi, saya telah membuat sedikit catatan, khususnya tentang hal-hal yang relevan untuk mengembangkan diri saya. Dari banyak catatan tersebut ada beberapa hal yang menurut saya sering disampaikan oleh Pak Faiz, dan saya merangkumnya dalam 10 hal yang saya sebut sebagai hikmah Ngaji Filsafat.

Hikmah pertama, “Belajar itu tidak ada batasnya, kapan pun, di mana pun, dari siapa pun, tentang apa pun”. Para penikmat Ngaji Filsafat pasti familiar dengan semboyan “Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan setiap waktu adalah belajar” yang sering disampaikan dalam Ngaji Filsafat. Pak Faiz sendiri sering menyampaikan bahwa hakikatnya Ngaji filsafat itu belajar bersama, bukan ceramah, bukan tausiyah, bukan khutbah, bukan pengajian umum. “Posisikan saya sebagai teman belajarmu saja, bukan guru atau ustadmu”, demikian pesan beliau pada kesempatan ngaji. Dulu saat dengan memberanikan diri saya memperkenalkan diri kepada beliau, kalimat pertama yang beliau sampaikan adalah, “Ya, semoga kita bisa saling belajar”.

Hikmah kedua, “Belajar itu wajib, namun paham dan pintar itu bukan kuasa kita”. Di banyak sesi Ngaji Filsafat, Pak Faiz sering berpesan untuk istikamah dan tidak berhenti belajar, tanpa harus merisaukan hasilnya. Tugas umat Islam dan tugas setiap manusia adalah belajar, namun hasil dari belajar itu apa, bukan manusia yang menentukan. Allah yang kuasa menentukan apakah aktivitas belajar itu membuat kita paham dan pandai atau justru menjadi bingung dan tetap ‘bodoh’.

Hikmah ketiga, “Ilmu seperti senjata”. Pak Faiz sering mengibaratkan ilmu sebagai senjata untuk menghadapi kehidupan ini. Semakin banyak kita memiliki ilmu, semakin luas wawasan, semakin banyak koleksi senjata kita untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup yang beragam. “Kalau senjata yang kamu miliki hanya pisau, maka hanya dengan pisau itu engkau akan menyelesaikan macam-macam masalah, bahkan makan nasi pun mungkin engkau akan menggunakan pisau”, demikian tutur Pak Faiz.

Hikmah keempat, “Kebenaran dan kebaikan itu melihat konteks dan situasinya”. Banyak hal yang baik dan benar, namun disampaikan atau dijalankan pada situasi yang tidak tepat, hasilnya bisa kebalikannya, yaitu kesalahan dan keburukan. Pak Faiz sering mencontohkan, “Sabar itu baik, namun kalau ada temanmu malas, jangan dinasihati atau disuruh untuk bersabar, karena itu justru akan merusak dirinya.  Hanya  akan membuatnya tidak bangkit dari kemalasannya”.

Hikmah kelima, “Yang ikut ngaji baik, yang tidak ikut ngaji bukan berarti tidak baik”. Hikmah yang beberapa kali disampaikan Pak Faiz ini ingin mengajarkan bahwa kebaikan hidup itu ragam dan jalannya baik. Kalau ada orang tidak melakukan satu kebaikan seperti yang kita lakukan, bukan berarti ia tidak baik, karena mungkin ia memilih jalan kebaikan yang lain yang berbeda dengan kita dan kita tidak tahu.

Hikmah keenam, “Kebaikan itu harus komplit, mulai bentuk perbuatan, niatnya, caranya, hasil dan efeknya”. Di sini Pak Faiz ingin menakankan bahwa perbuatan baik itu bisa disebut baik harus lengkap semua unsurnya. Kalau ada salah satu unsurnya tidak baik, maka nilai kebaikan itu akan berkurang.

Hikmah ketujuh, “Jangan takut dengan komentar orang saat dalam kebaikan/kebenaran”. Pak Faiz dalam berbagai kesempatan Ngaji Filsafat mendorong setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri, memilih, dan memutuskan kebenaran model hidupnya sendiri. Komentar dan suara dari luar yang tidak relevan sebaiknya tidak terlalu diambil serius.

Hikmah kedelapan, “Dalam hidup ini kita tidak selalu harus memilih antara baik dan buruk, namun lebih sering memilih antara yang baik dan baik”. Bagi Pak Faiz, kalau sekadar memilih antara yang baik dan buruk, lebih mudah melakukannya. Namun yang lebih sulit adalah memilih antara yang baik dan yang baik yang paling sesuai untuk hidup kita. Ada banyak model kebaikan yang berbeda dan beragam bentuknya. Memilih mengaji atau belajar di rumah, memilih membaca buku atau silaturahmi ke rumah teman, semua memiliki kebaikannya masing-masing.

Hikmah kesembilan, “Semakin berisi seseorang, semakin ia merasa tidak tahu apa-apa, dan ini sifatnya otomatis”. Bagi Pak Faiz, secara otomatis saat wawasan kita bertambah akan muncul kesadaran bahwa ternyata selama ini kita tidak tahu dan sekaligus muncul pertanyaan-pertanyaan baru tentang apa yang baru kita tahu tersebut. Akhirnya kita benar-benar merasa tidak tahu apa-apa.

Hikmah kesepuluh, “Semakin luas wawasan itu baik, namun jangan pernah sekalipun merasa sudah menjadi orang baik”. Pak Faiz sering sekali berpesan agar kita tidak bersikap sombong, merasa bisa, merasa mampu, merasa sudah tahu, dan lain sejenisnya. Selain hal tersebut merupakan perilaku yang kurang terpuji, juga mengindikasikan kita akan mandeg, tidak mau belajar lagi, tidak mau meningkatkan diri lagi, dan ini adalah blunder dalam kehidupan kita.

Demikian sedikit catatan yang saya buat tentang beberapa hikmah Ngaji Filsafat. Terima kasih Pak Faiz, terima kasih teman-teman Masjid Jendral Sudirman. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan lindungan dan pertolongan-Nya.

Author: Agus Muis

ABOUT THE AUTHOR

Agus Muis

Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS