Edward Burnett Tylor adalah seorang antropolog otodidak berasal dari Inggris yang tidak pernah mendapatkan pendidikan universitas. Namun, dalam petualangan dan studi independennya kemudian ia mencetuskan teori animisme. Sebuah teori yang dipercayainya sebagai kunci untuk memahami asal-usul agama.

Tylor dilahirkan pada 1832 dalam keluarga Quakers yang makmur. Quakers adalah kelompok Protestan yang ekstrim di Inggris. Mereka dahulu dikenal hanya memakai pakaian sederhana dan jauh dari tren mode.

Mereka hidup dengan mengikuti tuntunan hati nurani dari dalam diri. Namun, pada 1800-an kelompok ini kemudian meninggalkan kebiasaannya itu dan mulai mendapat respek sosial, dan kemudian pandangan mereka pun cenderung bergeser pada hal-hal yang liberal.

Perspektif ini dapat kita lihat dari beberapa karya Tylor yang kebanyakan berani menentang bentuk kepercayaan dan praktik peribadatan Kristen tradisional, khususnya Katolik Roma (Murray, 1871). Kedua orang tua Tylor meninggal ketika ia masih muda, hingga akhirnya ia mempersiapkan diri untuk membantu mengurus bisnis keluarga. Tak lama berselang, Tylor mengetahui dirinya telah mengidap tanda-tanda penyakit tuberkolusa.

Karena itu, Tylor kemudian disarankan untuk bermukim di daerah beriklim panas. Kemudian ia memilih wilayah Amerika Tengah dan berangkat ke sana pada usianya yang ke-23 tahun tepatnya pada 1855.

Pengalamannya di Amerika ini kemudian menumbuhkan minatnya terhadap kajian kebudayaan asing. Dalam perjalanannya, Tylor selalu mencatat setiap kebudayaan dan kepercayaan yang ditemui.

Karena kegigihannya berkarya, pada 1884 Tylor diminta Oxford untuk menjadi tenaga pengajar utama dalam dalam bidang antropologi, sebuah program studi baru di Oxford saat itu. Tak lama berselang akhirnya Tylor menjadi profesor pertama di bidang antropologi dan menikmati karier panjangnya hingga masa Perang Dunia I. Tylor menghembuskan napas terakhir pada 2 Januari 1917.

Kenangan karyanya yang paling fenomenal adalah buku berjudul Primitive Culture (1817), yang terdiri dari dua jilid besar. Buku inilah yang juga menjadi karya puncaknya dan merupakan salah satu acuan utama dalam setiap studi tentang peradaban manusia.

Buku Primitive Culture pertama kali dipublikasikan kepada masyarakat Inggris Victorian pada saat kaum agamawan sedang menghadapi tantangan-tantangan yang dapat merusak keyakinan mereka.

Orang-orang sebelum Tylor dan beberapa yang seangkatan dengannya masih memegang keyakinan tradisional bahwa asal-usul agama, paling tidak untuk Kristen, harus dipahami sebagai sesuatu yang selalu berkarakter menakjubkan, sebab agama Kristen berasal dari wahyu Tuhan dan terwujud dalam tradisi gereja.

Menurut Tylor, hubungan antara basis-rasional pemikiran dengan evolusi sosial dapati dilihat dari setiap aspek kebudayaan manusia, asalkan kita mau sedikit meluangkan waktu untuk mengamatinya dengan dekat. Tylor mencontohkan penggunaan magis, yang dapat kita temukan hampir dalam setiap masyarakat primitif. Magis didasarkan pada gabungan ide-ide, satu kecenderungan “yang terletak di dasar rasio manusia” (Tylor, 1817).

Jika seseorang dalam pemikirannya mengaitkan satu ide dengan ide lain, maka logika akan menuntun mereka untuk menyimpulkan bahwa hubungan yang sama juga terdapat dalam realitas di luar pikiran. Masyarakat primitif yakin bisa mengobati atau menyakiti orang dari jarak jauh hanya dengan menjentikkan jari atau menggunakan sehelai rambut, sepotong kain atau benda-benda lain yang melekat pada tubuh orang yang dituju.

Tylor juga menemukan pola rasionalitas yang sama dalam dua kemampuan yang sangat mendasar dan signifikan, yakni pengembangan bahasa dan matematika. Dalam kedua hal ini, prosesnya berawal dari cara yang cukup sederhana, dengan kata-kata yang ditiru dari suara-suara alam dan sistem hitungan jemari tangan dan kaki. Kemudian selama berabad-abad, konsep-konsep seperti ini perlahan berkembang.

Bahkan mitos sekalipun, yang selama ini dianggap sebagai gudangnya ide-ide irrasional dan cerita-cerita komikal, pada dasarnya berkembang dalam pola yang sama dengan pemikiran rasional tadi. Mitos lahir dari kecenderungan alamiah untuk “menyelubungi setiap ide dengan pakaian konkrit”. Baik mitos yang lahir dalam kebudayaan primitif maupun zaman modern, sama-sama mengikuti hukum perkembangan (law of development) (Tylor, 1817).

Uraian Tylor mengenai mitos sangat penting, sebab mitos-mitos tersebut telah membentangkan jalan yang harus ditempuh dalam menyelidiki asul-usul agama. Dan tentu saja, kata Tylor, kita tidak akan bisa menjelaskan sesuatu tanpa mengetahui apa sebenarnya hakikat sesuatu tersebut, sehingga pertama-tama kita harus mendefinisikan agama terlebih dahulu.

Lebih lanjut Tylor mengungkapkan bahwa kita juga tidak bisa begitu saja mengikuti keyakinan pribadi yang natural untuk mendefinisikan agama hanya sebatas percaya kepada Tuhan, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh penulis-penulis Kristen.

Tylor kemudian mengusulkan definisinya sendiri, yakni agama sebagai “Keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual” (Tylor, 1817). Definisi ini menurut Tylor dapat diterima dan memiliki kelebihan tersendiri, sebab sederhana, gamblang, dan memiliki cakupan yang luas. Meskipun kita dapat menemukan kemiripan-kemiripan lain dalam setiap agama, namun satu-satunya karakteristik yang dimiliki setiap agama, besar maupun kecil, agama purba atau modern, adalah keyakinan terhadap roh-roh yang berpikir, berperilaku, dan berperasaan seperti manusia.

Esensi setiap agama, seperti juga mitologi, adalah animisme (berasal dari bahasa Latin, anima, yang berarti roh), yakni kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada di balik segala sesuatu.

Animisme adalah bentuk pemikiran paling tua yang dapat ditemukan dalam setiap sejarah umat manusia. Karena itu, Tylor berpandangan bahwa jika kita ingin menjelaskan agama, pertanyaan pertama yang mesti kita jawab adalah, “Bagaimana dan kenapa awal mulanya manusia mulai mempercayai keberadaan sesuatu sebagai sebuah roh?”

Pertanyaan ini terkesan sederhana, namun jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Orang-orang saleh akan mengatakan bahwa mereka percaya kepada kekuatan spiritual, yakni Tuhan. Sebab kepercayaan itu diwahyukan kepada mereka secara supranatural melalui Injil, Al-Qur’an, atau kitab suci lainnya. Bagi Tylor jawaban seperti itu tidak bisa diterima. Hal itu lantaran sebuah pengakuan secara pribadi dan tidak bersifat ilmiah.

Lebih lanjut Tylor menegaskan bahwa penjelasan kenapa umat manusia meyakini kekuatan spiritual mesti dicari dalam sebab-sebab alamiah. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk menyamakan dengan hal-hal yang dicari oleh saintis dan sejarawan dalam menegaskan peristiwa-peristiwa non-religius.

Kita mau tidak mau harus berasumsi bahwa masyarakat kuno pertama kali memperoleh ide tentang agama dengan mekanisme penalaran yang sama dengan penalaran yang mereka terapkan dalam aspek kehidupan lain.

Melalui alam, penalaran masyarakat primitif yang menurut Tylor masih “kekanak-kanakan” kemudian menemukan bentuk kepercayaan religiusnya yang pertama. Seperti mitos-mitos mereka, pengajaran agama muncul dari usaha rasional untuk menjelaskan cara kerja alam. Dan dari perspektif ini, semuanya sudah jelas, bahwa sebagaimana roh menggerakkan seorang manusia, maka spirit pun telah menggerakkan alam semesta.

Author: A. Fikri Amiruddin Ihsani

ABOUT THE AUTHOR

A. Fikri Amiruddin Ihsani

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Gusdurian Surabaya


COMMENTS