Cusdiawan

 Bagi pembelajar-pembelajar studi sosial humaniora, baik itu filsafat, sosiologi, hukum, ilmu politik, kajian budaya, dan sebagainya, nama Jurgen Habermas pastilah bukan nama yang asing, mengingat pengaruh pemikirannya amat luas dan banyak diperbincangkan hingga diperdebatkan dalam diskursus keilmuan sosial humaniora. Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh James Gordon Finlayson dalam Habermas: A Very Short Introduction (Oxford University Press, 2005).

Jurgen Habermas merupakan seorang profesor dalam bidang filsafat dan sosiologi. Filosof kelahiran 18 Juni 1929 ini merupakan tokoh Mazhab Frankfurt (Teori Kritis) generasi kedua.

Adapun yang disebut sebaga generasi pertama (pendahulu) Jurgen Habermas, di antaranya yakni Theodor Adorno dan Max Horkheimer.

Ada satu hal yang menarik dari kisah hidup Habermas. Habermas mempunyai suatu keterbatasan fisik yang menyulitkannya berbicara. Akan tetapi, dari keterbatasan fisik itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa Habermas teramat produktif dalam menulis yang kemudian teramat melambungkan namanya.

Habermas menderita bibir sumbing, namun dari kekurangannya tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa ia lebih memercayai kekuataan sebuah tulisan dan turut mendorongnya untuk banyak menulis.

Keterbatasan fisiknya itu jugalah yang menyebabkan Habermas menyadari saling keterbutuhan antarmanusia yang kemudian turut menginspirasinya dalam merumuskan teori komunikasi intersubjektivitas.

Tentu saja pengalaman Habermas dapat menjadi inspirasi bagi kita bersama, bahwa keterbatasan dapat dijadikan sebagai sumber utama kekuatan dan tidak menjadikan keterbatasan sebagai halangan untuk berkreasi dan sebagainya.

Menurut Thomas McCarthy (akademisi Boston University) dalam artikelnya yang berjudul “Dari Kompetensi Komunikatif Menuju Krisis Legitmasi” yang merupakan prawacana dalam buku Krisis Legitimasi (Qalam, 2004) yang ditulis oleh Jurgen Habermas, dikatakan bahwa Habermas dikenal sebagai sosok yang mempunyai kedalaman dan keluasan pengetahuan teoretis yang mempuni.

Habermas menguasai pemikiran dari Immanuel Kant sampai Parsons, dari teori sistem sampai fenomenologi.

Dari pemaparan di atas, dapat disumpulkan wilayah kajian Habermas begitu luas. Dalam tulisan ini paparan menyangkut pemikiran Habermas seputar hermeneutika. Meski perlu ditegaskan di sini, sebenarnya Habermas bukanlah teoretisi yang memfokuskan bidang kajiannya pada hermeneutika.

Diskursus hermeneutika dalam perspektif Habermas

Berdasarkan catatan Jhon B. Thompson dalam Critical Hermeneutics. A Study in the Thought of Paul Ricoeur and Jurgen Habermas (Cambridge University Press, 2003), tampak jelas bahwa untuk mempelajari pemikiran hermeneutika Jurgen Habermas, kita tidak bisa mengabaikan kritik-kritik yang dilancarkan oleh Habermas kepada Gadamer, salah satu pemikir terkemuka dalam tradisi hermeneutis.

Thompson (2003) menjelaskan, Habermas mengkritik Gadamer yang dianggapnya terlalu fokus pada proses pemahaman dan mengabaikan bahwa pemahaman juga dikendalikan oleh proses-proses kekuasaan.

Menurut Budi Hardiman dalam Seni Memahami Hermeneutik dari Schleimacher sampai Derrida (Kanisius, 2015), dikatakan bahwa Habermas pun berpendapat hermeneutik merupakan hasil dari refleksi dan kesadaran kritis. Sebab itu, hermeneutik semestinya tidak hanya melanjutkan tradisi atau membenarkan otoritas, melainkan juga dapat mengevaluasi mereka. Di sinilah, pendirian hermeneutik Habermas disebut sebagai hermeneutik kritis.

Lebih lanjut, Hardiman menjelaskan, bahwa Habermas sendiri memahami bahasa bukanlah sesuatu yang netral, karena bahasa juga dapat dipakai untuk membenarkan hubungan-hubungan kekuasaan. Hermeneutik sebagai pemakaian bahasa, sebagaimana dijelaskan oleh Gadamer, dianggap Habermas hanyalah momen dari proses-proses sosial yang terkait dengan kekuasaan terorganisasi.

Pemikiran Habermas tersebut tentu menarik ketika ditempatkan dalam konteks suatu kehidupan politk dan dapat membuat kita berpikir kritis dalam menyikapi wacana-wacana publik yang tengah berkembang.

Dengan kalimat lain, wacana-wacana yang mendominasi dalam ruang publik perlu kita periksa ulang, sebab memungkinkan terjadi adanya distorsi, pembelokan makna, dan kesemua itu berkaitan dengan suatu relasi kuasa. Artinya, kita tidak serta merta menganggap wacana yang mendominasi ruang publik sebagai suatu kebenaran.

Dalam artikel bab “An Alternative Way out of the Philosophy of the Subject”  yang terdapat dalam buku From Modernsm to Postmodernism (Blackwell, 1996) yang dieditori oleh Lawrence Cahoore, Habermas menegaskan apa yang disebutnya sebagai “refleksi diri”.

Habermas menulis bahwa refleksi terdiri atas “rational reconstruction and methodologically carried out self crittique. Menurut Hardiman dalam buku Menuju Masyarakat Komunikatif (Kanisius, 1994), Habermas dalam merumuskan pemikirannya tersebut terpengaruh oleh gagasan psikoanalisis Freud.

Sebagai catatan, Habermas memanfaatkan psikonalaisis sebagai bentuk kritknya juga atas klaim universalitas hermeneutik—dan juga bagian dari polemiknya dengan Gadamer. Dalam “The Hermeneutics Claim to Universality” (1980), Habermas menulis, “The psychoanalyst has a pre conception of the undistored everyday communications, he traces the systemic distortion of communication, (and the last) he explains the emergence of deformations with the aid of the theory of deviant processes of socialization”.

Salah satu proyek dalam tradisi hermeneutik Habermas, yakni upayanya untuk menemukan faktor yang menyebabkan terjadinya distorsi dalam pemahaman. Proyek tersebut turut menjadi pembuka bagi Habermas untuk menjalankan proyek selanjutnya, yakni mewujudkan masyarakat yang komunikatif, meneguhkan apa yang disebut sebagai kesalingpengertian instersubjektivitas.

Dalam karyanya Knowlwdge and Human Interest (Beacon Press, 1971), Habermas mengatakan, “As the art of rendering indirect communications understandable, hermeneutic correspondence exactly to distance that subject must maintain and yet at the same time express between itself, as the identity of its structure in life history”.

Berdasarkan pemaparan di atas, tampak jelas bagaimana pemikiran hermeneutis Habermas dapat menemukan relevansinya dalam konteks kehidupan demokrasi.

Pemikiran Habermas dapat menginspirasi untuk membongkar distorsi-distorsi atas pemahaman, termasuk pemahaman yang berkembang dalam ruang publik politik, kemudian mendorong untuk melakukan proses komunikasi guna menghasilkan kesalingpengertian. Terlebih lagi, di tengah realitas sosial-budaya yang majemuk, proyek Habermas tentu perlu untuk diketengahkan.

Hardiman berpendapat, bahwa upaya intelektual Habermas bertujuan untuk mendorong proses saling memahami di dalam masyarakat modern yang demokratis dan pluralistis. Hermeneutik Habermas diarahkan oleh kepentingan kognitif praktis untuk saling memahami di dalam sebuah proses komunikasi. 

Author: Cusdiawan

ABOUT THE AUTHOR

Cusdiawan

Mahasiswa Program Magister Ilmu Politik Universitas Padjadjaran


COMMENTS