Syihab al-Din ibn Habasy ibn Amirak ibn Abu al-Futuh al-Suhrawardi lahir pada 1154 di Suhraward, sebuah daerah di bagian barat laut Iran. Mula-mula ia belajar filsafat dan teologi di Maraghah dari Majd al-Din al-Jili, yang juga guru dari Fakhruddin al-Razi, kemudian berpindah ke Isfahan untuk belajar dari Fakhruddin al-Mardini. Suhrawardi tinggal selama beberapa tahun di bagian barat daya Anatolia, mengabdi kepada para penguasa dan pangeran Saljuk, sebelum berpindah ke Aleppo pada 1183.

Sewaktu di Aleppo, Suhrawardi mengajar dan menjadi sahabat Sultan al-Malik al-Zhahir al-Ghazi (putra Shalahuddin al-Ayubi). Namun, karena dituduh oleh ulama “ortodoks” keagamaan sebagai telah menyelewengkan agama, di samping mungkin juga karena persaingan dan situasi politik, akhir Suhrawardi dieksekusi pada 1191. Karena cara kematiannya ini, Suhrawardi dikenal dengan sebutan “al-Maqtul” (yang terbunuh) atau “al-Syahid” (sang martir).

Isyraqiyyah Suhrawardi merupakan aliran yang mengandalkan perolehan pengetahuan melalui suatu pencerahan spiritual, dan bukan melalui rasionalisasi (pemikiran rasional). Wujud, dalam aliran ini, identik dengan cahaya. Sumber segala cahaya adalah Tuhan. Maujud-maujud meminjam wujud mereka dari cahaya Tuhan. Makin tinggi tingkatan sebuah maujud, makin tinggi pula intensitas cahayanya, dan sebaliknya. Ketinggian itu sekaligus menunjukkan kedekatan entitas tersebut kepada Tuhan. Makin dekat kepada Tuhan, Sang Sumber Cahaya, maka makin banyak cahaya yang diserap, dan makin besar peluang bagi pencerahan spiritual.

Pemikiran tentang iluminasi ilahi (isyraqiyyah) dalam pikiran—yang merupakan inti aliran iluminisme—telah berkembang dalam sejarah, baik dalam konteks filosofis maupun keagamaan. Aliran ini dipercaya dan dimulai oleh Plato, meskipun deskripsi yang lebih akurat menunjukkan bahwa aliran iluminasi sesungguhnya telah lahir jauh lebih dini dari itu, yakni dalam masa-masa Sokratik dan Pra-Sokratik.

Para filosof isyraqiyyah berbicara tentang suatu kilatan mendadak pemahaman atau ilham dalam pikiran. Selama periode Hellenistik dan Romawi, aliran ini terserap dan terhubungkan dalam pikiran Kristiani dan Yahudi. Dalam sejarah filsafat Islam, perkembangannya mencapai puncak dan bentuk khasnya dalam isyraqiyyah Suhrawardi.

Nilai penting pemikiran isyraqiyyah Suhrawardi pada masa modern dibuktikan oleh kenyataan bahwa sejak awal abad ke-20, para orientalis dan sejarawan filsafat telah mengenali Suhrawardi sebagai seorang tokoh penting dalam filsafat Islam pasca Ibn Sina. Pemikiran Suhrawardi dipengaruhi oleh beberapa aliran dalam pemikiran Islam, yakni Tasawuf (khususnya sebagaimana yang diungkapkan al-Ghazali dan al-Hallaj), Peripatetisme (khususnya pemikiran Ibn Sina), Neo-Platonisme dan Pythagoreanisme (paham filsafat Yunani yang bersifat mistis), Hermetisme (pemikiran yang biasa disandarkan kepada naskah-naskah Corpus Hermeticus yang dikembangkan oleh Hermes), dan kepercayaan Zoroasterian Persia.

Dalam hal isinya, Suhrawardi mengatakan bahwa prinsip filsafat isyraqiyyah adalah mendapat kebenaran lewat pengalaman intuitif, kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis (rasional). Artinya, prinsip dasar pemikiran isyraqiyyah yakni sama halnya dengan mendapat suatu pengalaman, suatu intuisi langsung atas apa yang diketahui. Hanya setelah diraih secara total, intuitif, dan langsung, pengetahuan ini dianalisis secara diskursif-demonstrasional.

Dalam memperoleh pengetahuan ala Suhrawardi, yakni keharusan menghadirkan subjek dan objek pengetahuan didasarkan pada uraiannya tentang cahaya dan hierarkinya. Bagi Suhrawardi, pengetahuan bukanlah sekadar teori yang diyakini, melainkan perpindahan ruhani secara praktis dari alam kegelapan yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan merupakan sesuatu yang mustahil, ke cahaya yang bersifat akali yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama. Karena itu, menurut mazhab isyraqi, pengetahuan diperoleh melalui penyinaran langsung dari subtansi cahaya atau nur al-anwar.

Sederhananya syarat tercapainya pengetahuan, menurut Suhrawardi, ada tiga. Pertama, ada cahaya. Kedua, tidak ada penghalang (hijab); dengan cara membersihkan daya-daya yang bersifat “gelap” atau mengaburkan visi yang sejati: sifat-sifat kebinatangan, nafsu dan syahwat, ego, bahkan imajinasi “keakuan” sebagai sesuatu yang eksis tersendiri, harus dienyahkan. Ketiga, ada aktivitas penerangan (isyraq).

Sehubungan dengan itu, terdapat tahap-tahap yang harus dilakukan oleh setiap orang dalam proses mendapatkan isyraqiyyah atau pencerahan.

Tahap pertama, seseorang harus melepaskan dirinya dari kecenderungan duniawi untuk menerima pengalaman Ilahi. Menurut Suhrawardi, sesungguhnya dalam diri setiap orang terdapat yang disebut sebagai kilatan Ilahi. Kilatan Ilahi inilah yang akan diaktifkan dengan membebaskannya dari perangkap jasmani. Tahap ini ditandai oleh periode pengasingan diri selama 40 hari. Setelah itu, tahap selanjutnya, seseorang akan memasuki tahap iluminasi yang di dalamnya ia mendapatkan pengelihatan akan sinar ketuhanan serta mendapatkan apa yang disebut cahaya ilham. Tahap yang berikutnya, yakni tahap pembangunan pengetahuan yang utuh, didasarkan atas logika diskursif.

Sama seperti filsafat emanasi dalam peripatesisme yang mendahuluinya, dalam isyraqiyyah wujud mempunyai tingkatan, dari yang teratas sampai yang terbawah. Hanya saja, apabila dalam filsafat emanasi setiap tingkatan diidentikkan dengan intelek, maka dalam filsafat isyraqiyyah diidentikkan dengan nur (cahaya).

Penggunaan cahaya untuk mengidentifikasi wujud ini memiliki sedikitnya dua kelebihan. Pertama, adanya cahaya tidak pernah dapat dipisahkan dari sumber cahayanya. Tidak mungkin terdapat sumber cahaya tanpa adanya cahaya. Begitu pun sebaliknya. Hal ini lebih tegas lagi menggambarkan kaitan alam semesta dan tuhan.

Kedua, yakni konsep cahaya lebih memungkinkan penggambaran konsep kedekatan dan kejauhan. Dalam pemahaman tentang tingkatan wujud, semakin dekat dengan sumber cahaya, maka intensitas cahaya suatu tingkatan wujud akan lebih banyak, semakin jauh dari sumber cahaya, maka akan lebih sedikit intensitas cahaya yang diterimanya.

Wujud yang lebih dekat kepada Tuhan sebagai sumber cahaya akan lebih banyak menerima pancaran dari-Nya, sementara yang jauh dari-Nya semakin lemah intensitas cahayanya dan demikian makin rendah tingkatannya dalam hierarki kemaujudan.

Dianalogikan juga oleh Suhrawardi seperti halnya cermin. Ketika cermin dihadapkan kepada matahari maka sinar matahari akan diserap oleh cermin itu dan dipantulkannya kembali. Andaikan cermin mampu melihat ke dalam dirinya, ia akan terkejut dan mengira bahwa dirinya-lah matahari itu karena betapa kuatnya cahaya mentari tersebut.

Manusia dalam cerita Suhrawardi digambarkan sebagai cermin sedangkan Allah diumpamakan sebagai matahari. Ketika manusia mampu mensucikan dirinya dan membersihkannya sedemikian rupa, maka ia layak diserupakan dengan cermin. Ketika ia menjumpai “tanda-tanda kekuasaan Ilahi”, ia menerima cahaya Ilahi yang dipancarkan sedemikian kuatnya ke dalam dirinya. Ia serap cahaya Ilahi itu lalu ia pantulkan kembali.

Nabi Muhammad adalah contoh terbaik dari perumpamaan di atas. Cahaya Ilahi yang diserap Nabi dipantulkannya ke seluruh alam semesta. Oleh karena itu, kehadiran Nabi Muhammad mampu menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Referensi:

Bagir, Haidar, 2017, Epistemologi Tasawuf, Bandung: Mizan.

Soleh, Khudori, 2012, Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ngaji Filsafat 56: Suhrawardi Al Maqtul, edisi Filsafat Islam (Tradisi Illuminasi), bersama Fahruddin Faiz di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, 12 November 2014.

Author: Hawa’ Hidayatul Hikmiyah

ABOUT THE AUTHOR

Hawa’ Hidayatul Hikmiyah

Mahasiswi Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Penggerak Gusdurian Surabaya


COMMENTS