Berpikir merupakan kegiatan mental tubuh manusia yang kemudian melibatkan kinerja otak (Sobur, 2003). Hampir setiap kegiatan manusia tidak lepas dari berpikir. Meskipun manusia juga memiliki reflek yang dapat bekerja otomatis di dalam tubuh seperti bernapas dan lainnya.

Berpikir dapat diawali dari adanya pertanyaan, sebuah keraguan, dan sesuatu yang baru sehingga membuat keinginan untuk mencari jawaban dari apa yang dilihat atau dirasa oleh indra.

Otak manusia, menurut Linda O’riordan dalam buku The Art of Sufi Healing (2002) adalah komputer biokima tubuh yang dapat digunakan untuk penyembuhan mental. Dilihat dari segi biologis, otak menjadi pemimpin di dalam tubuh yang menjalankan bagian-bagian yang lain.

Sementara pikiran, emosi, dan tubuh saling berhubungan satu sama lain. Berpikir dalam alur filsafat mesti bersifat radix yaitu menggali sedalam mungkin akar atau hakikat terdalam. Secara psikologi, berpikir akan berusaha secara mental guna memahami apa yang terjadi kemudian mencari jalan keluarnya.

Berbeda dalam cara berpikir terjadi pada manusia ketika masih anak-anak dengan dewasa dikemudian harinya. Menurut Piaget perbedaan berpikir anak-anak dengan orang dewasa tidak berkaitan dengan persoalan mengenai banyak atau sedikitnya pengetahuan, akan tetapi pada pengetahuan mereka yang berbeda jenis (Sobur, 2003).

Pikiran ibarat mesin yang memproduksi cairan-cairan kimia untuk menyeting diri akan atau ingin menjalani kegiatan dengan kondisi seperti apa. Meski masih ada hal yang lain kemudian yang mempengaruhi kondisi individu dalam menjalani kehidupan, tinggal lebih besar yang mana pengaruhnya bagi individu tersebut.

Seorang psikolog Amerika, Albert Ellis (1913-2007), mengembangkan psikoterapi yang menitikberatkan pada pikiran. Rasional emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellis ini menjadi psikoterapi yang memiliki dasar asumsi bahwa manusia lahir memiliki potensi berpikir rasional dan irasional. Bahwa, setiap manusia memiliki kecenderungan antara baik untuk dirinya seperti berbahagia, mencintai, dan mengaktualkan diri, dan jahat seperti penyesalan tak berkesudahan, menghancurkan diri, dan mencela diri (Corey, 2005).

Psikoterapi yang dikembangkan oleh psikolog yang terpandang di Amerika bahkan di dunia setelah Carl Rogers dan Sigmund Freud ini dibuatnya dengan dasar bahwa ada beberapa jenis pikiran yang secara keliru diterapkan oleh kebanyakan orang. Jenis pikiran yang keliru tersebut, yakni melalaikan hal-hal yang positif, terfokus pada yang negatif, serta cepat-mudah menggeneralisasi (Boerre, 2008; 174).

Menyelami pikiran untuk menciptakan psikoterapi dari Albert Ellis menggunakan urutan format ABC agar penjelasan mudah untuk dimengerti.

Albert Ellis menggambarkan ketika individu memiliki goals atau tujuan, maka akan berhadapan dengan A (Activating Event or Adversities). A yakni kejadian yang mengaktifkan atau kesulitan di mana akan menyembunyikan bahkan memberi penghalang pada goals atau tujuan. Contoh menginginkan sukses di tempat kerja, menjadi juara di cabang olah raga, atau keberhasilan hubungan dengan kekasih akan tetapi faktanya malah mengalami kegagalan (Ellis, 2001).

B (Beliefs) adalah keyakinan, terutama (irrational beliefs) keyakinan irasional pada kegagalan. Contoh tidak menerima apa yang sudah terjadi, karena itu adalah sesuatu yang mengerikan jika gagal. Sedangkan C (Consequences) yaitu sesuatu atau perasaan yang ikut pada kesulitan dan keyakinan irasional tadi. Contoh kondisi depresi, perasaan gelisah, dan sikap menarik diri.

C cepat muncul setelah mengalami A. Posisi A adalah sesuatu yang berlawanan dengan keinginan atau tujuan. Ketika hal itu terjadi maka poin C atau perasaan gelisah, kecewa, dan lain-lain terjadi dalam artian perasaan menjadi negatif. Perasaan tersebut sebenarnya wajar dan sehat jika itu diterima kemudian tidak larut berlebihan.

Seseorang dapat memilih consequences perasaan sehat atau tidak sehat, memilih bersikap menolong atau mengalah. Kemudian beliefs yaitu sistem keyakinan yang luas, termasuk 1) kesukaan, harapan dan keinginan, dan 2) tuntutan, perintah, dan keharusan. Koneksi beliefs (keyakinan) ke consequences penting untuk mengontrol activating event or adversities (sesuatu yang berlawanan dengan tujuan).

Perlu berhati-hati dengan keyakinan (B) yang menuntut dan memerintah. Bila kondisi A terjadi, maka B menuntut dan memerintah dapat dirubah pada B harapan dan kesukaan. Keyakinan yang berupa harapan dan kesukaan akan menghasilkan kondisi perasaan agak sedih dan kecewa.

Perasaan demikian wajar dan sehat maka terima sebagai kewajaran yang terjadi. Sekalipun perasaan tersebut terbilang negatif, tetapi dapat memotivasi untuk terus mencoba meraih apa yang diinginkan. 

Perasaan yang demikian itu juga dapat membuat dan mendorong diri untuk mengubah A (sesuatu yang berlawanan dengan tujuan) yang kurang menguntungkan kemudian diubah menjadi keuntungan, yakni kepasrahan dan membina hubungan yang baru.

Meskipun perasaan negatif menghampiri, tetapi perasaan yang negatif dapat menguntungkan dan secara sehat dapat menciptakan motivasi dan harapan untuk tetap melangkah (Ellis, 2001). Kondisi yang demikian disebut juga dengan rekonstruksi kognitif, yaitu mengubah pikiran irasional menjadi rasional.

Demikian gambaran penjelasan singkat terapi yang dikembangkan oleh Albert Ellis dalam REBT (Rational Emotive Behavior Therapy). Menyelami lebih dalam tentang apa yang telah Albert Ellis cetuskan, setidaknya dapat memberi penjelasan kepada diri secara dalam dan menemukan apa yang terjadi di pikiran dan diri sendiri.

REBT adalah multimodal dan pluralistik, telah sukses digunakan oleh sebagian individu untuk mengatasi gangguan yang ternasuk gangguan psikotik dan gangguan kepribadian. Meskipun tidak sepenuhnya REBT mengobati, tetapi dengan REBT membantu individu yang mengalami gangguan keadaan diri yang negarif untuk menuju dan menjalani hidup ke yang lebih produktif dan bahagia (Ellis, 2001).

Referensi:

Boeree, C. George. 2008. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie.

Corey, Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Eresco.

Ellis, Albert. 2001. How to Make Yourself Happy and Remarkably Less Disturbable. Jakarta: Grasindo.

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Author: Fian Riskyan Surya Pambuka

ABOUT THE AUTHOR

Fian Riskyan Surya Pambuka

Mahasiswa Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Surakarta


COMMENTS