Pandemi Covid-19 menjelma bak superstar dadakan dalam hitungan bulan semenjak kali pertama ‘bersinar’ di Wuhan, China. Popularitasnya membuat setiap orang ingin membicarakannya. Tak pelak, kondisi pandemi memicu beberapa penyair untuk mengungkapkan sudut pandangnya lewat ide kreatif, salah satunya penyair dari ujung timur Pulau Garam, D. Zawawi Imron lewat puisinya yang berjudul Tiarap. Zawawi menyebut Corona sebagai kebesaran Tuhan pada bagian pembuka puisi. Selanjutnya, Zawawi mengimplisitkannya dengan gaya displacing of meaning dan creating of meaning.

Pencipta puisi tidak dapat disanksi, sebab maknanya tersembunyi

Satu di antara kelebihan sastra adalah kebebasan bagi pengguna dan penciptanya. Kebebasan sastra diperoleh karena aspek dulce—istilah yang digunakan Horace dalam Wellek dan Werrem—di dalamnya. Keindahan sastra lewat diksi, gaya bahasa, persajakan, tipografi, dan lain-lainnya membuat sastra ‘bebas’ dari tuduhan; karena maknanya tidak terikat, implisit, bahkan cenderung abstrak. Penilaian dari orang yang berbeda akan menimbulkan hasil yang berbeda pula. Beruntunglah mereka yang mahir mencipta puisi, sebab mereka tak dapat disanksi atas sebuah puisi yang maknanya tersembunyi.

Michael Riffaterre dalam karyanya yang berjudul Semiotics of Poetry menyebutkan bahwa salah satu sifat puisi—yang oleh Riffaterre sendiri disebut dengan istilah poetry—adalah memiliki ekspresi yang tidak langsung. Maksud dari ekspresi tidak langsung yaitu mengungkapkan suatu hal dengan arti yang lain atau bahasa sederhananya artinya tersembunyi. Ketersembunyian itu dapat dilakukan dengan tiga cara, yakni 1) displacing of meaning (penggantian makna), 2) distorting of meaning (pembelokan makna), dan 3) creating of meaning (penciptaan makna). Di antara tiga gaya ini, gaya displacing dan creating of meaning yang akan diulas dalam puisi Tiarap karya D. Zawawi Imron karena dua gaya ini yang paling mencolok dalam puisi tersebut.

Penggantian makna lewat analogi belalang vs elang dan petualang vs pahlawan

Puisi Tiarap karya D. Zawawi Imron diawali dengan bukti kebesaran Tuhan dalam membuat seluruh jenis manusia tidak bisa berbuat apa-apa kala diserang virus yang bernama Corona. Zawawi seperti ingin menyadarkan manusia bahwa mereka selama ini telah terlalu merasa hebat, hingga lupa bahwa kelak mereka akan sekarat. Manusia selama ini terlalu merasa jumawa, hingga abai bahwa segala yang diadakan pasti akan tiada. Mereka selama ini terlalu merasa besar, hingga mereka tidak sadar bahwa yang ‘benar-benar besar’ tidak akan pernah merasa gusar. Berikut kutipan puisinya,

Ketika Allah menunjukkan kebesaran-Nya

Dengan sebutir corona

Yang menyerang tak pilih bulu, tak pilih pejabat atau orang melarat

Tak pilih profesor atau gelandangan yang kotor

Maka dunia menjadi gempar

Semua suara menjadi kira-kira

Tampak jelas diksi yang disampaikan Zawawi, tetapi ungkapan selanjutnyalah yang terkesan disembunyikan. Ada pergantian makna pada ungkapan selanjutnya dengan bentuk perumpamaan “belalang” vs “elang”. Berikut kutipannya,

Otak dan pikiran yang selama ini cemerlang

Merasa cuma belalang // Tak berani mengaku elang

Zawawi lebih memilih penggantian makna ‘daripada’ berterus terang seperti ungkapan sebelumnya. Zawawi memutuskan mengibaratkan ‘belalang’ melawan ‘elang’ yang jika diadu atau dikomparasi ihwal spesifikasi kekuatan dua makhluk tersebut, jawabannya sudah diketahui tanpa perlu diuji. Artinya, manusia selama ini ternyata salah sangka. Corona ternyata telah berhasil mengoyak ‘topeng’ yang menyelubungi wujud asli manusia selama ini, lalu ia—Corona—berkata, “Ini loh wujud aslimu. Hanya belalang, tak ada elang-elangnya sama sekali!”.

Tak hanya perumpamaan “belalang” vs “elang”, Zawawi juga membuat analogi unik lainnya, yakni “petualang” vs “pahlawan”. Zawawi berharap kehadiran Corona mampu menyadarkan siapa pun yang mengaku pahlawan bahwa mereka hanyalah seorang petualang. Berikut kutipan puisinya,

Sesudah ini semoga tak ada lagi

Belalang yang mengaku elang

Dengan beriman kepada Allah

Tak kan muncul petualang yang mengaku pahlawan

Diferensiasi “petualang” dan “pahlawan” dapat dilihat dari fungsi dan kemampuannya masing-masing. Jika manusia mengaku sebagai “pahlawan”, maka mereka berfungsi sebagai pelindung kaum-kaum yang lemah, pejuang terdepan demi melindungi rakyatnya, dan petarung sejati yang siap mempertaruhkan nyawanya. Lalu, kenyataannya? Berapa banyak manusia yang siap melindungi kawan-kawannya yang sedang tidak berdaya karena tidak ada biaya, kehilangan lapangan kerja, bahkan kehilangan rasa percaya? Berapa banyak manusia yang berebut menjadi orang pertama yang mengorbankan waktu beserta kebahagiannya demi menjaga kehidupan ribuan manusia? Berapa banyak manusia yang siap kehilangan nyawanya sendiri asalkan lebih banyak nyawa yang tetap berdiri? Jika jawabannya ‘hanya sedikit’, maka tidak salah jika Zawawi menyebut manusia sebagai seorang “petualang”; seseorang yang tidak tahu jalan pulang, hingga tiba-tiba ia hilang.

Penciptaan makna lewat persamaan bunyi akhir suku kata sebagai penegas dan pengingat

Penciptaan makna didefinisakan oleh Riffaterre sebagai pengaturan ruang teks untuk menciptakan sebuah makna. Secara linguistis, ‘ruang teks’—seperti pola sajak, tipografi, dan sejenisnya—memang tidak ada artinya, tetapi secara ekspresi puisi, tentu saja memiliki maksud yang tersembunyi. ‘Ruang teks’ yang diciptakan oleh Zawawi untuk mengungkapkan sebuah makna adalah persamaan bunyi akhir suku kata yang bertujuan untuk menegaskan dan mengingatkan. Berikut beberapa kutipan dalam puisi Tiarap yang merefleksikan creating of meaning,

  1. Yang menyerang tak pilih bulu, tak pilih pejabat atau orang melarat
  2. Tak pilih profesor atau gelandangan yang kotor
  3. Merasa cuma belalang tak berani mengaku elang
  4. Tokoh-tokoh dunia yang kemarin congkak dan gagah kelihatan murung dan tidak berdarah
  5. Yang kemarin bicara berkobar-kobar sekarang suaranya hambar
  6. Orang-orang besar dunia tampak seakan kerdil, semua menjadi kecil, Bumi ini kecil, Bintang, bulan, dan matahari kecil, Alam semesta ini kecil

Dari kutipan-kutipan ini dapat dipahami bahwa Zawawi ingin menegaskan ihwal pejabat dan orang melarat atau profesor dan gelandangan yang kotor, sama-sama kecil saat dibandingkan dengan kebesaran Allah. Jika Corona mampu memberikan kesadaran kepada menusia tentang kelalaiannya menyadari bahwa dirinya kecil dan Yang Maha Besar adalah Allah, maka bukankah Corona adalah sebuah hidayah untuk umat manusia? Agaknya inilah maksud puisi Tiarap karya D. Zawawi Imron.

Author: Akhmad Idris

ABOUT THE AUTHOR

Akhmad Idris

“Menulis adalah mengukir nama di dunia yang sudah lama fana”. Penulis buku Wasiat Nabi Khidir Untuk Rakyat Indonesia (2020)


COMMENTS